Bermula dari hobi, M.Dede Septiandri menekuni budi daya tanaman hias. Dia membuat greenhouse, sharing pembuatan media tanam, dan jual beli lewat media sosial. Kini, usahanya meraup omzet luar biasa.
“SAYA suka menghias rumah dengan tanaman-tanaman yang estetis, pot, dan guci. Hobi juga sharing membuat media tanam,” kata M. Dede Septiandri saat ditemui di workshop Tanah Liat, Tangerang Selatan, Kamis (13/7) lalu.
Pandemi Covid-19 telah mengubah jalan hidupnya. Dede merupakan chef on board Garuda Indonesia sejak 2018. Sebelumnya, dia juga pernah bekerja di hotel bintang 5, restoran di luar negeri, dan kapal pesiar.
Pada 2020, maskapai milik negara itu memutuskan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pensiun dini para pegawai untuk menghemat biaya operasional. Sebab, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan lockdown di sejumlah negara membuat banyak rute penerbangan domestik maupun internasional tutup.
Dede menjadi salah seorang pegawai yang terkena PHK. Sejak saat itu, dia mencoba berjualan media tanam dan tanaman hias. Sejalan dengan permintaan yang datang, khususnya dari followers Instagram. Monstera borsigiana dengan pot terakota (tembikar) menjadi tanaman yang kali pertama dijual.
“Customer pertama yang membeli itu orang tua teman dekat saya. Dibeli dengan harga Rp 700 ribu,” kenangnya.
Lambat laun, permintaan semakin banyak. Dede mulai menawarkan tanaman koleksinya untuk dijual. Sebagaimana Syngonium dan Monstera berjenis varigata (dalam satu daun terdiri atas beberapa variasi warna).
Bahkan, pria asal Jakarta itu melakukan budi daya agar menjaga stok tanaman tetap aman. Tabungan senilai Rp 80 juta juga dihabiskan untuk berburu stok tanaman. Bahkan, dia sampai belanja ke Jepang, Eropa, dan Thailand.
Dede juga membangun greenhouse di rumahnya dengan modal Rp 270 juta dari pesangonnya. Padahal, saat itu cicilan utang juga tidak sedikit. KPR masih 10 tahun dan kredit bank untuk keperluan lain juga masih 8 tahun lagi. “Awalnya modal nekat,” celetuknya.
Di sisi lain, Dede mendapatkan momentum yang pas. Pagebluk SARS-CoV-2 membuat harga tanaman meroket. Sejalan dengan hobi bercocok tanam masyarakat yang meningkat akibat pembatasan mobilitas.
Saat itu dia juga melihat bahwa pencinta tanaman berani membeli dengan harga tinggi. Misalnya, janda bolong dari Jepang seharga Rp 300 juta laku terjual. Tak ayal, omzet per bulan mencapai sekitar Rp 2 miliar.
“Demand yang semakin tinggi dan barang terbatas. Alhamdulillah, setahun jualan tanaman, cicilan rumah dan utang bank saya sudah lunas. Yang penting giat dan konsisten untuk berusaha,” jelasnya.
Bahkan, Dede telah membeli tanah lagi di kawasan Puncak Bogor untuk dibangun vila. “Saat ini sedang proses pembangunan. Nanti disewakan,” tuturnya.
Workshop-nya yang bernama Tanah Liat by Ruang Tanam Jakarta tidak hanya jualan tanaman sultan. Juga ada pottery class, jasa oven tembikar, media tanam, dan peralatan berkebun.
Meskipun demikian, Ruang Tanam bukan tanpa kegagalan. Salah satu kesulitan menanam bibit tumbuhan hias dari luar negeri adalah menyesuaikan tempat dan media tanamnya. Dede membutuhkan waktu sekitar setahun untuk mempelajarinya. Tak sedikit juga yang mati dan merugi sekitar Rp 500 juta.
Pada awal Maret lalu, Dede bersama Indonesian Aroid Society berkesempatan ke Bangkok International Exotic Plant Show. Mereka membawa tanaman-tanaman endemik tanah air. Dan, hybrid atau hasil silangan dari tumbuhan Indonesia dan Thailand untuk diperkenalkan ke dunia.
“Khususnya dari Indonesia ada alocasia, aglonema pictum tricolor variegata, silangan anturium, dan philodendron,” urainya.
Menurut dia, antusiasme pencinta tanaman di Thailand tinggi. Tanaman endemik yang dibawa juga menjadi primadona. (han/c12/dio/jpg)
TIPS dan TRIK BISNIS TANAMA ALA DEDE
– Giat, telaten, dan konsisten
– Utamakan kualitas
– Berani memberi garansi jika barang cacat atau rusak
– Gunakan media sosial dengan baik dan bijak untuk berkreasi
– Ikut komunitas untuk memperbanyak relasi atau jaringan.


