TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) lakukan evaluasi dan memprogramkan penanganan stunting pada tahun ini.
Bahkan, Pemprov Kaltara telah menyusun rencana aksi penanganan stunting yang menjadi salah satu program nasional. Wakil Gubernur Kaltara Yansen Tipa Padan menjelaskan, yang perlu dipertegas dan menjadi evaluasi dalam menangani stunting yakni tidak hanya berbicara penurunan saja.
Stunting merupakan persoalan dalam menaikkan kualitas hidup masyarakat. “Karena menjadi program, maka stunting harus turun 14 persen tahun ini. Kita, saat ini memang berupaya menurunkan angka stunting,” jelasnya, Rabu (31/1).
Ia pribadi sangat optimis. Karena bukan hanya berbicara angka, namun bagaimana tekad membebaskan masyarakat dari segala macam persoalan sosial, termasuk stunting. Yang jadi orientasi, OPD (Organisasi Perangkat Daerah) bukan sekadar terlibat dalam penanganan penurunan stunting.
“Ke depan bukan lagi berbicara penurunan. Tetapi berbicara bagaimana menuntaskan stunting,” pintanya.
Wagub menekankan, agar OPD mereview seluruh kegiatan dan program kerja yang selama ini dilakukan. Khusus dalam hal penanganan stunting. Persoalan yang ada selama ini, hambatan yang dihadapi, solusi serta tindakan yang harus dilakukan.
“Ini akan menjadi bahan kerja untuk aksi terpadu oleh pihak terkait. Utamanya kabupaten/kota. Karena eksekusinya ada di kabupaten/kota,” ujarnya.
Diharapkan, jangan hanya sibuk bicara mencapai target namun tidak ada rencana aksi nyata. Ia mengakui, sejauh ini penanganan belum maksimal. Namun pihaknya optimis bisa turun. Apalagi sudah ada respons positif dari pihak terkait.
“Adanya partisipasi dari seluruh pihak. Tak mesti harus ada biaya, yang jelas kesadaran harus dibangun. Sudah ada kegiatan yang dilakukan. Dari sejumlah sektor,” tuturnya.
Di lain pihak, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara Usman menambahkan, untuk menurunkan prevalensi stunting di Kaltara, perlu dukungan dari berbagai pihak. Guna mencapai target penurunan prevalensi stunting yang telah ditetapkan.
“Dengan upaya kolaboratif yang kokoh antar pemerintah dan masyarakat. Sangat diharapkan prevalensi stunting di Kaltara dapat turun sesuai target,” ujarnya.
Hal itu akan berdampak positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan generasi muda di Kaltara. Menurut dia, penanganan stunting sudah difokuskan di lima kabupaten/kota. Stunting dapat terjadi ketika anak mengalami kekurangan gizi kronis, selama masa pertumbuhan dan perkembangan.
“Dampaknya, sangat berbahaya bagi kesehatan anak. Seperti menurunnya daya tahan tubuh, berkurangnya konsentrasi dan daya ingat serta penurunan kemampuan belajar,” tuntasnya. (kn-2)


