Kepemimpinan dua wasit asal Jepang Yusuke Araki di laga Persita Tangerang kontra Persikabo 1973 di Indomilk Arena (10/12), Kabupaten Tangeran, dan Futoshi Nakamura pada duel Persib Bandung versus Persik Kediri di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, mendapat banyak respons positif. Baik dari pemain, pelatih maupun suporter.
TAUFIQ ARDYANSYAH-BAGUS PUTRA PAMUNGKAS, Jakarta
PELATIH Persita Tangerang Divaldo Alves memasuki ruang media center Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, dengan raut wajah gembira Minggu (10/12) malam lalu. Selain karena timnya menang 2-1 atas Persikabo 1973, kegembiraannya merujuk pada kepemimpinan wasit asal Jepang Yusuke Araki yang memimpin pertandingan.
Mantan pelatih Persik Kediri itu menilai ada perbedaan antara kepemimpinan wasit lokal dan asing. Tapi, menurut dia, perbedaannya tidak banyak. “Perbedaan itu bukan karena bagus atau tidak bagus. Tapi, wasit asing bikin pertandingan lebih lancar. Tidak banyak berhenti,” ujar pelatih asal Portugal tersebut.
Hal yang sama diungkapkan Mario Jardel, pemain bertahan Persita. Dalam pertandingan tersebut, dia bahkan sempat dimarahi wasit Yusuke. Itu terjadi setelah dia melakukan pelanggaran serius terhadap Keven Steven Aleman Bustos pada menit ke-4.
“Ini sangat positif. Saya akui itu sangat bagus,” ucap pemain bernomor punggung 66 tersebut.
Mario dan Divaldo senang dengan kehadiran wasit asing dalam pertandingan. Menurut Divaldo, ini suatu hal yang positif. Tapi, Divaldo berharap wasit lokal tetap diberi porsi yang lebih banyak di Liga 1. Dia juga mendukung agar wasit- wasit di Indonesia lebih berkembang.
“Saya kira tinggal sedikit lagi saja PSSI memperbaiki wasit kita. Saya selalu percaya dengan orang Indonesia dan sepak bolanya. Apalagi, saya bekerja di sini. Wasit Indonesia bagus. Tinggal diperbaiki sedikit lagi,” bebernya.
Di sisi lain, Aji Santoso, pelatih Persikabo, menilai positif kepemimpinan wasit Yusuke. “Laga hari ini (Minggu malam) tidak ada masalah. Berjalan baik. Wasit juga baik,” ucap mantan pelatih Persebaya Surabaya itu.
Tapi, Aji tidak mau ambil pusing apakah setelah ini Liga 1 harus kembali menggunakan wasit asing atau tidak. “Menurut saya, itu menjadi keputusan federasi. Saya tidak ikut campur. Federasi lebih berwenang. Saya tidak mau berkomentar,” tandasnya.
Asisten pelatih Persik Kediri Mustaqim mengaku salut dengan kepemimpinan wasit Futuoshi Nakamura pada laga kontra Persib Bandung. “Kepemimpinannya bagus. Dia tegas. Terbukti saat Persik mendapat hadiah penalti, tidak ada satu pun pemain Persib yang berani protes,” kata Mustaqim kepada Jawa Pos.
Momen pelanggaran terjadi pada menit ke-49. Kiper Persib Ray Mendoza menjatuhkan Flavio Silva. Saat peluit pelanggaran ditiup, pemain Persib tampak legawa. “Mereka seperti sangat respek dengan wasit asing. Tidak sampai ada protes atau wasit dikejar-dikejar seperti biasanya,” beber mantan asisten pelatih Persebaya Surabaya itu.
Mustaqim pun berharap wasit asing di Liga 1 bisa ditambah. “Karena terbukti pemain cukup respek dengan mereka,” katanya.
Apalagi, Liga 1 2023–2024 akan memasuki akhir musim. Banyak pertandingan krusial yang bakal dijalani. Termasuk laga penentuan di papan atas dan zona degradasi.
“Terlebih, setelah ini ada laga penentuan juara dan degradasi. Itu kan dibutuhkan wasit yang teliti. Agar semua pihak bisa menerima keputusan yang dibuat,” beber Mustaqim. Meski begitu, bukan berarti dia tidak percaya dengan wasit lokal.
“Wasit lokal bagus. Tapi, ini momen yang pas untuk menyerap ilmu dari wasit asing,” ungkap mantan penyerang timnas Indonesia itu. (c19/ali/jpg/uno)


