Oswyn berhasil mengolah abu hasil pembakaran PLTU menjadi materiak pengganti semen. Kekuatan material itu bahkan melebihi beton. Saat melakukan penelitian, dia harus melewati beragam tantangan akibat pandemi Covid-19.
RAMADHONI CAHYA C., Surabaya
SELAMA empat tahun, Oswyn Karsten Wattimena bergelut dengan meneliti abu hasil pembakaran batu bara atau fly ash pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Dia meyakini, material tersebut menyimpan potensi besar bila diolah dengan tepat. Tidak sekadar menjadi limbah.
Oswyn berhasil membuktikannya. Abu hasil pembakaran batu bara bisa diolah menjadi material pengganti semen. Penelitiannya itu turut mengantarkannya meraih predikat sebagai doktor pertama Teknik Sipil Universitas Kristen Petra Surabaya.
Menurut Oswyn, pemanfaatan abu itu bukanlah hal baru. Namun, ada yang membedakan inovasinya dengan temuan yang lain. Salah satunya, lebih ramah lingkungan.
Dia hanya memakai air untuk mencampur limbah pembakaran batu bara tersebut. Selama ini, membuat semen dari fly ash harus memakai aktivator alkali.
“Sehingga dapat dikerjakan dengan metode yang umum,” kata pria yang berprofesi structural engineer tersebut Minggu (6/8) lalu.
Tidak sembarang abu hasil pembakaran batu bara yang bisa digunakan untuk membuat semen. Ada kriteria khusus, yaitu harus memiliki kandungan kalsium cukup tinggi. Dengan begitu, material itu memiliki sifat self-cementing atau dapat mengeras dengan sendirinya saat dicampur dengan air.
“Saya lihat ini punya suatu keunikan khusus. Jika bisa 100 persen menjadi pengganti semen, kenapa tidak dimanfaatkan?” ujar Oswyn.
Setelah melalui pencampuran, limbah itu memiliki kekuatan melebihi beton. Kuat tekannya mencapai 60 MPa. Kuat tekan beton sampai 37 MPa pada umur 28 hari. Itu telah melebihi standar minimal mutu beton normal sebesar 17 MPa.
“Target kami memang lolos SNI saat ini, bukan yang kualitas 100 persen,” terang pria asli Surabaya tersebut.
Dari pengamatan mikroskopis, ada perbedaan antara semen yang dibuat dari abu PLTU dan semen yang beredar di pasaran. Pengerasannya tampak seperti bola yang ditetesi air. Sementara, semen akan terlihat meleleh, lalu menyatu dan membentuk semacam material baru.
Bagi Oswyn, setiap produk memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. “Secara tampilan luar, produk ini berwarna cokelat cenderung merah. Kalau semen lebih terlihat abuabu kehijauan,” papar Oswyn.
Oswyn menghadapi beragam tantangan saat memulai risetnya. Misalnya, pandemi yang menghambatnya datang ke laboratorium. Komposisi adonan pun harus pas. Bila adonan terlalu kental atau encer, penelitiannya bakal berujung pada kegagalan.
Setidaknya produk hasil penelitiannya harus lolos percobaan kuat tekan, kuat tarik, kuat lentur, dan daya kelekatan. “Ini juga bertujuan mengurangi efek rumah kaca yang ada di proses produksi semen umum,” ungkap pria 35 tahun tersebut.
Oswyn terus berupaya meningkatkan kualitas produk dari berbagai aspek. Dia memiliki impian kelak produknya itu dapat dipasarkan secara komersial dan digunakan untuk struktur bangunan skala besar.
Saat ini bentuknya masih berupa produk pracetak dan bakal dikembangkan dalam bentuk ready mix. Ada beragam tahapan yang harus dilalui. Salah satunya, kesiapan teknologi. “Supaya dapat digunakan secara massal di kemudian hari,” tegasnya. (*/c14/aph/jpg)


