Sembuh bagi anak-anak korban gangguan ginjal akut progresif atipikal (GGAPA) bukan berarti pulih tanpa ancaman. Orang tua korban meminta pemerintah lebih teliti mengawasi peredaran obat.
ZALZILATUL HIKMIA, Kabupaten Tangerang
“HARI Selasa dia cuci darah, masih nggak papa, masih lari-lari. Terus hari Jumat udah nggak ada,” kenang Siti Juleha, ibunda almarhum Barran Attaki Amrillah, 2, sambil terisak saat ditemui di rumahnya di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Rabu (17/1) pekan lalu.
Perempuan 30 tahun itu sempat terdiam lama saat kenangan tentang sang anak kembali menghantamnya. Air matanya tak kuasa lagi dibendung ketika mulai menceritakan perjuangan almarhum Barran. Untuk bertahan hidup setelah terpapar etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG), dalam obat Paracetamol cair yang dikonsumsinya.
Barran masih 10 bulan kala mengonsumsi racun berkedok obat sirup itu. Kisah Barran tak jauh beda dengan teman-teman senasib yang ratusan jumlahnya di berbagai penjuru tanah air. Ginjalnya sekarat seusai mengonsumsi Paracetamol sirup, yang diresepkan dokter guna menurunkan demam tingginya pada Juli 2022.
Awalnya, pihak rumah sakit daerah tak menduga ada kelainan pada ginjal bayi pasangan Siti Juleha dan Supiyan (37) itu. Pasalnya, sempat ada rekomendasi untuk pergi ke klinik sunat jika Barran masih juga tak bisa pipis.
Namun, karena kondisi badan Barran yang makin bengkak, pihak rumah sakit akhirnya mengambil tindakan USG. Saat tahu kondisi ginjalnya, dia langsung dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Di sana Barran sempat dinyatakan meninggal.
“Karena harus cuci darah, harus operasi pasang CDL (catheter double lumen). Di situ sempat penurunan, sempat dinyatakan nggak ada juga sama dokter. Tapi ada lagi, habis dikasih kejut jantung,” kenang Juleha.
Barran sempat terbaring tak sadarkan diri selama sebulan di ICU RSCM. Tapi, semangatnya berhasil membawanya lepas dari jeratan maut. Meskipun penglihatannya sempat terganggu setelah sadar dari koma.
Kondisi Barran pun dinyatakan membaik seusai dirawat 3 bulan di rumah sakit. Nyaris pulih malah. Bocah pencinta Iron Man itu sempat dinyatakan tak perlu cuci darah lagi selama November 2022–Januari 2023. Dengan catatan, tetap kontrol sebulan sekali untuk mengetahui perkembangan kesehatannya. “Cuma pasang NGT (nasogastric tube) pas pulang,” tuturnya.
Tapi, sembuh bagi anak-anak korban GGAPA bukan berarti pulih total. Ureumnya kembali tinggi. Ternyata, kedua ginjalnya masih bermasalah.
Kondisi Barran pun drop sehingga harus dilarikan ke RSCM. Dia menjalani cuci darah kembali pada Februari 2023. “Dibilang awalnya makanan nggak terkontrol. Tapi, buktinya di rumah sakit malah naik ureumnya. Padahal makanan dari sana,” sahut Supiyan.
Kondisi Barran terus menurun hingga masuk ICU kembali dan menggunakan bantuan ventilator untuk bernapas. Setelah itu, Barran jadi mudah sakit. Terlebih sesak napas.
Selain ginjal, racun EG dan DEG itu telah menyebar ke paru-parunya. Sekalinya drop bisa langsung masuk ICU dan kembali pasang ventilator. “Pas meninggal itu sempet sesak napas di rumah, jam 12 malam. Tanggal 22 September 2023. Nggak mungkin ke Cipto karena kami nggak ada kendaraan,” ungkap Supiyan.
Kondisi ekonomi mereka jauh dari mapan. Karena itu, dalam rutinitas membawa Barran cuci darah ke RSCM, mereka harus naik angkutan umum. Mereka tak mampu jika harus mengeluarkan biaya Rp 500 ribu untuk pesan mobil dari aplikasi penyedia layanan transportasi.
Biasanya, dari rumah, mereka naik angkot menuju Terminal Kalideres, Jakarta Barat, selama dua jam. Sampai di sana, mereka lanjut naik Transjakarta menuju RSCM kurang lebih 2–3 jam. Jadi, sekali jalan butuh waktu 5 jam. Rutinitas itu harus mereka jalani dua kali seminggu dengan kondisi Barran yang tengah sakit.
Sapiyan tak ingin larut dalam kekecewaan. Dia hanya berharap pemerintah betul-betul memperhatikan para korban GGAPA. Sebab, tak ada kata sembuh 100 persen. Selain itu, pemerintah diminta lebih teliti terhadap peredaran obat.
“Jangan sampai kayak gini lagi. Orang seperti kami kan nggak tahu apa-apa. Kita beli obat selalu ati-ati. Ini juga dari rumah sakit obatnya,” tegasnya.
Baginya, santunan dari pemerintah pun tak ada artinya jika pihak-pihak terkait seperti BPOM dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih acuh. “Belum saya apa-apain itu uangnya. Nggak ada perasaan apa pun,” tuturnya. Dia pun berharap pihak-pihak yang bersalah dapat dihukum seadil-adilnya. (*/c18/ttg/jpg)


