Tuesday, 23 June, 2026

Cerita Pasangan Nomanden Mengembarai Indonesia: Tak Pernah Bosan, Hidup Jadi Minim Konflik

Denny Hendrawan Piliang dan Zubaidah menjalani delapan tahun kehidupan mereka dari berbagai tempat berbeda. Pasangan nomaden yang akrab disapa Bang Den dan Kak Beda itu sangat menikmati pilihan hidup mereka tersebut. Perlahan tapi pasti, harapan keduanya untuk melihat Indonesia dari dekat tercapai.

BANG Den selalu ingin berkeliling Nusantara sejak remaja. Keinginan itu dia pelihara sembari menyiapkan bekal materi dan mental. Pada awal 2016, harapan tersebut mulai dia wujudkan setelah berhasil meluluhkan hati sang istri.

“Wajar perempuan banyak pertimbangan,” ujarnya kepada Jawa Pos saat dihubungi pada Rabu (22/11).

Kak Beda memang tidak langsung memberikan lampu hijau ketika suaminya mengungkapkan harapan terpendamnya itu. Perempuan berambut panjang tersebut menganggap obsesi Bang Den untuk mengembara sebagai hal aneh. Namun, kesungguhan dan kegigihan Bang Den yang tak lelah ”mempromosikan” impian besarnya itu membuat Kak Beda tergugah untuk membantu sang suami mewujudkan obsesinya.

“Akhirnya (pikirannya) kebuka. Butuh empat bulan (diskusi), akhirnya istri setuju,” terang Bang Den.

Berdua, mereka lantas berusaha meyakinkan orang tua Kak Beda tentang pilihan hidup yang tidak lazim itu. “Kami bilang ke ibu-bapak, mau berusaha hidup di kampung, di Sumatera. Karena nggak punya bahan menjelaskan,” kata pria kelahiran Sumatera Barat tersebut.

Restu orang tua Kak Beda didapatkan. Perjalanan pun dimulai. Selain Ford Everest yang mereka desain senyaman mungkin untuk ditinggali, Bang Ben dan Kak Beda berbekal tabungan seadanya. Ketika itu, mereka belum tahu bakal berapa lama berkeliling Indonesia.

“Kita masuk ke tanda tanya besar. Kita nggak tahu di depan akan menjumpai apa,” jelasnya.

Beruntung, petualangan mereka relatif lancar di awal. Mereka menjelajahi jengkal demi jengkal bumi Nusantara tanpa kendala berarti. Mereka mengarungi hidup baru sebagai ”manusia mobil” karena sebagian besar waktu dihabiskan di sana.

Masalah muncul pada bulan keenam petualangan. Ketika sampai Aceh, cadangan uang habis. Strategi diubah. Bang Ben dan Kak Beda tidak sekadar menikmati perjalanan demi mewujudkan impian, tapi juga memutar otak untuk membiayai petualangan. Ada banyak kebutuhan yang tetap perlu dipenuhi sebagai nomaden.

Ide pertama yang muncul adalah menyablon kaus dan menjualnya sepanjang jalan. “Kepepet kan, kita berani jual-jual kaus kita ke komunitas, ke medsos, akhirnya orang support,” cerita Bang Den.

Upaya itu membuahkan hasil. Kebutuhan sehari-hari mereka sebagai nomaden bisa terpenuhi dari jualan kaus. Menjadi nomaden sambil terus berkeliling Indonesia menjadi petualangan jiwa juga bagi Bang Den dan Kak Beda.

Cara mereka memandang hidup dan cara mereka bersikap serta bertindak tak lagi sama. Yang paling menonjol, keduanya menjelma menjadi sosok-sosok sederhana. “Kita hidup di mobil kan terbatas. Mau beli satu celana aja harus kirim satu pulang dulu,” ujarnya mencontohkan.

Karakter itu, lanjut dia, belum tentu bisa didapatkan di bangku-bangku sekolah. Bang Den merasa hidupnya sekarang sebagai nomaden jauh lebih nikmat. “Hidup nomaden minim konflik. Nggak pernah bosen juga. Tiap daerah baru artinya alam yang baru, budaya yang baru, dan orang-orang yang baru,” tegasnya.

Dalam waktu dekat, keduanya akan bertualang di Pulau Kalimantan. “Utang satu pulau itu yang belum kami jelajahi,” pungkas Bang Den. Semoga segera tertunaikan, Bang! (far/c6/hep/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru