Sunday, 21 June, 2026

Mensa Indonesia, Komunitas Beranggota Orang-Orang Ber-IQ di Atas 132

Bahasan di luar nalar tentu ada, tapi kegiatan para anggota Mensa Indonesia sejatinya tak ubahnya komunitas lain, seperti nge-game atau nonton bareng. Kini kian membuka diri, member yang tukang kelontong pun ada.

ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta

PASTI bahasannya kalau tidak fisika kuantum, ya alasan kenapa planet Mars bisa ditempati. Pasti untuk bersantai pun, yang didengarkan simfoni garapan Johann Christian Bach dan yang dibaca buku-buku Sigmund Freud.

Rasa-rasanya itu guneman orang kebanyakan begitu mendengar ada komunitas semacam Mensa Indonesia yang para anggotanya rata-rata ber-IQ di atas 132.

Jauh di atas rata-rata IQ warga +62 (baca: orang Indonesia): 82 . Tapi, ternyata komunitas tersebut tak selalu ”seserius” itu. Menurut Chairman Mensa Indonesia Satriadi Gunawan, grup WhatsApp komunitasnya sama seperti grup pada umumnya. Bedanya hanya soal daya tangkap antaranggota.

Karena berisi orang-orang dengan IQ di atas 132, tek-tokan dari obrolan grup tersebut lebih cepat. “Tapi, ada juga sih topik yang di luar nalar, yang nggak biasa,” kata Satriadi, lantas tertawa.

Misalnya, soal hal-hal yang berhubungan dengan sains. ”Soal time loop, mesin waktu gitu, hehehe,” sambungnya.

Bahasan itu biasanya lebih mudah dijawab ketimbang yang lain. Misalnya, jokes atau tebak-tebakan receh ala bapak-bapak. Dalam suatu momen gathering, panitia telah menyiapkan tebak-tebakan tersebut.

Siapa sangka, pertanyaan dari kuis itu justru membuat member kelimpungan.

“Lebih susah sih emang, gak terpikirkan gitu. Tapi, seru pada ketawa,” kenangnya, lantas kembali terbahak.

Kegiatan para anggota pun sama saja seperti komunitas pada umumnya. Mereka doyan main game atau nonton film bareng. Untuk masing-masing hobi itu, dibuatlah beberapa grup WhatsApp secara spesifik.

Ada grup sport, games, movie, hingga karier. Grup karier itu merupakan program baru Mensa Indonesia dengan tujuan bisa membantu para anggota muda membangun karier. Mereka akan dipandu para senior yang telah memiliki jabatan strategis.

Komunitas itu awalnya dibentuk memang untuk mewadahi para individu dengan IQ 2 persen teratas yang kadang susah terkoneksi dengan lingkungannya. Didirikan di Inggris pada 1946, dua pendirinya pun, Roland Berrill dan Lancelot Ware, sepakat membuat komunitas tersebut karena merasa kesulitan berkomunikasi dengan yang lain.

Kesulitan untuk bisa terkoneksi dengan yang lain sebenarnya juga dialami Satriadi. Kadang, ada maksud dari pemikirannya yang sulit dipahami orang lain. Sementara, dengan member Mensa cenderung lebih gampang.

“Mungkin karena wavelength-nya sama, jadi lebih mudah,” ungkap pria dengan range IQ 130–139 tersebut kepada Jawa Pos di Jakarta Agustus lalu.

Saat ini, ada sekitar 145 ribu anggota yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Sebanyak 250 orang di antaranya berada di Indonesia dan tergabung di Mensa Indonesia.

Untuk anggota di Indonesia, ada yang mencapai 145 skor IQ-nya. Untuk masuk menjadi member Mensa Indonesia, selain syarat IQ 2 persen teratas, ada syarat lain: berusia minimal 14 tahun.

Usia tersebut dinilai paling ideal. Sebab, sebelum 14 tahun, kecerdasan seseorang masih bisa berubah sesuai dengan nutrisi dan pengasuhan yang diterima.

“Anggota kita ada yang 14 tahun 5 bulan, ayahnya anggota Mensa juga. IQ genetik gitu kan menurun,” katanya.

Mensa Indonesia kian membuka diri untuk merangkul para intelektual dengan berbagai jenis latar. Sebab, kecerdasan itu beragam dan luas. ”Bahkan, ada tukang kelontong (pemilik warung kelontong) juga yang jadi anggota,” tuturnya.

Dengan makin inklusif, Mensa Indonesia berharap bisa membantu memetakan dan mengembangkan anak-anak bangsa sehingga potensi mereka termaksimalkan. Terlebih, Indonesia akan dihadapkan pada bonus demografi pada 2045.

Karena itu, Mensa Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga memberikan pelatihan mengenai nilai kecerdasan dan logika. Kemudian membuat talent pool untuk anak-anak dengan kecerdasan luar biasa.

Nurul Qomariyah, salah seorang anggota Mensa Indonesia, mengaku mendapat banyak manfaat setelah bergabung dalam komunitas tersebut. Sebagai pengidap sindrom asperger, yang membuatnya sulit membaca ekspresi orang, Nurul sempat kesulitan untuk berkomunikasi secara efektif di bersekolah.

Dengan dukungan orang tuanya, Nurul mencoba untuk mengatasi hambatan dan keterbatasan tersebut. “Setelah bergabung dengan Mensa, saya kini bisa menjadi analis, bisa menjadi dosen,” tuturnya.

Anda yang mungkin ber-IQ biasa saja, tapi kebetulan suatu hari berkumpul bersama orang-orang genius, juga tak perlu minder. Satriadi sudah memberikan clue tadi: ajak saja main jokes bapak-bapak.

“Ayo, keripik-keripik apa yang nyambung?” misalnya. Kalau mereka kelimpungan, tambahi saja, ”Coba, kue-kue apa yang bisa nyanyi dangdut?”…(*/c7/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru