TANJUNG SELOR – Longsor yang terjadi di ruas jalan poros Berau-Bulungan menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara). Pasalnya, longsor tersebut menghambat akses jalan utama yang menghubungkan dua provinsi.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltara Andi Nasuha mengatakan, telah melakukan pemantauan di lapangan. Longsor terjadi di Kilometer 40 yang masuk wilayah Berau, sempat memutus akses jalan. Namun sudah bisa dilewati setelah dilakukan penanganan preventif.
Penanganan tersebut dinilai belum cukup, karena harus dilakukan penanganan lebih lanjut. Sebenarnya bukan hanya itu saja, tetapi ada enam titik longsor yang mengancam akses jalan dari Berau menuju Tanjung Selor (Bulungan).
“Longsor terjadi akibat curah hujan yang tinggi dan lalu lintas kendaraan yang padat. Ada titik longsor lainnya yang rawan,” tuturnya, Selasa (5/3).
Ia menjelaskan, di kiri kanan jalan sudah mulai longsor dan menggerus badan jalan. Ia khawatir, jika tidak segera ditangani makanya longsor akan semakin parah dan membahayakan pengguna jalan. Bahkan juga berpengaruh pada pengiriman Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas LPG maupun kebutuhan lainnya.
Dari enam titik longsor tersebut, dua di antaranya berada di wilayah Bulungan, yaitu di Kilometer 6 dan Kilometer 4 dari perbatasan. Sementara empat titik lainnya berada di wilayah Berau.
“Kami berharap, Kabupaten Berau juga bisa segera menangani longsor di wilayah mereka. Karena itu berdampak kepada kita. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan TNI, untuk mengatur lalu lintas serta membantu penanganan longsor,” jelasnya.
Bahkan, telah berkoordinasi dengan Pertamina Berau dan Tarakan untuk memastikan ketersediaan stok gas dan BBM di Tanjung Selor dan sekitarnya. Ia mengatakan, jika akses jalan dari Berau terputus. Maka Pertamina akan menyuplai gas dan BBM dari Tarakan lewat laut.
Dia pun mengimbau kepada pengguna jalan, untuk berhati-hati dan mengikuti arahan petugas di lapangan. (kn-2)


