Opa dan Oma Bagio sudah menikah sekitar 60 tahun. Bahkan, jika dijumlah dengan masa pacaran selama 8 tahun, mereka menghabiskan hampir tujuh dekade bersama. Manisnya keseharian couple goals senior ini kali pertama diunggah ke Instagram Mei lalu. Kini @opaomabagio sudah diikuti lebih dari 26 ribu followers. Supercute!
—
OPA dan Oma ditantang membentuk love dengan jari mereka. Salah seorang cucunya memperagakan bentuk hati dengan tangannya. Bermodal telunjuk dan jempol, Opa Bagio berusaha menirukan sambil tertawa. Oma Bagio kemudian membantu Opa dengan mengarahkan telunjuk Opa. “Gini-gini, telunjukmu nempel ke telunjukku,” ucap Oma.
Di usia yang tak lagi muda, Oma masih setia menemani Opa sehari-hari. Apa pun kegiatannya, selalu dilakukan bersama-sama. “Meski sekarang jalannya Opa sudah timik-timik ya,” ucap perempuan bernama asli Koriati itu. Manisnya kehangatan mereka bikin followers atau para culen (cucu online) Opa-Oma Bagio gemas dan memimpikan bisa menua bersama pasangan. Coffee date, piknik sembari OOTD, semuanya selalu berdua.
Setiap pagi, keduanya rajin olahraga pagi dengan jalan kaki selama 30 menit. “Dulu kuat sampai satu jam. Tapi, setelah pandemi, agak turun kemampuannya karena sempat berhenti dua bulan,” tutur perempuan 83 tahun itu. Oma mengatakan, dirinya bisa berjalan lebih cepat daripada Opa. Kalau Oma sudah dua putaran, Opa belum sampai satu putaran.
Oma dan keluarga selalu mencari kegiatan untuk Opa. Hal itu dilakukan supaya Opa tidak bosan dan mengalami penurunan kesehatan. Saat awal pandemi, Opa didiagnosis mengalami demensia. “Sempat isolasi selama dua bulanan, karena dikira Covid-19. Nah, sepertinya karena kurang kegiatan dan ketemu orang, akhirnya muncul demensia,” ucap Oma.
Walau demikian, Opa masih terlihat sama. Tetap mampu makan sendiri, berpakaian sendiri. Hingga naik tangga empat lantai pun tak masalah. “Yang ada, saya yang berubah karena jadi lebih khawatir sama Opa,” jawab Oma sembari mengelus tangan sang suami.
Oma kini bertugas jadi alarm pengingat Opa untuk minum obat, makan, dan jalan-jalan. Menurut dia, Opa sekarang sudah tidak pernah lapar. Kalau tidak diingatkan, bisa kelewat waktu makan seharian.
Kemandirian Opa harus dibiasakan agar demensianya tidak bertambah. “Kayak minum obat itu, saya nggak boleh nyiapin. Dia harus cari sendiri,” jelas Oma. Hal-hal kecil tersebut dilakukan agar Opa bisa tetap mandiri. Walau tak jarang juga Opa lupa di mana letak obatnya.
Jika ditanya, Oma memilih pura-pura tidak dengar. Kalau sudah kebingungan, Opa bisa ngambek pada Oma. Tapi, ngambeknya Opa tak bertahan lama. Biasanya karena sudah lupa kalau tadinya sedang ngambek-ngambekan. Hehehe.
Bertengkar yang tak lama itu juga sebenarnya ”kebiasaan” Opa dan Oma Bagio sejak muda. Paling lama satu-dua hari. “Makin dewasa, makin malas bertengkar lama,” tutur Oma. Hal itu juga diakui Opa. Menurut dia, selama menikah, semua harus dirasakan bersama-sama. “Kalau ada masalah, ya masalah bersama. Dipikirkan bersama. Diputuskan bersama. Nggak ada saling menyalahkan,” ucap pria yang berulang tahun ke-87 tahun Mei lalu itu.
