Sunday, 21 June, 2026

Dampak Sebaran Asap Selimuti Tarakan

TARAKAN – Tarakan diselimuti asap sekitar pukul 16.00 Wita, Minggu (1/10) lalu. Diduga asap berasal dari wilayah Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Prakirawan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan Raa’ina Farah Nur Annisa mengatakan, prediksi cuaca cerah berawan pada Senin (2/10). Dari pengamatan citra satelit yang ada di Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan, jarak pandang berada di bawah 5 kilometer.

“Kelembapan udaranya juga relatif lebih rendah, sekitar 60 sampai 70 persen,” sebutnya.

Raa’ina menyebutkan, untuk asal muasal asap sendiri belum dapat disimpulkan oleh BMKG. Sementara di wilayah Kaltara belum terpantau adanya titik panas atau hot spot. Namun, jika melihat wilayah Kalimantan lain, seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan cukup banyak terdeteksi hot spot.

“Jadi kalau dilihat dari citra satelit, hot spot banyak terdeteksi di wilayah Kalimantan lain. Kemudian kalau melihat dari arah angin, dari arah selatan menuju ke arah utara. Artinya angin dari selatan sampai ke arah utara,” ungkapnya.

Menurut dia, jarang pandang masih ada pada ambang batas normal. Sehingga tidak menghambat aktivitas landing dan take off pesawat. Pihaknya mendapati informasi sebaran asap juga terjadi di Nunukan.

“Sementara untuk Tanjung Selor dan wilayah Krayan, hanya melaporkan jarak pandang yang kabur. Masih kami pastikan kembali pandangan kaburnya itu dikarenakan apa. Kalau Tarakan dan Nunukan karena asap,” ungkapnya.

Durasi asap yang menyelimuti Tarakan dan Nunukan belum dapat dipastikan hingga kapan. Sebab pihaknya belum mengetahui pasti sumber asap ini. Namun, diduga kuat asap ini berasal dari arah angin Selatan Kalimantan Utara. Kecepatan angin dari wilayah Selatan menuju Utara, berada pada 10-15 knots.

Menurutnya, asap yang ada tidak juga terjadi karena udara panas yang ada saat ini. Misalnya saja pada fenomena kebakaran hutan dan lahan. Awal mulanya diakibatkan oleh suhu panas berlebih.

“Kalau udara panas itu faktor pendukungnya saja. Kecepatan angin ini rata-rata, bukan permukaan. Masih relatif normal saja,” ucapnya.

Cuaca panas yang terjadi beberapa hari terakhir, lantaran matahari berada di sekitar equator atau khatulistiwa. Sehingga penerimaan sinar matahari lebih banyak dibanding hari biasanya. Pada siang hari, pertumbuhan awan juga tak terlihat. Sehingga suhu udara lebih panas dari biasanya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru