Tuesday, 21 April, 2026

Lebaran Bareng Komunitas Muslim di Negeri Orang (2-Habis)

Makanan yang membuat Shofia Anyunari kangen rumah saat Lebaran, tapi dengan membuat makanan pula kekangenan itu diobati. Adapun Khofidotur Rofiah memilih merayakan Idulfitri dengan berangkat ke Tanah Suci dari Hungaria.

NADIA A. NINGRUM-LAILATUL FITRIANI, Surabaya

DI Tournai, kota kecil yang 89 kilometer jauhnya dari Brussel, ibu kota Belgia, Shofia Anyunari tak merasa sendirian menjalani puasa dan merayakan Lebaran. Bukan karena ada komunitas muslim di sana, melainkan karena remaja 16 tahun itu beruntung tinggal di tengah keluarga asuh yang sangat perhatian.

Tak hanya sangat terbuka menerima, keluarga asuh atau host family juga menunjukkan dukungan terhadap keteguhan Shofi berpuasa. “Kalau makan malam itu mereka undurin jadi jam 8 dari biasanya jam 7 biar bisa nemenin aku buka,’’ ungkap Shofi kepada Jawa Pos yang mengontaknya beberapa hari sebelum Lebaran melalui WhatsApp.

Belgia, negara yang penduduknya terbelah ke dalam tiga bahasa (Prancis, Belanda, dan Jerman), tengah musim semi sekarang. Subuh, kata Shofi, sekitar pukul 04.00 dan Magrib jatuh pada pukul 20.00.

Jadi, peserta program pertukaran pelajar dari Rotary Youth Exchange itu harus berpuasa Ramadan sekitar 16 jam. Selain memundurkan jam makan malam, bentuk dukungan lain ditunjukkan keluarga asuh siswi kelas XI SMA Muhammadiyah II Surabaya tersebut dengan ikut bangun sekitar Subuh untuk menemani Shofi sahur.

Perwakilan dari Indonesia dalam program tersebut sebanyak lima pelajar SMA yang semuanya perempuan. Shofi satu-satunya siswi yang lolos dari Kota Surabaya. Dia juga satu-satunya yang ditempatkan di Belgia.

Dia tiba di Belgia sejak Agustus tahun lalu dan akan tetap di negeri tetangga Belanda itu sampai Juli tahun ini.

Selama di Belgia, dia tinggal di rumah warga sekitar yang sudah bekerjasama dengan program pertukaran pelajar yang diikuti Shofi. Itu bertujuan supaya para peserta mengenal dan mengetahui keseharian warga asli negeri monarki konstitusional tersebut.

Selama setahun, Shofi bersekolah di Collège Notre Dame de la Tombe à Kain. Selama durasi yang sama, peserta exchange akan tinggal di tiga host family yang berbeda.

Namun, untuk Shofi, dia hanya tinggal di dua host family. “Sekitar awal Mei bakal pindah ke hostfam kedua,” ucap Shofi.

Selain soal bahasa Prancis, bahasa yang sehari-hari digunakan di Tournai, kekhawatiran lain Shofi, juga orang tuanya, adalah karena sehari-hari dia berjilbab. “Aku sempat takut hostfam aku nggak bisa menerima gitu, di sini (Tournai) jarang banget orang muslimnya,’’ ungkapnya.

Saat kali pertama datang ke Tournai, Belgia, Shofi bersama dengan orang tuanya. Kepada keluarga asuh, mereka berusaha menjelaskan yang dikenakan Shofi serta alasannya.

Beruntung, hostfam begitu terbuka dan menerima Shofi apa adanya. Di sekolah, sebenarnya ada pelajar lain yang juga muslim. Namun, karena berada di kelas dan tingkat yang berbeda, Shofi belum berkesempatan untuk mengobrol.

Tapi, dukungan penuh keluarga asuh membuatnya tak pernah merasa sendirian atau terdiskriminasi. “Karena mereka nggak tahu seperti apa muslim itu, mereka tanya-tanya,” jelasnya.

Saat kali pertama datang ke hostfam-nya, Shofi juga sudah sempat menjelaskan tentang Ramadan. “Hostmom (ibu asuh) aku juga tanya, setelah Ramadan bakal ada apa,” terangnya.

Saat Idul Fitri kian dekat, Shofi tahu dirinya bakal kehilangan sederet hal yang selama ini dinikmatinya di rumah tiap Lebaran. Makanan terutama. “Nggak ada ketupat, sate, opor ayam. Nggak ada sambal goreng ati juga,” jelas Shofi.

Namun, dia tahu cara mengatasi kerinduan pada suasana kampung halaman itu: dengan membuat kue kering. Shofi sudah mengantongi resepnya dari neneknya yang sering dia buat di Indonesia bersama sang mama.

Pengobat kangen lain tentu Zoom dengan keluarganya di Indonesia. Sebab, salat Id di KBRI Brussel juga tak memungkinkan.

“Jarak ke KBRI jauh, sekitar satu jam naik kereta,” ungkapnya.

Nun di negara Eropa lain, Polandia, Khofidotur Rofiah punya cara lain merayakan Idul Fitri jauh dari keluarga di Indonesia. Mahasiswi doktoral Universitas Pedagogi, Krakow, itu menerima ajakan teman untuk menjalankan umrah.

“Tahun ini alhamdulillah Lebaran di Makkah,” ujar Fia, sapaan akrab dosen pendidikan luar biasa Universitas Negeri Surabaya itu.

Teman yang mengajaknya umrah tersebut berdomisili di Hungaria. Fia pun langsung menyetujuinya mengingat awal tahun dia sudah mengobati rindu kepada kedua anaknya dengan pulang ke Surabaya.

Pada Lebaran tahun lalu, perempuan 34 tahun itu juga sempat menjalani Ramadan dan Lebaran di rumah. Saat itu pun Fia yang studi di Krakow sejak 2021 bisa terbang ke Indonesia karena tengah mengambil data.

Dia bertolak ke Tanah Suci dari Hungaria bersama tiga kawan perempuan dari Indonesia lewat jalur darat. “Kami beribadah umrah sekaligus merayakan Lebaran di Makkah dan kembali ke Polandia pada 26 April mendatang,” katanya. (*/c7/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru