TANJUNG SELOR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan berupaya meningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr H Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor.
Salah satunya pemenuhan alat kesehatan berupa alat cuci darah (Hemodialisa). Rumah sakit pun telah memenuhi peralatan tersebut sebanyak 5 unit. Bahkan alat HD telah divisitasi oleh Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) koordinator wilayah Sulsel, Papua Barat, Ambon, Kaltimtara dan Sulteng.
Menurut Bupati Bulungan Syarwani, alat cuci darah sangat penting bagi pemenuhan kebutuhan layananan kesehatan. “Alhamdulillah, fasilitas ini sudah ada di sini (Bulungan). Meskipun masih belum banyak. InsyaAllah saya yakin bisa menangani kebutuhan masyarakat yang ingin cuci darah. Ada 5 unit HD, yang artinya 5 pasien bisa ditangani,” tutur Syarwani kepada Harian Rakyat Kaltara, Senin (26/6).
Sudah ada tiga pasien yang melakukan cuci darah. Bahkan, sebelum peresmian penggunaan alat tersebut telah dilakukan beberapa kali uji coba. Untuk memastikan pengoperasian HD aman.
Sebagai informasi, layanan HD juga terkafer BPJS. Sehingga tidak ada lagi keraguan yang berkaitan dengan pembiayaan. Bupati juga menyampaikan, ada pasien yang selama ini menjalani hemodialisa di Tarakan. Dengan kurun waktu selama 9 bulan, bahkan ada yang hingga 2 tahun.
“Kita tak bisa bayangkan, jika di posisi pasien. Apa yang menjadi beban dirasakan selama ini. Mereka inikan harus lakukan HD ke luar daerah, selama alat itu belum tersedia di rumah sakit ini,” ujarnya.
Dengan bisa difungsikan alat cuci darah, merupakan upaya dan kerja sama seluruh pihak. Terutama kepada penanggung jawab di unit layanan HD, BPJS dan direktur. Yang bekerja keras dalam memberikan layanan terbaik kepada masyarakat.
Sementara itu, Direktur RSUD dr H Soemarno Sosroatmodjo Widodo menambahkan, jumlah pasien yang rutin HD ke Tarakan mencapai 18 orang dan 1 CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) atau mandiri cuci darah di rumah.
Dengan jumlah yang ada tersebut, diakuinya, alat yang sudah ada bisa membantu pasien. Sehingga tidak perlu lagi melakukan HD di luar daerah.
“Faktor seseorang harus cuci darah, karena adanya gagal ginjal. Kalau sudah masuk level 1 hingga 5 (Stadium) akhir, maka harus sudah cuci darah,” singkatnya. (kn-2)


