Thursday, 30 April, 2026

Kaltara Alami Deflasi 0,01 Persen

TARAKAN – Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mengalami deflasi 0,01 persen month to month (MtM).

Tarakan mengalami deflasi 0,01 persen MtM, sedangkan Tanjung Selor inflasi 0,01 persen MtM Februari lalu. Tingkat inflasi di Kaltara ini lebih rendah dari periode sebelumnya. Tercatat Januari tahun lalu, 0,47 persen MtM yang terjadi. Seiring siklus normalisasi pasca Natal dan Tahun Baru 2022.

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kaltara Tedy Arief Budiman menjelaskan, deflasi ini didukung menurunnya mobilitas masyarakat yang tercermin dari Google Mobility Report (GMR). Pasca peningkatan kasus harian Covid-19 di Kaltara. Sehingga menahan laju pergerakan dan konsumsi masyarakat.

Selain itu, surplus produksi nasional pada beberapa komoditas, seperti telur ayam menjadi salah satu penyebab deflasi. “Jika dilihat berdasarkan komoditasnya, deflasi pada Februari terutama disebabkan komoditas angkutan udara, ikan bandeng, dan telur ayam ras,” jelas Tedy, Kamis (3/3).

Sedangkan deflasi pada komoditas angkutan udara yang memberikan andil -0,07 persen. Disebabkan penurunan permintaan masyarakat, terhadap angkutan penerbangan dari dan menuju Kaltara. Seiring meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 secara nasional, yang menahan keinginan masyarakat Kaltara untuk melakukan perjalanan.

Pada komoditas ikan bandeng dan telur ayam ras. Kedua komoditas ini mengalami deflasi, disebabkan penurunan demand masyarakat di tengah produksi yang mengalami surplus secara nasional. Meski tercatat deflasi secara bulanan. Tapi secara tahunan Kaltara masih mengalami inflasi 2,06 persen Year on Year (YoY) atau 0,54 persen.

Inflasi tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi 3,0 ±1 persen YoY. Sejalan dengan kelompok transportasi. Pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami deflasi. Di tengah menurunnya permintaan masyarakat pada Februari lalu.

Secara umum didorong oleh normalisasi pasca Natal dan Tahun Baru 2022. Termasuk menurunnya permintaan di tengah pasokan komoditas yang tercukupi.

“Komoditas ikan bandeng, telur ayam ras, dan cabai merah mengalami deflasi. Disebabkan surplus produksi yang terjadi secara nasional di tengah menurunnya demand masyarakat,” ungkapnya.

Selanjutnya, harga minyak goreng tercatat mengalami penurunan didorong oleh kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO). Melalui kebijakan tersebut, berlaku Harga Eceran Tertinggi (HET) yang mulai berlaku pada 1 Februari 2022.

Namun secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami deflasi 0,2 persen MtM atau masih tercatat inflasi secara tahunan sebesar 4,67 persen YoY.

“Inflasi akan tetap dijaga sehingga berada pada sasaran inflasi 2022, yaitu 3,0±1 persen. Untuk itu, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia dan lembaga terkait yang tergabung dalam TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) akan terus diperkuat,” bebernya.

Salah satu upaya penguatan koordinasi dengan penyelenggaraan High Level Meeting (HLM) TPID, dari tingkat provinsi hingga daerah. Diharapkan mampu menghasilkan langkah-langkah strategis, dalam menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, maupun ekspektasi masyarakat di awal tahun 2022, terutama menjelang Idul Fitri nanti.

“Kami juga terus aktif bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemda melalui berbagai program. Termasuk penguatan korporatisasi dan kelembagaan, pengembangan kapasitas produksi. Maupun perluasan pasar UMKM pangan dikala pandemi,” tutupnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru