Keberadaan Griya Werdha ternyata dimanfaatkan mereka yang tak lagi peduli dan bertanggung jawab kepada orang tuanya. Mereka tega dan sengaja menelantarkan para lansia itu hingga akhirnya ditemukan dan dirawat oleh Pemkot Surabaya.
LANSIA-lansia yang dirawat di Surabaya bukan seluruhnya warga metropolis saja. Di antara mereka, ada yang terjaring razia penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di jalanan.
Pemkot Surabaya sebenarnya bisa mengembalikan mereka ke daerah asal. Atau bahkan mengalihkan ke tempat lain. Namun, kembali lagi, hal ini bicara tentang hadirnya negara bagi masyarakat.
“Itu sebenarnya bukan dari lansia Surabaya saja. Karena di Surabaya itu gratis, wonge apik-apik, dadi onok wong tuwo yo diramut. Itu banyak orang yang sengaja dibuang,” kata Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Sabtu (10/6).
Eri berharap agar mereka yang memiliki orang tua lansia, saudara, atau keluarga dengan gangguan jiwa tidak lantas lepas tanggung jawab. Yang punya kewajiban menjaga bukan Pemkot Surabaya, namun mereka juga punya tanggung jawab yang sama.
Eri menyebutkan, mereka yang telantar pun akhirnya dinaturalisasi menjadi warga ber-KTP Surabaya. Agar penanganan bisa dilakukan lebih dalam.
“Ketika mereka ditanya di mana rumahnya tidak tahu. Identitasnya juga tidak ada. Akhirnya dibuatkan KTP Surabaya dan dikira warga Surabaya,” tutur Eri.
“Namun, bisa jadi ini adalah berkah bagi Surabaya. Barangkali ada yang tidak mampu dan agar orang tuanya kerumat maka ditinggal di Surabaya,” imbuhnya.
Pemkot Surabaya kini menyiapkan Griya Werdha baru di kawasan Surabaya Pusat. Rencananya, kapasitas griya di salah satu aset pemkot itu sekitar 100 orang. Bakal ada petugas yang berjaga 24 jam dan dokter yang stand by bila ada darurat medis.
“Karena Pemkot Surabaya bagian dari negara, akhire kita buka lagi tempat untuk menampung mereka,” ujar Eri.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya Anna Fajriatin menyatakan, setiap orang yang telantar akan berusaha dikembalikan ke daerah asal. Karena itu, biasanya mereka yang juga terjaring razia dan lansia tidak langsung masuk Panti Werdha, melainkan dibawa lebih dulu ke Liponsos Keputih, tempat PMKS.
Dia mengatakan, saat ini warga Surabaya jauh lebih sadar untuk merawat orang tua mereka sendiri. Hal itu terlihat dari jumlah pengajuan warga Surabaya yang ingin memasukkan orang tuanya ke Panti Werdha. Hingga kemarin, angkanya masih nihil.
“Tahun 2022 lalu, ada lebih dari 40 yang mengajukan agar orang tuanya dimasukkan ke Panti Werdha kami. Lengkap dengan surat pernyataan dari anaknya bahwa merelakan mereka dirawat di panti. Namun, sekarang sudah nihil,” ucapnya.
Ada Yang Dikoskan, lalu Ditinggal Sebatang Kara
TAK semua penghuni Griya Werdha adalah orang yang dibuang. Ada juga yang dengan sadar mendaftarkan diri. Misalnya Sri Kusnaeni, 79, yang tinggal di Griya Werdha Kalijudan sejak 2014. Selain tidak ada keluarga dekat, dia mendaftarkan diri karena ekonominya pas-pasan. Mau numpang pun segan. Awalnya baik-baik saja, semakin lama malah menimbulkan masalah.
“Siapa yang mau nerima kerja di usia yang sudah tua. Dulu kerja jadi guru TK, namun semua habis untuk biaya pengobatan kakak saya,” tuturnya.
Keputusan masuk Griya Wredha adalah hal yang tidak akan pernah dia sesali. Apalagi, sekarang dia tinggal di Griya Wredha Kalijudan. Suasananya nyaman. Banyak aktivitas dan teman. “Sekarang tinggal menunggu dipanggil Gusti Allah. Ibadah dan menyiapkan pahala yang banyak,” ujarnya sambil tersenyum.
Sri adalah salah satu contoh bagaimana lansia telantar dan jompo di Surabaya keramut. Banyak cerita lain yang membuat hati miris. Namun, semua ada kesamaan, yang ada di sana mayoritas sudah tidak diinginkan keluarganya.
“Banyak yang dikoskan oleh anak atau saudaranya. Kemudian ditinggal. Akhirnya tetangga kiri kanan yang ngopeni dan melaporkannya ke Pemkot Surabaya,” kata salah seorang perawat lansia Dinsos Surabaya Sumariana.
Dia menceritakan, pernah ada anak dari lansia yang saat menjenguk mengaku sebagai tetangga. Sebab, khawatir bila mengaku atau ketahuan anaknya akan diminta pemkot untuk merawat. “Ada yang hanya menjenguk sekali dua kali, kemudian tidak dijenguk lagi hingga meninggal,” ujarnya. (gal/c17/jun/jpg)


