Friday, 3 April, 2026

Ragam Pengalaman Tak Terlupakan Para Laskar Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022

Di laut maupun di darat, para peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah mendapat tambahan wawasan dan pengalaman berharga. Ada yang berencana berkemah dengan para laskar lain, ada pula yang ingin bikin museum apung.

DIMAS NUR APRIYANTOMojokerto

DOA-DOA terus dia munajatkan. Tapi, gelombang setinggi 8 meter di perairan Banda, Maluku, itu terus menghantam KRI Dewaruci.

“Ambil makan harus jalan cepat. Berasa simulasi orang kena gempa, miring kanan, terus kiri,” kata Yellin Fitri Rastrania, salah seorang peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 dari batch Pala.

Batch Pala kebagian jalur dari Ternate–Tidore–Banda–Kupang. Total, ada enam titik yang disinggahi 147 peserta muhibah dengan menaiki KRI Dewaruci. Berangkat dari Surabaya pada 1 Juni dan berlabuh kembali di Kota Pahlawan sebulan kemudian (1/7).

Keseluruhan peserta yang berasal dari berbagai kota dan provinsi itu terbagi dalam empat batch: Lada, Cengkih, Pala, dan Cendana. Setelah bersandar di Surabaya, 38 laskar dari batch Cendana tak langsung kembali ke kota asal. Ada beberapa agenda lagi yang dijalani di Kabupaten dan Kota Mojokerto, Jawa Timur, selama dua hari. Di antaranya, mengunjungi Candi Tikus dan Brahu hingga melihat sekolah Ir Soekarno.

Sejenak Yellin terdiam setelah menceritakan peristiwa di atas dek kapal legendaris tersebut. Matanya basah. “Benar-benar tak terlupakan peristiwa itu,” katanya pelan.

Di luar peristiwa alam tersebut, tentu masih banyak pengalaman dan kenangan tak terlupakan lainnya dari perjalanan menyusuri salah satu rute jalur rempah masa lalu itu. Merasakan sendiri betapa rempah demikian berharga dan Kepulauan Nusantara menjadi pusat perdagangan hasil bumi tersebut. Dan, pemerintah lewat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi tengah berusaha agar jalur rempah mendapat pengakuan UNESCO (badan di bawah PBB yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan) sebagai warisan budaya tak benda.

Sama-sama di laut, Nanda Reminiscere tak bisa melupakan keharuan yang menyergap saat rombongan batch Cendana melintas di lokasi tenggelamnya KRI Nanggala-402 di perairan utara Bali. “Perasaan duka itu kena di hati. Seluruh anggota TNI-AL di kapal menangis,” katanya kepada Jawa Pos.

Kapal selam milik TNI-AL itu tenggelam pada April tahun lalu. Ikut gugur di dalamnya ke-53 kru yang bertugas.

Ada delapan perempuan di antara total 38 peserta batch Cendana. Nanda menyebut semua pengalaman dan wawasan yang didapatnya dari mengikuti muhibah sangat berkesan. Termasuk kesempatan belajar navigasi kapal.

Setiap peserta mendapatkan jatah waktu belajar menavigasi hingga memperkirakan jarak tempuh. Setiap hari jatahnya sejam. “Kalau ngomongin apa saja yang seru di perjalanan, semua seru banget. Termasuk makanan di kapal. Meski rasanya ya hambar, tapi ngangenin,” tutur dara 18 tahun asal Jambi yang tengah bersiap melanjutkan kuliah itu.

Nabila Putri juga tak akan bisa melupakan pengalaman nginang untuk kali pertama. Setiap mengingatnya, tawa mahasiswi Universitas Brawijaya, Malang, asal Surabaya itu tak henti berderai. “Lidah saya sulit menerima,” katanya.

Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dia juga kali pertama mencicipi jagung bose, masakan khas setempat. Untuk yang satu itu, mulutnya justru sulit berhenti mengunyah. “Rasanya manis dan gurih,” ungkapnya.

Bagi dia, muhibah memberinya kesempatan untuk mengenal lebih jauh kultur daerah yang dikunjungi. Wawasannya pun otomatis kian terbuka, termasuk tentunya pengetahuan tentang jalur dan perdagangan rempah.

Begitu berkesannya muhibah yang mereka ikuti, Yellin dan Nabila sampai sudah memimpikan bisa mengadakan kegiatan lanjutan. Yellin yang juga mahasiswi antropologi Universitas Airlangga, Surabaya, ingin membuat kemah rempah bersama para laskar asal Jawa Timur.

Nabila berkeinginan membangun museum apung. Dia belum tahu di mana tempatnya nanti. Tapi, di museum itu kelak dia bermaksud menampung berbagai hal terkait dengan jalur rempah, terutama dari enam titik yang disinggahi para peserta muhibah: Surabaya, Makassar, Baubau, Ternate-Tidore, Banda, dan Kupang.

Mahasiswi Program Studi Pemanfataan Sumber Daya Perikanan Universitas Brawijaya itu menyebut tengah mematangkan proposal rencana tersebut. Kelak, ketika proposal selesai, dara 20 tahun itu berharap bisa bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. “Setidaknya aku bikin prototipenya dulu,” ungkapnya. (*/c14/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru