Monday, 4 May, 2026

Kreativitas 2 Desainer Harumkan Nama Indonesia, Tinggalkan Jejak Karya di Kota Mode Dunia

September barangkali adalah bulan tersibuk Ivan Gunawan tahun ini. Selain rutinitas nge-host dan persiapan Miss Grand International 2023, dia punya gawe besar.

DESAINER yang akrab disapa Igun itu mengikuti fashion show di tiga ibu kota mode dunia dalam waktu berdekatan. Mulai Paris, New York, hingga London. “Sibuk deh, pokoknya,” ujar Igun saat ditemui Jawa Pos beberapa waktu lalu.

Pada 2016, Igun pernah mengusung karyanya ke pentas dunia. Tepatnya di Los Angeles Fashion Week. Kala itu dia membawa brand Jajaka. Setelah itu, Igun sibuk di dunia hiburan, bisnis, dan ajang fashion show dalam negeri.

Tahun ini dia kembali berkesempatan unjuk gigi. Langsung di tiga kota sekaligus. Yang pertama adalah Front Row Paris 2023 pada 2 September di The Westin Paris-Vendome, Paris. Ajakan kepada Igun disampaikan langsung oleh Chairman Indonesia Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma. Di sana dia memamerkan koleksi Maharani dari brand utamanya, Ivan Gunawan. Ciri khasnya adalah busana couture berupa gaun dan evening wear.

“Aku beruntung karena pihak televisi tempatku kerja memberi aku kesempatan untuk berkarya sebagai desainer,” jelas Igun.

Total, dia membutuhkan waktu setengah tahun untuk mempersiapkan koleksi Maharani di tengah jadwalnya yang padat. Seusai dari Paris, Igun mendapat tawaran untuk ikut New York Fashion Week (NYFW) dari Indonesia Now. Platform yang didirikan Dina Fatimah alias Eski, fashion stylist asal Indonesia di New York, itu juga didukung istri mantan Duta Besar Indonesia untuk AS Rosan Roeslani, Ayu Heni Rosan.

Igun kembali mengusung koleksi Maharani untuk dipamerkan dalam sesi Indonesia Now di NYFW SS 2024 pada 13 September lalu. Dia sengaja membawa Maharani, karena ingin kembali memamerkan koleksi dengan tampilan red carpet. Kali ini di New York. Dia berharap para pelaku industri hiburan Hollywood melirik karyanya.

“Aku juga sempat show di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC,” ungkapnya.

Dari AS, Igun kembali terbang ke Eropa. Kali ini ke LFW SS 2024. Igun membawa brand busana muslim premiumnya, Ivan Gunawan Prive. Dengan dukungan Kementerian Perdagangan, Indonesia Now kembali terlibat dalam proses kurasi untuk pementasan di Lone Design Club, London, pada 18 September tersebut.

Igun menyatakan, busana modest punya prospek di London. “Populasi dan komunitas muslim di sana cukup banyak. Kemarin yang datang ke sana banyak hijaber,” jelasnya.

Kerja keras Igun berbuah manis. Dari show-nya di Paris, dia lalu bertemu dengan kalangan public relation (PR) yang bisa memperluas jangkauan brand-nya. Rencananya, koleksi Igun terlibat di pergelaran Cannes Film Festival 2024. Printemps, sebuah department store di Paris, akan memberikan satu ruangan khusus untuk koleksi Igun. “Jadi, buyer bisa ke sana untuk lihat koleksiku,” ujar Igun.

Respons yang hangat juga diberikan kepada Igun di New York dan London. Igun sudah bertemu dengan PR di New York yang bakal membantunya memperluas jangkauan brand untuk Hollywood.

Desainer Indonesia lain yang juga unjuk karya di kancah internasional, yakni Didiet Maulana. Didiet unjuk karya dalam sesi Indonesia Now di New York Fashion Week Spring/Summer (NYFW SS) 2024 pada September lalu. Di Spring Studios, New York, pemilik label Ikat Indonesia itu melansir koleksi busana ready-to-wear terbarunya, Wiron.

Didiet mengaku sukses menembus NYFW SS 2024 berkat Indonesia Now. Sekitar empat bulan lalu, Indonesia Now mengontaknya. “Langsung saya kasih portofolio saya,” kata desainer 42 tahun itu dalam jumpa pers virtual beberapa waktu lalu.

Begitu mendapat kabar bahwa karyanya akan tampil perdana di NYFW, Didiet langsung sibuk. Dia segera mencari ide terbaru untuk koleksinya. Tentu saja tidak sekadar mengusung ciri khas wastra ala Ikat Indonesia. Tapi juga harus sesuai dengan tren global musim semi dan musim panas.

Yang lebih penting adalah mencari tahu gaya berbusana sepeti apa yang diminati pasar New York. Didiet kemudian mengamati acuan tren mode dunia. Salah satunya WGSN. Dia lantas menemukan warna nutshell, fondant pink, cyber lime, dan earth-tone yang cocok dipadukan dengan keindahan tropis Indonesia.

Berdasar riset, Didiet juga percaya diri bahwa potongan feminin seperti rok panjang dan dress dengan aksen pleats atau lipit bakal menjadi tren pada awal tahun depan.

Aksen lipit inilah yang kemudian dieksplorasi Didiet dalam koleksi Wiron. Dalam bahasa Jawa, wiron artinya lipit atau aksen yang kerap ditemukan pada kain padanan kebaya maupun busana etnik lainnya.

“Ini menunjukkan bahwa kita di Indonesia sudah punya fashion vocabulary atau gaya yang sesuai tren dunia,” jelas Didiet.

Ciri khas Didiet dan Ikat Indonesia yang konsisten dengan wastra, tecermin dalam penggunaan kain tenun ikat dan lurik dari berbagai daerah di Indonesia. Selain aksen lipit dan motif tenun, Didiet juga mengadaptasi siluet oversized. Dia menjelaskan bahwa siluet itu mirip dengan baju bodo khas Bugis yang berpotongan longgar atau lebar.

Ada juga brallete, yang menyerupai desain kemben tradisional Indonesia. Dengan mengadaptasi siluet busana tradisional ke runway NYFW, Didiet ingin menunjukkan bahwa fashion di Indonesia sebenarnya sangat sejalan dengan tren dunia. Termasuk busana etnik.

“Perlu ada penyesuaian terminologi dari fashion lokal ketika dibawa ke dunia fashion internasional,” tambah Didiet.

Upaya Didiet disambut baik. Saat pergelaran Indonesia Now, para fashionista dan media New York menaruh perhatian pada perpaduan gaya urban dan motif etnik karya Didiet. Peluang kerja sama pun terbuka.

Didiet mengatakan bahwa, ada dua hingga tiga multibrand store yang tertarik berkolaborasi dengan Ikat Indonesia. Namun, semuanya masih dalam tahap diskusi dan penjajakan. “Banyak yang harus dibahas, seperti skalabilitas. Mohon doanya,ya,” pungkas Didiet. (len/c6/ca14/hep/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru