TARAKAN – Selain beras, sejumlah bahan pokok seperti lombok, daging ayam dan sayuran turut mengalami kenaikan harga jelang bulan Ramadan 2024.
Salah seorang warga, Nuriani mengatakan, saat ini harga komoditas ayam potong kotor yang sebelumnya Rp 38.000 per kg menjadi Rp 55.000 per kg. Sedangkan untuk lombok dari harga Rp 50.000 per kg menjadi Rp 120.000 per kg. “Yang naik setahu saya itu saja. Kalau yang lain masih normal. Tomat ada kenaikan, biasanya saya beli Rp 25 ribu dapat sekilo. Sekarang jadi Rp 30 ribu,” ucapnya, kemarin (5/3).
Senada dengan Nuriani, Vivi pun mengutarakan hal yang sama. Biasanya, ia membeli ayam potong kotor Rp 37.000 per kg, tapi saat ini sudah tembus Rp 50 ribu per kg. “Biarpun mahal tetap beli ya karena butuhkan. Takutnya nanti kami kehabisan. Karena pasti semua pada belanja dekat bulan puasa ini. Minggu ini sudah puasa,” ujarnya.
Penjual komoditas lombok lokal, Asman mengungkapkan, para pelanggannya turut mengeluhkan kenaikan sejumlah harga bahan pokok. Namun ia tak khawatir, lantaran barang dagangannya merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Meski saat ini cabai lokal terbilang lebih mahal dibandingkan cabai dari Sulawesi.
Selama 7 tahun berjualan, ia tak kaget dengan kenaikan harga bahan pokok yang terjadi jelang hari besar. Seperti bulan puasa dan lebaran Idulfitri nanti. “Saya jualnya yang lokal, mengambil dari Juata. Kalau yang dari Sulawesi akses masuknya juga susah. Mau tidak mau memang harus belikan masyarakat ini,” tukasnya.
Sementara itu, Koordinator Pasar Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan (DKUMP) Tarakan Firman mengaku harga ayam yang melonjak lantaran faktor harga pakan ternak yang naik dan tingginya kematian ayam.
“Mereka (pembudidaya) panen ayam itu diusia 40 hari. Jadi kecil-kecil. Makanya harganya mahal, tidak sesuai dengan panennya di waktu singkat,” jelasnya.
Untuk cabai, menurutnya tak melulu harga yang ditawarkan tinggi. Komoditas cabai memiliki harga yang fluktuatif di pasaran. Faktornya beragam, mulai harga dari daerah pemasok seperti Palu dan Makassar sudah terbilang mahal. Hingga stok yang diambil penjual tak sebanyak yang biasanya.
“Karena dari daerah pemasok itu kurang stoknya. Makanya harganya melambung. Kalau lombok lokal tidak memenuhi kuota. Kalau dari kapal itu semuanya dari Sulawesi,” tandasnya. (kn-2)


