Tuesday, 26 May, 2026

Dreams, Pameran Lukisan Tunggal Syakieb Sungkar: Wujud Protes pada Dunia yang Kacau Balau

Kesempurnaan sebuah lukisan semestinya menjadi tujuan hakiki seniman. Namun, tidak bagi perupa cum kolektor lukisan Syakieb Sungkar. Protesnya membuat karya-karya yang dihasilkan menjauhi kesempurnaan.

DUNIA kacau balau. Kenapa harus melukis sempurna,” kata seniman Syakieb Sungkar yang ditemui di Cemara 6 Galeri, Toety Heraty Museum, Jakarta, awal bulan ini. Sebagai bentuk protesnya atas kondisi dunia dan juga Indonesia, Syakieb sengaja membuat lukisan-lukisannya ”ganjil”.

Dia menuturkan, dunia saat ini diwarnai perang Rusia-Ukraina. Ada juga Amerika Serikat yang pernah menyerang Afghanistan. Padahal, dunia sudah memiliki Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Sudah memiliki beragam kesepakatan internasional.

“Tapi, karena sentimen, suatu negara dengan mudah menyerang negara lain,” ujar Syakieb.

Di dalam negeri, lanjut dia, bisa jadi ada sebuah kota yang sudah tertata dengan baik, tapi malah mendapatkan pemimpin yang kacau. “Suasana begini itu keos, unsur yang tidak mendukung. Salah tempat lah,” jelas Syakieb.

Pada pamerannya yang bertajuk Dreams itu, Syakieb unjuk gigi dengan 16 lukisannya. Belasan lukisan tersebut dibuat dalam tempo dua tahun. “Ini merupakan pameran ketiga,” terang seniman sekaligus kolektor lukisan itu.

Memang, sebagian di antara lukisan-lukisan tersebut menunjukkan adanya kesengajaan Syakieb untuk protes. Salah satunya, lukisan yang berjudul Mengenang Andrea Mantegna. Dalam lukisan itu tampaklah kemiripan dengan karya Andrea Mantegna yang legendaris berjudul Peratapan Jenasah Yesus.

Dalam karya itu terlihat orang terbujur kaku di tempat tidur rumah sakit yang dibuat begitu berwarna dan halus. Kemudian terdapat sekelompok orang yang menunggu, sebagiannya berwarna kusam. “Saya berani merusak. Sudah bagus, saya campur-campur lagi,” ujar Syakieb.

Dalam lukisan lainnya, tampak permainan warna yang begitu apik. Misalnya, lukisan yang bertema Kapten Amerika. Lukisan itu menggambarkan robot kecoak yang ditunggangi Kapten Amerika. Di latar belakangnya terdapat pemandangan laut yang biru dan terselip gambaran istana negara.

“Sekarang itu tidak ada kebebasan, semua ditunggangi. Bukan hanya kecoak yang bebas beterbangan, istana saja ditunggangi,” papar Syakieb.

Syakieb juga berani mewujudkan karakter-karakter kekinian dalam lukisannya. Ada lukisan yang menunjukkan tokoh utama manga One Piece, Monkey D. Luffy. Bahkan, ada yang terinspirasi dari sebuah game Free Fire. “Saya ini juga kolektor komik dan main game Free Fire. Saya betul-betul representasikan dengan lukisan,” jelas Syakieb.

Di sisi lain, Syakieb menuturkan memiliki sekitar seribu koleksi lukisan. Dari maestro dalam negeri, Syakieb punya karya Basuki Abdullah. Menurut dia, karena juga menjadi kolektor, hal itu membuat Syakieb memiliki ambisi melebihi para pelukis itu.

Sekarang, cat lukis lebih baik kualitasnya, kanvas mutunya lebih bagus. “Apalagi ditunjang internet. Kalau seniman dulu, tidak ada internet. Tidak bisa mengetahui kondisi dunia,” kata Syakieb.

Dalam lukisan lainnya, tampak lukisan sosok budayawan Goenawan Mohamad. Dia menuturkan, lukisan GM, sapaan Goenawan Mohamad, itu memiliki cerita tersendiri. Lukisan tersebut menjadi istimewa karena dibubuhi puisi secara langsung oleh GM. “Bahkan, GM tanda tangan juga,” ujar Syakieb.

Lukisan berjudul Kamrad GM itu tidak dibuat dari cat minyak, tetapi pensil arang atau charcoal. “Pemakaian charcoal ini karena saya sedang adu nyali dengan GM. Pak GM kan baru belajar charcoal,” kata Syakieb, lalu tertawa. (idr/c12/dra/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru