Friday, 19 June, 2026

Ke Makam KH Hasyim Asy’ari dan Gus Dur pada Malam Ke-23 Ramadan

Rombongan dari berbagai daerah ramai bertawasul ke makam KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdurrahman Wahid pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan. Beribadah sekaligus jalan-jalan.

I’IED RAHMAT RIFANDI, Jombang

MALAM sudah hampir tengah malam. Jalan-jalan protokol Jombang telah lama lengang di malam ke-23 Ramadan Kamis (13/4) lalu. Namun, tidak demikian di salah satu desa, delapan kilometer ke selatan dari alun-alun kabupaten di Jawa Timur itu: Diwek.

Di sana, berbagai jenis mobil terparkir berjajar di pinggiran jalan depan Pesantren Tebuireng. Kendaraan-kendaraan itu membawa rombongan peziarah makam Presiden Keempat Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan makam sang kakek, KH Hasyim Asy’ari.

Makam keduanya berada di dalam area pesantren legendaris tersebut.

“Saya dari Purwoasri, Kediri, rombongan tiga mobil. Ngalap berkah di malam Jumat ganjil sepuluh hari terakhir Ramadan,” ucap Muhajir, salah seorang jemaah yang ditemui Jawa Pos.

Saat Jawa Pos tiba di pintu gerbang area makam Gus Dur, waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB. Sudah larut. Namun, suasana tempat itu masih ramai. Keluar masuk rombongan peziarah belum surut. “Kalau maleman selama Ramadan gini, banyaknya rombongan lokal, dari dekat. Jombang, Mojokerto, Kediri, Lamongan, Sidoarjo, Malang. Sebelum Ramadan baru dari jauh-jauh,” ujar Muhammad Irfan, salah seorang pedagang di pintu masuk makam Gus Dur.

Memasuki area makam, gema tahlil nyaring terdengar. Hilir mudik rombongan jemaah juga terus mengalir. Saat Jawa Pos duduk memperhatikan para jemaah, ada empat kelompok besar peziarah yang sedang berbarengan mengumandangkan tahlil. Tiap kelompok kurang lebih terdiri atas 30 orang. Suara mereka bersahutan. Khusyuk. Terus menyerukan puji-pujian kepada Sang Khalik.

Bagi umat Islam, sepuluh hari terakhir Ramadan menjadi malam baik untuk beribadah. Bagi jemaah Nahdlatul Ulama (NU) atau kaum nahdliyin, salah satu cara berdoa kepada Sang Pencipta ialah bertawasul melalui orang-orang saleh yang diyakini memiliki posisi lebih dekat dengan Allah.

Maka, tak heran jika makam para wali dan ulama besar begitu ramai dikunjungi peziarah pada malam-malam seperti ini. Termasuk makam Gus Dur dan KH Hasyim Asy’ari. “Kita kan masih kotor, banyak dosa. Bertawasulnya melalui orang-orang saleh seperti Gus Dur dan Mbah Hasyim. Tapi, mengharapnya tetap kepada Allah. Bukan yang lain,” kata Ali Mukti, jemaah asal Tegal.

Ali malam itu datang bersama empat anggota keluarganya. Tujuan satu-satunya memang ke makam Gus Dur untuk ziarah. “Terakhir saya ke sini masih tutup gara-gara korona. Waktu itu saya berdoa di depan pintu gerbang,” kenangnya.

Dia menambahkan, ziarah ke makam para ulama memang jadi kesenangannya bersama keluarga. Selain jalan-jalan, bisa sekaligus beribadah. “Kalau daerahnya banyak orang-orang saleh seperti Jombang ini memang ngangeni. Berkah kotanya,” tutur Ali.

Selain Ali, Muhammad Munir datang bersama jemaah musalanya dari Trowulan, Mojokerto, malam itu. Selain ke makam Gus Dur, Munir mengaku juga biasa berkeliling ke sejumlah makam ulama lain di pengujung Ramadan seperti saat ini. Salah satunya makam Sayyid Jumadil Kubro di Kompleks Makam Troloyo, Trowulan, Mojokerto. “Sudah kebiasaan bareng teman-teman musala dan pengurus ranting NU dari dulu,” terangnya.

Tak terasa, malam semakin larut. Sudah dini hari pukul 01.00. Suara tahlil terus terdengar dari rombongan-rombongan peziarah yang baru tiba. Mereka masih berdatangan. Belum berhenti sampai menjelang sahur. “Memang terus mengalir. Sampai jam 2 dini hari, gerbang baru ditutup,” jelas Irfan. (*/c18/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru