Wednesday, 6 May, 2026

Maryanto ”Satria Nusantara” Finis di Spartathlon Yunani, Kejar Rekor Dunia Lari 48 Jam

Maryanto, 61, mulai berlari ultramarathon enam tahun lalu. Terbaru, dia finis Spartathlon 2023 di Yunani sejauh 246 km dalam waktu 35 jam 56 menit. Dia berlari berdasar sport science dengan latihan teratur, terukur, disertai disiplin nutrisi dan istirahat. Maryanto belum ingin berhenti berlari.

RUTE sepanjang 246 kilometer dari Kota Athena menuju Sparta, Yunani , itu melintasi jalan aspal, paving, tanah, kerikil, serta tanjakan dan turunan yang panjang.

Belum lagi cuaca dengan perbedaan temperatur dari 9–27 derajat Celsius yang sangat menguras tenaga. Saking beratnya race itu, setiap tahun rata-rata yang berhasil finis hanya sekitar 40 persen peserta dengan rentang usia sebagian besar 30–40 tahun.

Empat menit menjelang cut off-time 36 jam, Maryanto berhasil mencapai garis finis. Dia mencatatkan waktu 35 jam 56 menit.

“Tentu bahagia bisa finis membawa bendera Merah Putih walau sedikit kurang puas karena waktunya agak mepet,” ungkap Maryanto saat dihubungi Jawa Pos dari Surabaya pada Kamis (12/10) lalu.

Ternyata, Spartathlon bukanlah race paling jauh yang pernah diikuti suami Farchatul Kifyati tersebut. Pada 2018, di usia 56 tahun, Maryanto pernah mengikuti Tambora Challenge Lintas Sumbawa di NTB, menempuh jarak sejauh 320 km dengan batas waktu 72 jam.

Hebatnya lagi, Maryanto berhasil finis dengan capaian waktu 63 jam 14 menit dan menjadi juara II. “Juara satunya seumur anak saya yang pertama dan juara tiganya sepantaran anak saya yang nomor tiga,” cerita Maryanto.

Maryanto menuturkan, untuk bisa lolos kualifikasi Spartathlon, dirinya sering mengikuti lomba lari ultra selama empat tahun terakhir. Pada 2022, dia mengikuti 24 Horas Santander di Spanyol.

Pesertanya diharuskan berlari 24 jam sejauh mereka mampu mengelilingi taman kota dengan jarak 1,8 km setiap putarannya. “Saat itu saya berhasil menempuh jarak 186,87 km sehingga mendapat tiket untuk mendaftar Spartathlon,” lanjutnya.

Maryanto menekuni lari ultra sejak 2017. Sebelumnya, tepat di ulang tahunnya yang ke-40, dia membuat tantangan fisik agar semakin bertambahnya usia, tidak semakin lemah fisiknya.

“Saya lari dari Jogja ke Pantai Parangtritis 25 km, ada juga yang Jogja–Kaliurang dengan jalur menanjak. Saat ulang tahun ke-54, saya naik turun 10 gunung di Jawa Tengah dalam waktu 5 hari,” urainya.

Pendiri Lembaga Seni Pernapasan (LSP) Satria Nusantara itu merasakan, semakin bertambah umur, semakin bagus larinya. Baik dari kerja jantung maupun kecepatan.

Maryanto berlari berdasar sport science dengan latihan teratur, terukur, terarah, dan berkesinambungan. Termasuk disiplin makan sehat dan cukup tidur, 7,5–8 jam. Sehingga sehat dan aman.

Empat bulan sebelum lomba, dia menabung lari 160–200 km per minggu. Ditambah latihan kekuatan dan stretching 2 kali sepekan. “Bahkan menurut metabolisme tubuh, umur biologis saya masih 28 tahun, hahaha,” seru Maryanto.

Maryanto menyebut masih punya mimpi memecahkan rekor dunia berlari 48 jam kategori usia 65 tahun. Rekor dunia berlari 48 jam dipegang Christian Mainix, yaitu sejauh 324 K. “Orang lain bisa, saya yakin juga bisa. Saya masih punya waktu latihan tiga tahun lebih lagi. Wish me luck,” tekad Maryanto. (lai/c7/nor/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru