Sunday, 12 April, 2026

Kursi Bersejarah di Museum Dewantara Kirti Griya Jogjakarta Pernah Diduduki Bung Karno dan Filsuf dari India

Kondisi Museum Dewantara Kirti Griya Jogja atau biasa dikenal Museum Ki Hajar Dewantara, terlihat berbeda dari hari biasanya, Senin (5/6). Tersemat tulisan ditutup sementara dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.

WULAN YANUARWATI, Jogja

MASUK ke halaman museum, terlihat tirai bambu menutupi museum yang dulunya merupakan kediaman Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Seorang bapak pendidikan Indonesia yang terkenal dengan semboyan Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani itu.

Tanaman dalam pot tampak berserakan di sekitar taman museum. Kursi dan meja juga berserakan akibat tawuran yang melibatkan PSHT pada Minggu (4/6) malam. Masuk lebih jauh, pintu penghubung di bagian belakang terlepas. Sisa didobrak paksa oleh massa sebab terlihat kunci gembok rusak.

“Kerusakan terbesar ya cagar budaya, peninggalan Ki Hajar Dewantara berupa kursi, yang kemarin sampai terlempar jauh di sana. Kemudian ada pintu jebol, juga kemungkinan untuk menyelamatkan massa,” ungkap Kepala Museum Dewantara Kirti Griya, Ki Murwanto, Senin (5/6), kepada Radar Jogja (Jawa Pos Group). Kursi itu memang terlihat sederhana, laiknya kursi pada umumnya. Namun, rupanya ada nilai sejarah yang tinggi. Kursi berlengan itu pernah diduduki sejumlah sahabat Ki Hajar Dewantara, yang merupakan tokoh penting bangsa Indonesia maupun dunia.

Kursi itu sengaja diletakkan di depan kediamannya hingga sekarang. Posisinya sama seperti saat digunakan duduk oleh Ki Hajar Dewantara dan rekan-rekannya.

“Sudah pernah diduduki Ki Hajar, sudah diduduki Rabindranath Tagore. Tokoh-tokoh bangsa pernah, termasuk Pak Karno (Presiden Soekarno),” ujarnya.

Adalah Rabindranath Tagore, seorang filsuf, sastrawan sekaligus praktisi pendidikan dari India. Mereka berteman akrab, yang kemudian sedikit banyak mempengaruhi sistem pendidikan yang digagas Ki Hajar Dewantara.

Tagore merasa tidak puas dengan sistem pendidikan di India yang dinilai mengebiri potensi anak dengan buku-buku pelajaran yang menjenuhkan. Imajinasi dan potensi anak menjadi tumpul karena sistem pendidikan adopsi barat yang memberatkan anak dengan hafalan dan tugas-tugas yang membosankan.

Atas hal itu, Tagore drop out dari sekolah hukum atas kemauannya sendiri. Dan mendirikan Ashram di tanah yang dibeli oleh orangtuanya. Lalu dia mendirikan sekolah berbasis alam dan mengajak anak-anak bebas belajar.

Menurutnya, pendidikan harus dimulai dari alam, sehingga empati, imajinasi dan kebebasan berpikir anak dapat terus berkembang. Tidak ada lagi hal yang dirampas dari tumbuh kembang anak.

Penemuan ini lantas menjadikannya dikenal di seluruh dunia. Termasuk Indonesia yang kemudian diaplikasikan menjadi sistem pendidikan Tamansiswa oleh Ki Hajar Dewantara.

Lebih lanjut Murwanto mengatakan, untungnya kursi yang dilempar hanya satu. Kursi lainnya masih aman, meski berserakan. Sedangkan kondisi dalam rumah dan pendapa juga aman.

“Masuk cagar budaya sama pendapa. Ini dulu rumah tinggal Ki Hajar Dewantara. Dalamnya kayak rumah biasa. Pendapa alhamdulillah gak ada (kerusakan). Pintu kayu masih asli. Kursi rusaknya, enggak ya. Kalau koleksi semua aman. Terlempar satu (kursi). Ada yang diinjak,” tambahnya.

Dia berharap pihak terkait segera melakukan inventarisasi, sehingga bisa segera dilakukan perbaikan di beberapa titik. Dengan begitu, museum yang memiliki sejarah penting ini dapat dibuka kembali dan bisa diakses masyarakat. (*/c9/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru