Sejak menanam zodia, kasus DBD di Kelurahan Simomulyo berangsur turun. Puskesmas juga merancang permainan untuk memudahkan warga mengenal fase perkembangan nyamuk.
DIAN WAHYU PRATAMA, Surabaya
PENANAMAN zodia dan pembuatan game edukasi tentang demam berdarah dengue (DB) yang dirancang Puskesmas Simomulyo menuai hasil. Kasus DBD di Simomulyo Baru kini berangsur turun.
Zodia, tanaman dari Papua itu, berfungsi sebagai insektisida alami yang ramah lingkungan dan tidak mengganggu ekosistem. Menurut Kepala Puskesmas Simomulyo dr Eko Apriyanto, zodia mengandung evodiamine. “Fungsinya sebagai pengusir nyamuk,” paparnya saat ditemui Rabu (7/12) lalu.
Penanaman zodia dimulai pada 2018. Di setiap rumah, minimal ada satu tanaman zodia. Pada tahap awal penerapan program itu, kata Eko, yang menjadi percontohan adalah RW 2.
Berlanjut ke RW yang lain. “Sampai ada Kampung Zodia di RT 5 RW 2, Kelurahan Simomulyo Baru,” jelasnya.
Koordinator KSH Kelurahan Simomulyo Baru Subaika menjelaskan, saat ini di setiap rumah minimal ada satu tanaman zodia. “Selalu ada di depan rumah,” ujarnya.
Cara merawat zodia tidak sulit. Cukup disiram sehari sekali. “Di RT 5 RW 2, satu rumah bisa menanam tiga hingga empat zodia,” papar Subaika.
Zodia yang ditanam di depan rumah ternyata ampuh mencegah datangnya nyamuk. Yayuk Diana Wati, warga RT 5 RW 2 Kelurahan Simomulyo Baru, sudah merasakan manfaatnya.
Rumahnya bebas nyamuk. Selain itu, lima tahun belakangan, jumlah pasien kasus DBD di wilayahnya menurun. “Alhamdulillah, berkat penanaman zodia,” ujarnya.
Pada 2018, sebanyak 14 warga Simomulyo Baru terkena DBD. Tahun ini jumlahnya turun drastis. Hanya dua orang.
Selain menanam zodia, Puskesmas Simomulyo juga menyosialisasikan langkah pencegahan DBD dengan permainan. Game itu dibuat agar warga tak bosan saat mendengar penyuluhan tentang DBD.
Petugas Promkes Puskesmas Simomulyo Dwi Kurnia Puspitasari mengatakan, ada dua jenis permainan edukasi penyakit DBD. Yaitu, game peran pemberantasan nyamuk dan edukasi peta perjalanan bumantik.
Permainan peran bisa dimainkan enam sampai delapan orang. Sedangkan edukasi peta perjalanan bumantik minimal dimainkan dua orang.
Lewat dua game itu, warga mendapatkan informasi tentang proses perkembangbiakan jentik nyamuk hingga menjadi nyamuk dewasa. “Itu sangat penting diketahui masyarakat,” tambahnya.
Nia, sapaan akrab Dwi Kurnia Puspitasari, menyatakan, KSH kerap memainkan game itu saat turun memeriksa keberadaan jentik nyamuk di bak mandi milik warga. ”Sembari bertugas, KSH mengedukasi warga,’’ ujarnya.
Petugas promkes Puskesmas juga rajin membuat konten edukasi di media sosial dan disebarkan melalui WhatsApp (WA). Isi konten tersebut mengingatkan warga akan pentingnya perilaku 3M plus (menguras, menutup, dan mendaur ulang). (*/c6/aph/jpg)


