TARAKAN – Intensitas hujan di Kalimantan Utara (Kaltara) menurun dalam beberapa hari ke depan. Sebelumnya, Kaltara diguyur hujan lantaran adanya kondisi Madden Julian Oscillation (MJO) yang aktif di wilayah Indonesia, sehingga memberikan dampak hujan.
Diketahui, MJO merupakan osilasi atau sirkulasi yang terbentuk memanjang. Dari pantai timur benua Afrika ke pantai barat benua Amerika dan hanya mempengaruhi wilayah tropis. Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan Ida Bagus Gede Yamuna mengatakan, pada 20 Januari 2024, MJO sudah mulai bergerak ke wilayah timur. Umumnya, MJO bergerak dari barat ke timur.
Semakin MJO bergerak ke arah timur, maka intensitas hujan akan berkurang. “Untuk hari ini (kemarin, Red) MJO berada di kuadran 5 bergerak menjauh dari Kaltara. Sehingga intensitas hujan akan berkurang,” terangnya, Minggu (21/1).
Ia melanjutkan, area MJO terbagi menjadi 8 kuadran. Kondisi cuaca di wilayah Indonesia secara umum mendapat pengaruh dari MJO ketika masuk kuadran 3-6. Fase MJO terbagi menjadi fase basah dan kering. Setelah masuk fase basah akan diikuti fase kering di beberapa hari berikutnya.
“Kalau Kaltara paling berpengaruh di kuadran 3 dan 4. Karena sekarang sudah di kuadran 5, jadi MJO sudah ke wilayah perairan Sulawesi. Tapi, tak menutup kemungkinan masih akan hujan ketika arah angin berubah timuran. Meskipun kondisi MJO bukan berada di kuadran 4,” sebutnya.
Dalam beberapa hari ke depan, menurut Bagus, prediksi cuaca secara umum di Kaltara didominasi cerah berawan hingga berawan. Meski, terdapat beberapa wilayah yang akan turun hujan lokal. Faktor lokal di wilayah kepulauan Kaltara masih menjadi penyebab adanya hujan lokal.
“Karena dipengaruhi kondisi topografi di wilayah perairan dan daratan utama sebelah Timur, seperti Nunukan dan Sebatik. Wilayah kepulauan seperti Tarakan. Kalau dataran tinggi itu wilayah Malinau dan Nunukan bagian barat,” ungkapnya. (kn-2)


