Muhammad Ridho tidak akan pernah bisa melupakan pendakian gunung pertamanya. Pemuda 21 tahun itu selamat dari erupsi Gunung Marapi pada 3 Desember lalu. Kepada wartawan Padang Ekspres Rian Afdol, dia menceritakan pengalaman yang nyaris merenggut nyawanya itu.
RIDHO dan enam rekannya sedang menuruni lereng Marapi ketika letusan dahsyat memekakkan telinga mereka. Pukul 15.00 hari itu, mereka dalam perjalanan menuju cadas setelah meninggalkan Tugu Abel Tasman. “Erupsi itu terjadi secara tiba-tiba, tidak ada tanda-tanda. Letusan langsung merupakan letusan yang besar,” ungkapnya saat ditemui di ruang rawat inap RSAM Bukittinggi pada Kamis (7/12) lalu.
Panik, Ridho dan kelompoknya spontan lari menyelamatkan diri. Tujuan mereka hanya satu: ke bawah. “Kami berjarak sekitar 40 meter dari pusat kawah. Saat itu, ada sekitar 20 pendaki lain yang posisinya dekat dengan kami,” lanjutnya.
Dia mengatakan, suasana saat itu langsung kacau. Semua pendaki bergegas turun. “Letusan itu disusul hujan batu panas. Setelah itu, abu vulkanis menyembur dan bau belerangnya sangat tajam. Sekitar kami terasa sangat panas. Saya pikir, saya akan mati saat itu,” cerita Ridho.
Semburan material dari perut Marapi itu membuat Ridho dan kelompoknya serta 20-an pendaki lain yang tadinya berlari dalam rombongan terpecah. Ridho dan dua rekannya terpisah dari kelompok. Salah seorang di antaranya mengalami patah kaki akibat terjatuh saat berlari. Semua dicekam ketakutan. Apalagi, semburan abu dan hujan batu panas tak kunjung berhenti.
“Saya terus berlari turun. Jatuh, terpental, tapi saya terus menuju ke bawah sambil merangkak dan ngesot. Saya tidak tahu pasti keadaan kaki saya. Saya mencoba berdiri, tapi tidak bisa,” paparnya.
Dalam posisi ngesot itu, Ridho mencapai area yang terbuka. Celaka. Tidak ada yang bisa melindunginya dari deraan batu panas. “Saya coba menghindari batu, tetap tidak bisa. Jumlahnya terlalu banyak dan tidak terlihat,” katanya. Kepala Ridho sempat tersambar batu panas yang dimuntahkan Marapi.
“Sambil ngesot dan berguling-guling, saya akhirnya sampai ke area yang ada belukarnya. Semak-semak. Saya berlindung di sana untuk menyelamatkan diri,” sambung Ridho.
Bersama Aditia Sukirno Putra dan Muhammad Arbi Muharman, dia tiba di pos terdekat sekitar pukul 16.00 WIB atau sekitar satu jam setelah letusan pertama. Ridho lantas berlindung di bawah meja-meja yang ada di pos itu. “Dari kami bertiga, Adit yang kondisinya paling baik. Saya memintanya segera turun dan meneruskan informasi bahwa saya dan Arbi masih di atas,” terangnya.
Dari pos itu, sebenarnya Ridho sudah berusaha menghubungi keluarganya. Namun, handphone-nya ternyata terserempet batu panas dan tak bisa digunakan.
Bersama Arbi di pos tersebut, Ridho mengingat kembali upayanya untuk menyelamatkan diri. Sepanjang rute, dia melihat beberapa pendaki lain tergeletak. Ada juga yang minta tolong.
“Sebenarnya ada keinginan menolong pendaki lain, tapi kondisinya begitulah,” ucapnya lirih.
Di pos itu, dia juga bertemu pendaki lain yang selamat. Setelah memberikan bekalnya dan sleeping bag yang dia bawa, pendaki itu memotret kondisi Ridho dan Arbi, lantas meneruskannya ke pos paling bawah. Ridho dan Arbi tertahan di pos itu hingga hari berikutnya. Mereka baru dievakuasi pada Senin (4/12) pukul 12.00 WIB.
“Setahu saya, yang datang adalah masyarakat dan tim gabungan. Saya sangat berterima kasih kepada mereka semua,” katanya.
Ridho meninggalkan rumah sakit pada Jumat (8/12) malam. Sementara Adit sudah pulang ke Pekanbaru, Arbi masih harus dirawat di RSAM Bukittinggi. Empat teman Ridho lainnya, yang sama-sama berangkat dari Pos Batu Palano, meninggal dalam erupsi tersebut. Mereka adalah Nazatra Atzin Mufadhal, M. Wilky Saputra, Ilham Nanda Bintang, dan M. Adnan. (*/c18/hep/jpg)