Kisah cinta Oma dan Opa bermula dari komunitas teman pena bernama Chung Lien Hwee. Oma mengungkapkan, saat itu dirinya masih duduk di bangku SMP, sedangkan Opa sudah jadi siswa SMA. “Opa pilih saya jadi teman pena. Akhirnya kenalan, kirim-kiriman surat,” kenang Oma.
Keduanya merasa cocok. Long distance relationship dijalani hingga delapan tahun lamanya. Opa di Malang dan Oma di Semarang. Apa yang membuat keduanya saling tertarik satu sama lain? Oma mengaku kecantol karena Opa setia dan selalu mengirimkan surat tanpa putus. Berbeda dengan Opa yang bingung menjawab pertanyaan itu. “Apa ya. Rasanya dikirim dari Tuhan aja, ya ini jodohnya, begitu,” ucap Opa, lantas tertawa.
Seiring berjalannya waktu, Opa makin jatuh cinta dengan kesabaran Oma. “Kalau cerewetku gimana? Nggak suka?” tanya Oma. Opa tertawa mendengar pertanyaan sang istri. Bukannya menampik, Opa mengaku senang kalau Oma cerewet. ”Kalau sama yang diam terus, nanti bingung lho,” jawabnya, kemudian terkekeh.
Dengan surat yang rutin dikirimkan tiap bulan, komunikasi mereka terus tersambung hingga Opa pindah ke Jakarta untuk bekerja. “Pernah enam bulan Opa sama sekali nggak terima (surat), tapi dia tetap setia kirim surat ke saya,” kenang Oma. Entah mengapa, surat yang dikirimkan Oma tak disampaikan oleh pihak kos-kosan atau teman satu kos Opa. “Mungkin dulu naksir sama Opa,” seloroh Oma.
Kejadian itu baru diketahui Opa saat dia mengunjungi Oma di Semarang. Dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Malang, Opa menjemput Oma untuk mengenalkan pujaan hatinya kepada keluarga di Malang. “Di situ Opa tanya kenapa nggak pernah kirim surat lagi? Aku jawab kalau aku selalu kirim, tapi balasanmu kok tidak nyambung,” kenang Oma.
Opa dan Oma memutuskan menikah setelah delapan tahun bersama. Secara catatan sipil, Opa dan Oma sudah menikah dua tahun sebelumnya untuk kebutuhan administrasi di Malang. “Akhirnya sekitar 1970-an, kami memulai hidup baru di Surabaya bersama anak-anak,” jelas Oma.
Seperti mulai dari nol lagi. Oma dan Opa tak punya kenalan siap-siapa di Surabaya. Bermodal tekad, keduanya memboyong empat anaknya untuk tinggal di kota baru. Demi menghidupi anak dan istrinya, Opa pernah jadi sopir bemo. Oma mulai menjahit dan belajar obras untuk membantu sang suami. Akhirnya berdua bikin konfeksi.
“Dulu punya stan juga di Pasar Turi, sebelum terbakar itu,” kenang Oma. Tepat sepuluh tahun lalu, Oma sudah tak lagi melanjutkan usahanya. Anak-anak yang sudah besar dan mandiri membuat Oma dan Opa memilih istirahat.
Tapi, menjahit masih jadi kegemaran Oma. “Keponakan ada yang punya konfeksi di Malang. Sisa kainnya itu saya manfaatkan buat bikin baju-baju anak,” tutur Oma. Pakaian anak-anak itu tak lagi dijual, tapi diberikan secara cuma-cuma. Mulai cucu, tetangga, juga bocah-bocah di lingkungan keluarganya yang membutuhkan pakaian. Sehat selalu, Oma-Opa.
TIPS AWET ALA OPA & OMA BAGIO
– Boleh bertengkar, tetapi jangan terlalu lama
– Hidup sederhana dan tidak berlebihan
– Selalu bertanggung jawab dan mau berjuang demi keluarga
– Putuskan segala sesuatu bersama-sama. (dya/c17/nor/jpg)


