Aturan adopsi tidak mengizinkan orang tua angkat menutupi fakta tentang si anak dan orang tua kandungnya. Tapi, kebenaran baru boleh diungkap setelah anak sudah dewasa. Maka, pencarian orang tua kandung di tanah kelahiran pun biasanya baru dilakukan setelah berkeluarga.
PAULINE Jager berusaha tegar. Sesekali buliran air bening mengalir dari matanya. Sebenarnya dia lelah karena sudah berpindah-pindah lokasi mencari ibu kandungnya. Berkas asli yang mengesahkan kelahiran dan proses adopsinya dia bawa dari Belanda.
Berbekal informasi di dalamnya, dia pergi ke Surabaya, Kediri, dan Malang. Dia ingin bertemu Sulikah dan Lasmidi, ibu dan bapak kandungnya.
Bersama Lucinda, adiknya, Pauline mendarat di Surabaya. Pencarian dimulai pada Senin (15/5). Ditemani Ana Maria van Valan, founder Stichting Mijn Roots (yayasan yang fokus pada pencarian orang tua kandung), mereka keliling Kota Pahlawan. Mulai notaris, yayasan adopsi, hingga RSUD dr Soetomo. Informasi yang mereka dapat tidak banyak. Apalagi, kantor yayasan di Jalan Ngagel sudah tutup.
Dalam dokumen disebutkan, alamat Sulikah dan Lasmidi ada di Kedung Anyar. “Kami mendatangi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya,” ujar Pauline. Namun, karena terbentur aturan, mereka tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Pauline dan Mijn Roots lalu mengajak Jawa Pos ke tempat persalinan Sulikah di RSUD dr Soetomo. Pauline lahir di sana pada 25 Maret 1982 dengan nama asli Sri Wahyuni. Konon, dia hanya dua hari dirawat di rumah sakit tersebut. Dalam dokumen rumah sakit tertulis, status Sulikah telantar alias tidak punya alamat tetap. Patah hatilah Pauline.
”Hendak mencari ke mana lagi?” batin perempuan ramah itu. Dari berkas rumah sakit, Pauline tahu bahwa dirinya punya dua kakak. Sebab, dia dituliskan sebagai anak ketiga. “Kalau memang punya kakak, saya ingin menemuinya,” ucap dia sambil menyeka air mata.
Dari rumah sakit, Pauline ke Kedung Anyar, Sawahan. Dia mendatangi kantor kelurahan. Di sana ada warga bernama Sulikah dan Saulikah. Namun, orang yang menghuni rumah di alamat Sulikah bernama Herman. Pauline berhasil menemui Sulikah, tapi bukan dia orang yang dimaksud. Sedangkan Saulikah juga tetangga Herman, tapi sudah meninggal.
Belum menyerah, Pauline pun mendatangi alamat orang yang menjadi saksi dirinya saat diadopsi. Lokasinya juga di Kedung Anyar. Sayang, orang tersebut sudah meninggal dunia. Keluarganya juga sudah pindah dari Kedung Anyar.
Buntu di Surabaya, Pauline melanjutkan pencarian ke Kediri. Pada salah satu berkas yang dia bawa, disebutkan, ibu kandungnya berasal dari Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Berbekal data dari kelurahan, Pauline mencari ibu kandungnya selama dua hari. Ada tiga nama Sulikah di sana. Salah satunya, menurut kabar, mirip dengannya.
Tapi, Pauline belum beruntung. Saat disambangi, Sulikah yang dimaksud itu mengaku tidak punya anak yang diadopsi orang lain. Dia juga tidak pernah melahirkan di RSUD dr Soetomo. Dua Sulikah yang lain juga menyangkal punya anak yang diadopsi. “Saya juga tidak ada feeling dengan ibu itu,” ucap Pauline.
Pencarian berlanjut ke Malang. Pauline menemui dua Sulikah di sana. Lagi-lagi, mereka bukan ibu kandungnya. Dalam perjalanan pulang, Pauline menerawang. Dia tidak rela jika pencariannya harus sia-sia. Apalagi, upaya itu sudah dia lakukan sejak sekitar empat tahun lalu.
Padahal, harapan Pauline tidak muluk-muluk. Dia hanya ingin bisa menjawab pertanyaan yang selama ini menghantuinya. Yakni, seperti apa sosok ibunya? Apakah mirip dengannya? Apakah dia punya saudara kandung yang lain?
Pauline yang punya dua anak benar-benar merindukan sang ibu. Dia juga ingin buah hatinya mengenal ibu kandungnya. ”Bertemu ibu kandung saya secara langsung masih menjadi harapan terdalam saya,” tandasnya. (omy/c9/hep/jpg)


