Monday, 20 April, 2026

Sehari Mengikuti Aktivitas Community Outreach Program (COP) Universitas Kristen Petra Surabaya

Kegiatan COP UK Petra kembali terselenggara seusai terhenti saat pandemi. Beragam program fisik dan nonfisik pun mereka kembangkan di Mojokerto. Meskipun, harus terkendala bahasa hingga adaptasi antarbudaya.

RAMADHONI CAHYA C., Surabaya

“LINGKUNGAN di sini jauh berbeda,” ucap seorang mahasiswa International Christian University atau Universitas Kristen Petra Surabaya Ibuki Kobayashi. Mahasiswa asal Jepang itu mengikuti community outreach program (COP) atau KKN internasional, Senin (31/7) lalu.

Lokasinya di Desa Rejosari, Kabupaten Mojokerto. Ibuki menemukan hal baru yang tak ditemuinya di Jepang. Terutama pada aspek sosial. Masyarakat di Desa Rejosari lebih senang mengobrol dan bercengkerama.

Suasana kekeluargaan itu membuatnya semakin betah dalam menjalani program tersebut selama tiga pekan. Dia juga mengajak anak-anak untuk belajar bersama, mulai belajar bahasa hingga membuat kerajinan. “Mereka sangat tertarik. Kesempatan baik untuk saling kenal,” katanya Senin (31/7) lalu.

Perbedaan bahasa tidak menjadi kendala berarti. Proses pembelajaran tetap berjalan dengan menyenangkan. Meskipun, mereka perlu beradaptasi dengan lingkungan sekitar seperti tidak adanya hiburan.

Itu sempat membuat mahasiswa asal luar negeri tersebut merasa bosan di awal program COP. Namun, rasa bosan itu mulai berkurang karena keindahan lereng Gunung Arjuno.

“Apalagi saat malam itu gelap dan sepi, cukup kaget juga,” papar Ibuki. Begitu pula yang dirasakan Rohat Karasu, mahasiswa asal Inholland University. Baginya, suasana pedesaan di Indonesia jauh berbeda ketimbang di Belanda.

Desa di Negeri Kincir Angin tersebut banyak ruang, danau, dan binatang. Sedangkan, kondisi desa di Indonesia terbilang ramai penduduk, namun akses pendidikan bagi masyarakat masih terbatas.

Sebagai seorang mahasiswa kedokteran gigi, dia pun mengajari anak-anak cara menyikat gigi dengan benar.

“Karena saya juga muslim, koneksi dengan masyarakat jadi lebih mudah. Mereka sempat kaget ketika saya ucap salam,” tutur dia.

Yang cukup menyulitkan hanya perbedaan kultur dan budaya antarmahasiswa. Misalnya, yang disampaikan Anastasia Febi Dora, mahasiswa asal Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

Dia sempat berkonflik dengan mahasiswa asal Korea karena pergi tak pamit. Padahal, di Korea itu merupakan hal yang umum dan orang tidak harus tahu mereka pergi ke mana.

“Saya dikira melarang mereka pergi. Namun, ini pengalaman baru,” ucapnya.

Kegiatan COP internasional tersebut telah berjalan lebih dari 20 tahun. Kini program yang sempat terhenti karena pandemi Covid-19 itu kembali berjalan sejak (12/7) hingga (6/8). Total ada 104 peserta dari enam negara yang mengikuti kegiatan tersebut.

Di antaranya, Inholland University Belanda, International Christian University Jepang, Dong Seo University Korea, Momoyama Gakuin University Jepang, Singapore University of Social Sciences (SUSS), Fu Jen Catholic University-Taiwan, dan Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira)-Kupang.

Ratusan mahasiswa itu terbagi dalam tiga kelompok di tiga desa dan empat dusun. Mereka dibimbing oleh tiga dosen pembimbing lapangan UK Petra dengan pendampingan dari supervisor universitas peserta.

Para peserta tidak hanya mengadakan program nonfisik, tapi juga pembangunan. Program itu berdasar hasil kajian dan disesuaikan dengan kebutuhan warga desa. “Temanya Keep Blessing the Nations,” ucap Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UK Petra Lintu Tulistiyanto.

Beberapa program fisik di Desa Dilem itu, antara lain, pembangunan toilet di kantor desa, penyiapan area parkir untuk wisatawan Bukit Semar, pembuatan situs pendakian, pembangunan tempat sampah umum, serta pengecatan dan mural gedung SD. Sedangkan di Desa Kebontunggul ada penjernihan air dari bak utama dan pembenahan bak penampungan. (*/c6/aph/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru