Sunday, 19 April, 2026

Ratusan Penumpang Memadati Pelabuhan Tunon Taka Nunukan

NUNUKAN – Ratusan penumpang di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, rela berdesakan untuk berebut masuk kapal demi pulang kampung jelang Ramadan.

Bahkan, sejumlah penumpang nekat menyewa jasa speedboat untuk mengejar kapal dan memaksa naik. Antrean penumpang KM Thalia, sejak jam 07.00 Wita, Rabu (16/3) lalu.

Begitu pintu ruang tunggu dibuka pukul 10.00 Wita, ratusan penumpang akhirnya berdesakan dan berebutan masuk. Akibatnya, pintu masuk ruang tunggu penumpang yang terbuat dari material kaca, pecah berantakan. Menanggapi hal ini, Plt Kepala Kesyahbandaran dan Otorita Pelabuhan (KSOP) Nunukan Sukri, tidak membantah kondisi itu.

“Sejumlah stakeholder di pelabuhan dari KSOP, PELNI, Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP), agen tiket dan pengelola kapal sudah sepakat adanya penerapan PPKM. Kita batasi jumlah penumpang 70 persen dari kapasitas kapal,” ujarnya, Kamis (17/3).

Menurut Sukri, kapasitas KM Thalia tujuan Pare-Pare, Sulawesi Selatan sekitar 1.500 penumpang. Sehingga jumlah penumpang yang diakomodir 1.029 orang.

Sayangnya, kesepakatan yang sudah menjadi mufakat dalam rapat, tidak diindahkan para agen tiket. Dengan menjual tiket lebih dari ketentuan jumlah penumpang. Sehingga yang terjadi, banyak barang penumpang sudah naik kapal dan pemilik barang belum naik.

Sebaliknya, penumpang sudah ada dalam kapal. Namun barang penumpang tidak terbawa. “Semua yang terjadi merupakan tanggung jawab agen. Semua sudah disepakati dalam rapat yang kita adakan,” tegasnya.

Sukri menegaskan, KSOP Nunukan hanya memastikan jumlah penumpang sesuai dengan aturan PPKM. Selain itu, jumlah barang juga harus dipastikan bobotnya demi menghindari over load dan keselamatan para penumpang kapal.

Sukri juga tidak membantah, banyak penumpang yang kecewa dan protes. Bahkan nekat menyewa speedboat, untuk mengejar kapal dan memaksa naik.

“Meski mereka berbuat seperti itu (menyewa speedboat untuk mencoba naik kapal), namun tak ada satupun yang naik ke atas kapal. Kita menegakkan aturan dan kesepakatan dalam rapat. Kapasitas kapal sesuai aturan PPKM, dan keselamatan berlayar tetap kami pedomani,” ungkapnya.

Sementara itu, bagian operasi KM Thalia Andi Salman menjelaskan, fenomena penumpang membeludak jelang Ramadan memang selalu terjadi.

Lonjakan jumlah penumpang, biasanya didominasi para buruh perusahaan di Nunukan dan sejumlah PMI (Pekerja Migran Indonesia) di Malaysia.

“Biasanya tanggal gajian dibayarkan pertengahan bulan, jelang Ramadan. Itu menjadi waktu ideal pulang kampung, karena bisa berkumpul dengan keluarga,” imbuhnya.

Andi mengaku bertanggung jawab atas adanya barang-barang penumpang yang tidak terbawa. Nantinya, barang yang terbawa ke Pare-Pare akan dikoneksikan dengan para buruh di pelabuhan tersebut. Daftar pemilik diserahkan ke mereka, untuk nanti diambil pada saat kedatangan seminggu kemudian.

“Sementara untuk barang penumpang yang tidak termuat kapal, barang diamankan di gudang pelabuhan dan dipastikan aman. Untuk dibawa pada keberangkatan berikutnya,” jelasnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru