TANJUNG SELOR – Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang.
Ditandai dengan panjang tinggi badan berada di bawah standar yang ditetapkan Menteri Kesehatan (Menkes). Persoalan stunting ini masih ditemukan di berbagai daerah. Tak terkecuali di Kabupaten Bulungan. Bupati Bulungan Syarwani merasa optimis bisa menekan angka stunting.
Meski angka stunting di bawah Provinsi Kaltara. Namun, secara nasional masih diberikan pekerjaan rumah hingga tahun 2024. Untuk bisa mencapai angka kurang lebih 13 persen.
“Tahunannya kita harus susun. Tahun ini (2022) ada 2 persen yang menurun dari angka 22 penderita menjadi 20 kasus. Penurunan angka stunting bertahap hingga 2024. Target dikeluarakan secara nasional untuk kabupaten/kota,” terangnya, Jumat (8/4).
Bupati meminta, penyuluhan terkait stunting harus semaksimal mungkin. Stunting bukan hanya terjadi setelah adanya angka kelahiran. Namun, stunting dimungkinkan terjadi sebelum atau masih dalam proses menuju kehamilan ataupun sebelum pernikahan.
“Tentunya edukasi terhadap calon orang tua millennial yang akan membangun rumah tangga. Sekiranya dapat edukasi, dalam hal pasca kelahiran akan timbul kasus stunting keluarga atau anak,” terangnya.
Seluruh pihak diminta berperan melakukan pencegahan. “Perlu ada sinergi bersama, sebab terjadinya stunting ada banyak faktor penyebab,” ujarnya.
Pencegahan stunting, bagian dari upaya pemkab mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). (kn-2)
Jumlah Balita Stunting di Bulungan 2019-2021
Tahun 2019 2020 2021
Balita Diukur 6.345 8.916 8.340
Sangat Pendek 424 488 405
Pendek 811 1.138 1.078
Stunting 1.236 1.626 1.483


