Sunday, 19 April, 2026

Karena Musik Sedih Beri Efek Relaksasi dan Reflektif

Lagu galau mendorong otak memproduksi prolaktin dan dopamin yang berkaitan dengan pengekangan rasa sedih dan sesuatu yang menyenangkan. Di radio maupun Spotify, tema kegalauan ini juga mendominasi.

LAILATUL FITRIANISurabaya

SENDIRIAN, di kamar, dan Westlife tiba-tiba ’’mengetuk pintu”:

If I had to live my life without you near me

The days would all be empty

The nights would seem so long

KALAU sudah demikian, Shiva Haiqa Arman bisa sampai menangis karena merasa sangat terhubung dengan petikan lirik Nothing’s Gonna Change My Life for You itu. “Kalau lagi nggak galau paling enjoy aja nikmatin beat-nya. Teman-temanku biasanya juga dengar lagu galau karena sesuai aja sama yang mereka rasakan,” imbuh mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo itu kepada Jawa Pos.

Millya Rizqika Dewi juga demikian. Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya itu sangat menikmati lagu-lagu sedih untuk menyalurkan emosi. Mulai Runtuh yang dibawakan Feby Putri dan Fiersa Besari hingga Tutur Batin milik Yura Yunita. “Keduanya tak pernah gagal membuat saya nangis saking terbawa emosi,” katanya.

Yang dialami Shiva dan Millya itu bukan fenomena langka sebenarnya. Beberapa tahun terakhir, lagu yang dirilis pemusik juga cenderung bernuansa galau. Data dari platform streaming musik Spotify menunjukkan preferensi tersebut.

“Kami melakukan riset dengan beragam metode. Kami putarkan lagu yang dekat dengan mereka. Kebetulan yang lagi naik lagu-lagu galau, misalnya Hati-Hati di Jalan milik Tulus,” jelas Putu Gede Francois S. atau yang akrab disapa Fafa.

Music director Radio Gen 103.1 FM Surabaya itu menyebut label musik juga biasanya akan mendahulukan lagu ballad atau balada untuk dirilis. Sebab, orang cenderung menyukai lagu sedih. “Yura Yunita itu mengajukan Hoolala, tapi yang naik lagu Tenang atau nggak Tutur Batin. Karena memang dari dulu semua orang suka lagu ballad,” tuturnya.

Secara ilmiah, inilah yang dikenal dengan istilah pleasurable sadness paradox. Alasan mengapa seseorang menyukai lagu sedih, bahkan saat tidak merasakan emosi tersebut.

Psikolog Dr Mary Philia Elisabeth SPsi MPsi menyebut penelitian terkait pleasurable sadness paradox sebetulnya sudah lama ada. Tidak hanya di ranah psikologi musik, tetapi juga disiplin ilmu neuropsikologi.

“Saat mendengarkan lagu ballad, otak akan memproduksi yang namanya prolaktin dan dopamin. Salah satu fungsi prolaktin itu mengekang rasa sedih, sedangkan dopamin berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Itu kenapa namanya menjadi pleasurable sadness,” jelas dosen psikologi Universitas Surabaya itu kepada Jawa Pos.

Dia menyebut lagu sedih tidak membuat pendengarnya menjadi happy. Namun, membuat seseorang merasa lebih baik. Saat mendengarkan musik, lanjut dia, yang pertama otak lakukan adalah menghubungkan antara musik yang didengar dan pengalaman.

“Musik itu dari nada, gelombang, dan suaranya itu resonance. Itu yang menjadi medium untuk masuk ke emosi kita sehingga bisa merasakan oh ini lagunya enak. Dari ketertarikan itu, kita jadi mempersepsikan liriknya dengan pengalaman kita,” terangnya.

Sebagai orang yang bersentuhan langsung dengan industri musik, Fafa kerap menerima materi dan lagu dari label musik dengan berbagai genre. Namun, selalu lagu ballad yang menjadi top ranking.

“Lagu yang upbeat, yang political itu banyak, tapi yang naik ballad. Di TikTok, lagu ballad yang lama-lama itu naik lagi, lho. Misalnya, Until I Found You, itu lagu besar di zamannya,” imbuhnya.

Nothing’s Gonna Change My Love for You bahkan dirilis jauh ketika para mama dan papa Shiva serta Millya masih kanak-kanak. Lagu tersebut salah satu hit terbesar George Benson, penyanyi, gitaris, dan penulis lagu asal Amerika Serikat.

Di sini, musikus senior Mus Mujiono dikenal sebagai ”George Benson”-nya Indonesia. Terutama dari permainan gitarnya yang diiringi keahlian scatting alias petikan gitar yang diiringi persis dengan vokal.

Menurut Shiva, lirik lagu yang rilis pada 1985 itu memiliki kemiripan dengan pengalaman dirinya. “Aku mendengarkan lagu galau biar ada teman galaunya. Karena lagunya relate sama apa yang aku rasakan, jadi merasa nggak sendirian,” ungkapnya.

Atika Dian Ariana SPsi MSc, ahli konseling terapeutik sekaligus dosen psikologi Universitas Airlangga, menyebut generasi muda memang cenderung mencari sensasi yang bisa membangkitkan emosi. Sebab, perkembangan fisik, psikis, dan hormon bercampur aduk di usia mereka.

Musik sedih, lanjut dia, dengan tone rendah memberikan efek relaksasi dan reflektif. Alhasil, lebih mudah membangkitkan emosi ketimbang musik bertempo cepat. “Istilahnya, usia remaja itu penuh tekanan dan badai. Jadi, tidak berarti remaja menyukai kesedihan, tetapi mereka ingin mengasah atau mencari sensasi yang membangkitkan emosi itu,” lanjutnya.

Faktor lainnya media sosial. Lagu-lagu galau sering dijadikan backsound konten video di berbagai platform. Mulai lagu Tak Ingin Usai milik Keisya Levronka, Glimpse of Us milik Joji, hingga Traitor milik Olivia Rodrigo.

Sering mendengarkan lama-kelamaan menjadi terbiasa. Banyaknya orang yang memutar lagu itu juga mendorong orang lain untuk ikut mendengarkan dan akhirnya merasa menyukai.

Dan, pleasurable sadness paradox tidak hanya berkaitan dengan musik. Fenomena itu juga bisa terjadi saat seseorang menikmati membaca novel atau menonton film dengan banyak emosi negatif.

“Pemrosesan emosi itu dilakukan di sistem yang sama dan memunculkan berbagai macam emosi. Orang yang berada di kondisi sedih butuh sentuhan emosi. Mereka yang sedang bahagia juga ingin mendapat penguatan dengan mencari sensasi baru,” tambah Atika.

Jadi, para orang tua tak perlu khawatir kalau tiba-tiba dari balik kamar si buyung atau upik terdengar menangis saat mendengar ”One thing you can be sure of//

I’ll never ask for more than your love…”

Mereka tidak sedang sedih. Mereka cuma pengin merasa lebih baik. (*/c7/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru