NUNUKAN – Abraham Alex Tanusaputra menjadi pilot pertama dari dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan.
Pria berusia 24 tahun itu menjadi pilot maskapai Smart Aviation, yang melayani penerbangan perintis di wilayah 3 T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal).
Perjuangan Abraham memang tidak mudah. Ia dihadapkan pada beban mental dan moral terhadap kedua orang tuanya, Metro Aris Bangau dan Ibunya Awrin Matius. Bahkan, kedua orang tuanya tidak terlalu setuju dengan kemauannya menjadi pilot. Banyaknya kabar kecelakaan pesawat dan tragedi di udara.
Abraham mengaku sempat mengalami fase kritis. Dimana semangat sempat down, dan sama sekali tidak punya lagi harapan. Kendati demikian, ia justru semakin ingin menjadi pilot. Untuk memberikan kehormatan bagi orang tua. Pasalnya, belum ada penduduk Krayan yang menjadi pilot.
“Sejak kecil saya tinggal di Long Bawan. Sering melihat pesawat di bandara, sejak itu saya berpikir hebatnya bisa mengangkasa dan menjelajah di udara. Itu kenapa saya ingin betul jadi pilot,” ucapnya, Jumat (4/3).
Tekad dan kemauan kuat itulah, akhirnya membuat kedua orang tuanya luluh dan membiarkan anak bungsu dari lima saudara ini mencoba peruntungannya. Tahun 2016, Abraham mencoba mendaftar di sekolah penerbang Perkasa Flight School di Cilacap Jawa Tengah. Dengan menamatkan studi penerbangan selama 3 tahun. Selama itu pula, orang tua menjual harta benda untuk mendukung cita-cita anaknya.
“Orang tua saya petani. Demi mendukung saya menjadi pilot, mereka jual sawah, tanah dan rumah di Long Bawan Krayan. Semua habis ludes terjual, sehingga orang tua kembali ke rumah kakek di Desa Padat Karya Krayan Barat,” ungkapnya.
Lulus dari sekolah Perkasa Flight School 2018 akhir, Abraham melanjutkan perantauan ke Jakarta. Dengan optimis, ia mengajukan lamaran ke sejumlah maskapai penerbangan.
Sayangnya, semua maskapai mengharuskan pembayaran tidak murah untuk rating. Bahkan biayanya sampai Rp 1,5 miliar, untuk mendalami spesialisasi penerbangan.
“Saya syok dengan masalah itu. Orang tua sudah habis-habisan, mana bisa lagi membebani mereka,” kenangnya.
Titik balik kehidupannya justru bermula saat ia memutuskan pulang ke Kalimantan. Belum berani pulang kampung halaman, karena malu. Memutuskan tinggal di Tarakan di rumah kakaknya. Ia melamar kerja sebagai GH (Ground Handling) di Bandara Tanjung Harapan Tanjung Selor.
“Pekerjaan GH ternyata justru membawa saya bertemu dengan CEO Smart Aviation, Pongky Majaya,” ucapnya.
Saat itu, tanpa sengaja Abraham ditugaskan sebagai supir untuk Pongky. Dengan senang hati, Abraham membawakan barang, mengantarkan kemanapun tujuan Pongky. Akhirnya berhasil mengobrol dan membicarakan talenta serta mimpinya.
“Mungkin obrolan saya klop (nyambung), atau entah karena tangan Tuhan yang menggerakkan. Beliau (Pongky) meminta saya bergabung dengan Smart Aviation tahun 2022. Saya berangkat tes ke Jakarta dan akhirnya lolos. Lalu bergabung dengan maskapai yang melayani penerbangan ke kampung halaman saya,” tuturnya.
Penerbangan pertama Abraham, dilakukan akhir Januari 2022. Saat itu pesawat yang diterbangkan membawa Wakil Gubernur Kaltara Yansen Tipa Padan bersama salah seorang anggota DPRD Kaltara Marly Khamis. Tujuan dari Tarakan menuju Malinau.
Hingga saat ini, Abraham mencatat 52 jam penerbangan. Ia selalu bangga menjadi bagian dari orang yang melayani penerbangan perintis ke kampung halaman. (kn-2)


