Suara lantang Sakiyem dalam menjajakan sate melahirkan brand Mbok Galak. Nama ”baru” Sakiyem tersebut lahir dari celetukan warga Solo yang selalu diteriaki Sakiyem agar mampir ke warungnya. Puluhan tahun kemudian, nama Sate Kambing Mbok Galak masih melekat dan makin melegenda sebagai salah satu sate buntel favorit di Kota Bengawan.
RETNO DYAH AGUSTINA, Solo
SATE Kambing Mbok Galak memudahkan pencarian warga Solo maupun wisatawan. Letak warung tepat di pinggir Jalan Ki Mangun Sarkoro, salah satu jalur penghubung Solo dengan kota-kota lain. Memudahkan wisatawan hingga pengemudi kendaraan besar untuk mampir menikmati sate buntel, sate daging kambing, tengkleng, dan tongseng.
Tongseng dan tengkleng buatan Mbok Galak masih disimpan dalam panci besar di dalam pikulan. Sakiyem dan Sudarto, suaminya, memang mengawali kisah Mbok Galak dengan berkeliling. “Bapak dan ibu itu keliling mengikuti kebiasaan mbah saya yang juga jualan sate,” ucap Muhtar Sidiq, pengelola Sate Kambing Mbok Galak saat ini.
Keduanya mulai menetap di satu lokasi pada 1983. Tepatnya, perempatan lampu merah dekat Graha Saba Buana. “Awalnya namanya Warung Sate Kambing Seng. Tapi, berubah karena dijuluki Mbok Galak itu,” ucap Sidiq, kemudian terkekeh.
Lokasi pertama itu tak lama ditempati Sakiyem dan Sudarto. Keduanya kemudian membeli rumah sederhana di dekat Pom Bensin Ki Mangun Sarkoro, sekitar 200 meter dari lokasi saat ini.
“Namun, ada pelebaran jalan. Akhirnya pindah lagi ke lokasi sekarang. Itu sejak 1990-an,” tuturnya. Meski pindah-pindah lokasi, pelanggan Mbok Galak tetap setia berkunjung. Kenikmatan sate buntel dan sate dagingnya memang bikin orang ketagihan. Termasuk keluarga Soeharto dan Jokowi.
Jokowi sudah biasa berkunjung ke warung Mbok Galak sejak masih menjadi wali kota. “Saat jadi gubernur DKI Jakarta juga masih sering main ke sini,” tutur Sidiq. Menu favoritnya adalah sate campur. Yaitu, lima tusuk sate daging dan satu tusuk sate buntel. Sate buntel memang punya ukuran yang bikin mata tergiur. Satu tusuk sate buntel setara dengan lima tusuk sate daging biasa.
Kalau urusan rasa, sate Mbok Galak memang juara. Kalangan antikambing tak perlu khawatir mencicipi. Bau kambing sama sekali tidak tercium. Rasa sate buntel juga juicy, gurih, dan manis tak berlebihan.
Rasa renyah itu berasal dari lapisan lemak yang digunakan untuk membungkus daging kambing yang sudah digiling. “Kadang lemaknya habis karena permintaan yang tinggi, kami gunakan aluminium foil sebagai pengganti,” ucap pria kelahiran 1984 itu.
Sate buntel dibuat dengan menggiling daging kambing dan mengolahnya dengan bumbu. Karena itu, rasa manis dan gurihnya meresap di setiap gigitan. Meski ukurannya besar dan tebal, kematangannya sampai ke lapisan dalam. Pada lapisan luar juga tak ada bagian yang gosong. Jadi, tak perlu takut ada rasa pahit yang terselip.
Sate daging kambing memberikan rasa gurih dan manis. Meski tak selembut sate buntel, sate daging juga enak dan mengenyangkan. Ukuran potongan daging cukup besar dibandingkan sate-sate di pinggir jalan lainnya. Tengkleng dan tongseng juga punya rasa rempah yang kuat.
Selain Jokowi, Soeharto dan keluarganya termasuk pelanggan setia. Soeharto terbiasa memesan 20 porsi. Pesanan tersebut diambil pegawainya untuk dibawa ke Dalem Kalitan (sebutan rumah kediaman Soeharto di Solo). Itu tentu berbeda dengan yang dilakukan Jokowi. Sidiq mengatakan, Soeharto pernah berencana mampir. Namun, kunjungan batal dilakukan setelah ada masukan soal keamanan dari pihak Paspampres.
Sidiq menambahkan, faktor lokasi di pinggir jalan besar dipandang berisiko. Dia juga sudah menyiapkan lokasi tambahan yang sering digunakan tokoh-tokoh lain. “Di area belakang warung ini, jadi bukan jalan raya utama,” ujar Sidiq. Termasuk untuk menyambut Kaesang Pangarep, putra ketiga Jokowi, yang sempat datang sendiri tanpa ayahnya.
Walau namanya sudah melegenda, Mbok Galak tak punya cabang lain di Solo. “Bapak memang idealis satu lokasi saja, untuk menjaga rasa yang otentik dan terjaga,” kata Sidiq. Sepeninggal sang ayah, salah seorang kakak Sidiq melebarkan sayap. “Kini sedang coba untuk buka di Karawang. Namun, diurus kakak sendiri. Yang di Solo, saya urus,” imbuhnya.
Sate buntel memang salah satu karya warga Solo yang patut dicoba. Heri Priyatmoko, pengamat kuliner dan sejarah Solo, mengatakan bahwa sate buntel lahir dari kreativitas warga Solo. “Solo sering dipandang sebagai retirement city. Terminologi itu muncul sekitar 1950-an,” ucap dosen sejarah Universitas Sanata Dharma tersebut.
Kemunculannya dilatarbelakangi birokrat dan priayi yang memilih menghabiskan hari tuanya di Solo. Suasana yang lebih tenang atau nguler kambang dan biaya hidup lebih murah jadi alasan. “Sate daging biasa akhirnya tidak menarik bagi mereka yang sudah berusia. Pedagang, dengan kreativitasnya, menghadirkan sate buntel yang dagingnya sudah digiling supaya lebih mudah dikonsumsi dan tetap menarik pelanggan,” jelas penulis buku Sejarah Wisata Kuliner Solo itu. (c7/dra/jpg)


