Friday, 19 June, 2026

Suhu Maksimum di Tarakan Menurun

TARAKAN – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan mencatat suhu udara selama 2023 di Kota Tarakan, rata-rata 27,9 derajat Celsius. Dengan suhu minimum 22,2 derajat celsius pada 16 Januari 2023 lalu dan suhu maksimum 35 derajat celsius pada 14 Mei 2023.

Sementara pada tahun 2022 suhu udara berkisar 27,4 derajat celsius, suhu udara minimum 22,5 derajat Celsius. Terjadi pada 29 Maret 2022 dan suhu maksimum 34,6 derajat celsius. Sementara untuk kelembapan udara sepanjang  2023 tercatat kelembapan minimum 53 persen, pada 7 Desember 2023. Sementara pada tahun 2022 47,2 persen.

BMKG mencatat curah hujan maksimum harian 167,5 mm pada 10 September 2023 dan 117,6 mm di tahun 2022. Untuk curah hujan maksimum dasarian atau per 10 hari tertinggi pada Mei 2023 dengan 327,4 mm. Untuk curah hujan maksimum bulanan tertinggi tercatat Mei 2023 dengan 545 mm.

Untuk curah hujan pada tahun 2022 yakni 4.050,6 mm. “Sementara untuk jumlah curah hujan yang tercatat sampai 28 Desember 2023 yakni 3.842,7 mm,” jelas Kepala BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, Jumat (29/12) lalu.

Untuk penguapan terjadi sepanjang 2023 pada Agustus 2023 sebesar 14,7 mm. BMKG juga mencatat hari terjadinya guntur selama 2023, yakni sebanyak 114 kali dan 95 kali pada tahun 2022. Sementara untuk kecepatan angin yang terukur maksimum 20 km per jam pada Oktober 2023 dan tahun 2022 yakni 22 km per jam.

Ia menegaskan, terkait fenomena hujan lokal di Tarakan terjadi antara pagi hingga siang hari. Lantaran pada waktu tersebut, cenderung didominasi pola angin Timuran. Seperti yang terjadi pada 21 Desember 2023, pihaknya mengeluarkan peringatan cuaca di sebagian wilayah Tarakan saja.

“Kalau pola angin Baratan hujannya cenderung merata,” imbuhnya.

Dalam melakukan metode penghitungan, pihaknya melakukan penghitungan berdasarkan hari hujan. Baik untuk kejadian hujan perhari, per bulan dan per tahunnya. Setiap kali terjadi hujan, curah hujan yang ditimbulkan cenderung berbeda, tergantung cuaca saat itu.

“Itu semua frekuensi terjadi hujan sudah tercatat secara manual. Misal dalam November ada 24 hari hujan. Kami melakukan pengukuran untuk curahnya dalam satuan milimeter,” tuturnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru