Saturday, 4 April, 2026

Memburu Rupiah dari Fosil Hiu Purba, Diyakini Dapat Gigi Megalodon Pertanda Kesialan

Tak ingin fosil-fosil megalodon punah diburu untuk mengejar rupiah, warga Desa Gunungsungging, Sukabumi, mendirikan tetenger berupa Muesum Megalodon yang ternyata juga mendatangkan manfaat tak kalah besar.

EDI SUSILO, Sukabumi

HUNTU (gigi) gelap,” ucap Epul, spontan menyebut deretan fosil gigi yang tersimpan di kotak kaca itu.

Rafa, temannya satu kelas, menimpali. ”Itu megalodon.”

Dua bocah taman kanak-kanak itu masuk ke Museum Megalodon di Desa Gunungsungging, Sukabumi, Jawa Barat, saat jam istirahat pada Kamis (1/2) lalu. Sekolah mereka berada tepat di samping museum di desa yang masuk wilayah Kecamatan Surade itu.

“Kalau ini tulang paus,” ucap Nuril Anwar, penjaga museum, sambil menunjuk belulang sepanjang 20 sentimeter yang terpajang di sudut pojok.

Namanya bocah, tak puas dengan jawaban Nuril. ”Batu gitu, ” celetuk Rafa, disambut tawa teman-temannya. “Iya di dalam batu ini,” sahut Nuril. “Nah, ini yang panjang tulang paus,” lanjutnya, disambut manggut-manggut tanda mengerti oleh para buyung dan upik.

Sebagian besar koleksi museum itu memang gigi hiu purba Carcharocles megalodon atau hiu purba, binatang yang sudah punah dan diperkirakan hidup 23–2,3 juta tahun lalu. Ukurannya beragam. Mulai dari sebesar telapak tangan berukuran 15 sentimeter sampai terkecil seukuran kelingking.

“Masih banyak koleksi museum yang kami simpan di sini,” ucap Nuril sambil membuka pintu gudang. Di dalamnya berjajar di antara rak tanpa tutup kaca. Semua fosil asli. “Pegang saja, nggak apa-apa,” kata Nuril, mempersilakan Jawa Pos.

Museum itu berada di desa di kaki perbukitan Surade yang kaya fosil megalodon. Jutaan tahun silam, apa yang sekarang menjadi perbukitan itu merupakan bagian dari laut. Setidaknya dalam lima tahun terakhir, fosil gigi si hiu purba menjadi perburuan untuk ditukar dengan rupiah.

Berukuran 12 x 6 meter, Museum Megalodon meminjam bangunan desa yang sebelumnya digunakan untuk rumah sehat. Nuril bersama Eli, Mansyur, dan beberapa warga lain yang peduli akan kelestarian fosil di bawah tanah desa mereka mendirikan museum itu pada Februari 2021.

Pendirian museum tercetus lantaran mereka cemas melihat eksplorasi besar-besaran untuk menggali fosil. “Kami nggak mau anak cucu nanti hanya mendengar cerita. Tanpa tahu secara langsung fosil megalodon,” ucap Nuril.

Semula, sebelum mengetahui fosil gigi megalodon bernilai tinggi, banyak warga desa justru menjauh ketika tak sengaja menemukan. Keyakinan setempat, menemukan gigi megalodon berarti akan menjumpai kesialan. Karena itu, orang-orang tua di kampung menyebut gigi megalodon sebagai huntu gelap atau gigi petir. Yang menemukan bisa disambar petir.

Tapi, semua berubah ketika seorang warga menemukan gigi megalodon saat menggali fondasi rumah akhir 2019. Ternyata si huntu gelap laku dijual dan bernilai tinggi. Eksplorasi makin gila-gilaan saat pandemi datang dan banyak orang kehilangan pekerjaan. “Jujur, saya termasuk yang ikut menggali waktu itu,” ucap Nuril, lalu tertawa.

Dirumahkan sebagai sopir ekspedisi membuat Nuril tak punya cara lain untuk mendapat penghasilan. Namun, seiring waktu, bersama beberapa warga kampung lain, Nuril sadar bahwa ada hal penting yang lebih dari sekadar mengais rupiah dari fosil yang telah terpendam jutaan tahun itu: menjadikan desa mereka sebagai pusat studi konservasi megalodon.

Juga melirik peluang lebih besar: menjadikan Gunungsungging sebagai kampung wisata dan edukasi. Dan, museum adalah langkah awal menuju tujuan itu. Bekerja sama dan bernaung ke Museum Geologi Bandung, berdirilah Museum Megalodon. Para peneliti membantu dalam meneliti setiap temuan fosil. Warga bertugas membantu konservasinya.

Konservasi yang dilakukan warga dan pendirian museum skala desa itu pun menginspirasi desa di sejumlah daerah lain yang punya potensi serupa. Misalnya, desa di Sumedang, Jawa Barat, dan di Brebes, Jawa Tengah.

Perburuan fosil di perbukitan sekitar mungkin masih akan berjalan. Tapi, Nuril dan kawan-kawan meyakini, mereka telah menemukan opsi lain lewat museum yang bakal memajukan Gunungsungging.

“Anda menuju ke sini, merasakan jalannya berbeda, nggak? Lebih halus, kan?” tanyanya kepada Jawa Pos. “Itu berkat didirikannya Museum Megalodon. Yang membangun langsung pemerintah pusat melalui PUPR. Ini baru awal kemajuan,” tambahnya.

Si huntu gelap ternyata tak segelap itu. Di perbukitan yang memayungi Surade, rupiah bisa ditambang dari gigi-gigi si hiu. Di desa-desa di bawahnya, asal mau merawat fosil-fosil itu agar tak punah seperti binatangnya, ternyata juga mendatangkan manfaat yang tak kalah besar. (*/c18/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru