Wednesday, 29 April, 2026

Pantau Cuaca, Nelayan Cukup Gunakan Aplikasi

Sebanyak 100 nelayan mengikuti kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) 2022 yang digelar BMKG. Nelayan diajarkan memahami iklim yang semakin sering berubah untuk langkah antisipasi.

CUACA dan iklim terus berubah. Yang paling terdampak adalah masyarakat. Begitu juga dengan nelayan, yang merupakan yang paling parah terdampak perubahan iklim baik global maupun lokal.

Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan, BMKG Edison Kurniawan mengatakan, pihaknya meningkatkan pemahaman masyarakat terutama nelayan tentang cuaca dan iklim lewat SLCN.

“Sekarang ini, perkembangan teknologi semakin maju. Namun, masih ada nelayan yang menggunakan pemahaman tradisional terutama memprediksikan cuaca. Kami (BMKG), ingin membuka wawasan para nelayan di Balikpapan ini untuk mengikuti zaman. Jadi, ada kolaborasi antara tradisional dan modern melalui sistem atau aplikasi kami,” ucapnya, Senin (28/3) usai pembukaan SLCN di Embarkasi Haji Balikpapan.

Ia menerangkan, melalui kegiatan ini, nelayan akan diberikan pemahaman tentang cuaca. Dengan demikian, menjadi paham wilayah mana saja yang banyak ikannya.

Pihaknya mendorong, nelayan Indonesia memanfaatkan aplikasi InfoBMKG sebagai acuan dalam melaut dan menangkap ikan.

Menurutnya, cuaca ekstrem yang terjadi beberapa tahun belakangan ini menjadikan kondisi cuaca gampang berubah dan sulit ditebak dengan hanya mengandalkan tanda-tanda alam.

Ia menyampaikan, pelaksanaan SLCN salah satu tugas BMKG untuk memberikan pemahaman cuaca kepada nelayan. Karena selama beberapa tahun terakhir ini iklim beragam dan dinamis, serta penuh ketidakpastian.

“Menjadi tantangan berbagai sektor, termasuk perikanan untuk nelayan di Balikpapan. Kondisi cuaca sedikit banyaknya akan memberikan pengaruh terhadap hasil tangkapan ikan dari para nelayan. Apalagi, kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi membahayakan keselamatan nelayan yang tengah melaut,” katanya.

Kegiatan ini mendorong BMKG mengedukasi nelayan supaya paham cuaca, dan dapat mengatur jadwal melaut mereka supaya terhindar dari gelombang tinggi. Juga menentukan zona mana yang banyak ikannya. Saat ini, prediksi cuaca BMKG hingga tujuh hari ke depan.

“Kali ini, peserta ada 100 nelayan. Kami harap ini bisa meningkatkan literasi teknologi nelayan. Sehingga, mereka bisa meningkatkan tangkapan,” bebernya.

Tahun ini, secara SLCN nasional dilakukan 121 lokasi, dan Balikpapan salah satunya. Saat ini, BPS mencatat hasil tangkap nelayan Kaltim 116,8 ribu ton per tahun.

Anggota DPR-RI Komisi V, Irwan Fecho yang turut hadir berharap, dengan pelatihan ini bisa meningkatkan pengetahuan dan pelatihan bagi nelayan di Kaltim.

“Apalagi di Balikpapan, sebagai daerah pesisir harus bisa meningkatkan kapasitas mereka. Zaman modern sekarang nelayan juga bisa mengolaborasikan dengan cara tradisional mereka. Tujuannya meningkatkan pendapatan dan produksi mereka,” tuturnya.

Awal (42), salah satu nelayan yang menjadi peserta mengaku, sekarang ia dimudahkan dengan adanya aplikasi BMKG.

Sebelum menggunakan aplikasi ini, ia dan nelayan lainnya mencari ikan dengan mengandalkan insting dan tanda-tanda alam. “Pokoknya meraba saja, dan menebar jala,” pungkasnya. (ms/k15)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru