Minim dana, kukuh tanpa iuran, dan pengurus sekaligus jadi pelatih, tapi Putri Mataram terus menyumbangkan pemain binaan mereka ke timnas. Sekarang anak-anak seusia SD banyak yang mendaftar, bukti kembali bergairahnya sepak bola putri.
RIZKA PERDANA PUTRA, Surabaya
USIA Anggar Kaswati masih 17 tahun ketika kali pertama bergabung dengan klub Putri Mataram. Ketika itu, salah seorang guru olahraga tempat dia bersekolah SMA sering melihat Anggar bermain sepak bola.
“Pelatih lalu ngasih tahu ada klub sepak bola putri. Saya sampai diantar ke Lapangan Jetis (di Sleman, Jogjakarta, Red), jadilah saya ikut,” kenang Anggar.
Sejak itulah pertautan Anggar bersama Putri Mataram dimulai. Dari berkiprah sebagai pemain sampai menjadi pengurus, melewati masa-masa kejayaan hingga era-era sulit sampai sekarang.
Didirikan pada 17 Juli 1971, Putri Mataram merupakan salah satu klub sepak bola putri tertua di Indonesia yang masih terus eksis. Sehari-hari mereka kini berlatih di Lapangan Nogotirto, Sleman, Jogjakarta.
Anggar mengenang, pada 1980-an, cukup mudah mencari pendanaan untuk klub sepak bola putri. Sebab, PSSI atau pemerintah sering mengadakan berbagai turnamen antarklub. Seperti Piala Ibu Tien atau Piala Menpora. Seluruh biaya akomodasi biasanya sudah ditanggung oleh penyelenggara.
“Dulu tim belum banyak, jadi yang diundang itu-itu saja. Kalau nggak Putri Mataram, ada juga Buana Putri atau Putri Priangan. Main sampai Lampung, Manado, atau Palembang, yang diundang ya tiga itu,” kata perempuan kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, 31 Maret 1959, yang dipercaya sebagai bendahara setelah lulus kuliah tersebut.
Di masa-masa keemasan sepak bola putri di tanah air itu, antusiasme penonton juga sangat tinggi. Bahkan, menurut ingatan Anggar, bisa menyaingi sepak bola putra. Tidak hanya dalam hal jumlah penonton, tapi juga harga tiket pertandingan. “Misal kalau cewek Rp 25 ribu, cowok cuma Rp 10 ribu dan itu penontonnya full, di semua tempat,” ucap Anggar.
Tidak hanya di kota besar seperti Jakarta, Jogjakarta, atau Bandung. Tapi juga di kota-kota di luar Jawa seperti Bandar Lampung dan Manado. “Tidak pernah ada namanya penonton kosong. Sampai hakim garis mesti ngusir-ngusir supaya keluar dari garis,” kenang dosen pendidikan sejarah di IKIP PGRI Wates, Sleman, Jogjakarta, tersebut.
Lewat berbagai kompetisi atau turnamen itu, Putri Mataram bisa mencetak beberapa pemain yang akhirnya terpanggil ke tim nasional (timnas) seperti Sri Hastuti, Iin Partinah, Ambar Irawan, dan Tetra. Keempatnya masuk dalam skuad timnas era 1980-an yang sempat meraih runner-up kejuaraan sepak bola wanita Asia Tenggara di Thailand.
Tetra mengenang, dirinya benar-benar memulai dari nol semasa awal bergabung Putri Mataram. Ketekunannya itu pun akhirnya membuahkan hasil. “Bersyukur juga bisa dididik di Putri Mataram sehingga saya bisa menjadi pemain nasional. Tidak gampang menjadi pemain sepak bola,” ujarnya.
Putri Mataram akhirnya juga menjadi pionir berdirinya banyak klub sepak bola putri di Jogjakarta dan sekitarnya. Misalnya, pada 1980-an lahir klub Putri Pagelaran. Lalu, ada juga klub-klub lain seperti Putri Mojolaban atau Putri Bantul yang dibentuk sendiri oleh Anggar.
Tapi, era kejayaan klub-klub sepak bola putri tersebut hanya bertahan sampai 1990-an. Seiring tak dihelatnya lagi berbagai kompetisi sepak bola putri oleh PSSI, sejak saat itu pula Putri Mataram harus jungkir balik menghidupi diri.
Tidak ada lagi pemasukan dari ajang tingkat nasional. Sementara, sejak awal berdiri, pengurus juga tidak menarik iuran bagi siapa pun yang ingin berlatih. Solusinya, saat itu beberapa kali pengurus harus mengeluarkan biaya mandiri untuk mengikuti turnamen di luar kota.
“Setelah tidak ada lagi Piala Bu Tien, Piala Pangat, atau Piala Menpora, sama sekali tidak ada bantuan dana. Paling match fee saja kalau main Rp 1 sampai 1,5 juta. Hotel-transpor kami tanggung sendiri,” katanya.
Kadang untuk makan, tambah Anggar, mereka harus masak sendiri untuk mengirit biaya selama mengikuti turnamen. Saat periode vakum kompetisi itu pula, beberapa klub besar yang seangkatan dengan Putri Mataram seperti Buana Putri atau Putri Priangan tidak aktif lagi.
Namun, di hadapan berbagai kesulitan itu, Putri Mataram tetap berusaha bertahan dengan segala keterbatasan. Sampai akhirnya pada sekitar 2006 Anggar memutuskan untuk menyerahkan kendali kepengurusan Putri Mataram kepada Sri Hastuti.
Itut –sapaan akrab Sri Hastuti– sudah lama malang melintang di Putri Priangan sejak usia belasan tahun. “Putri Mataram kebetulan ada Bu Itut yang mau ngurus. Saya support aja,” kata Anggar.
Namun, meski ganti kepengurusan, Putri Mataram tetap beroperasi dengan segala keterbatasan. Selama lebih dari 15 tahun terakhir, Itut sendiri yang secara konsisten terus menghidupi tim. Tidak hanya mengelola administrasi tim, mantan penggawa timnas itu juga turun langsung mendidik anak-anak sebagai pelatih.
“Sempat ada tenaga administrasi, tapi keluar karena menikah. Akhirnya saya sendirian,” kata Itut. “Untung, ketika di lapangan ada beberapa eks timnas yang membantu saya juga melatih anak-anak,” imbuhnya.
Sampai sekarang pun Itut dan para pelatih tidak menerima bayaran rutin atau gaji. Pendapatan utama Itut didapat dari profesi utama sebagai guru olahraga anak-anak SD. Operasional klub pun digerakkan dengan cara gotong royong. “Kalau kami ikut event, dananya pertama kami cari donatur. Kedua patungan dengan wali (atau orang tua pemain, Red) untuk sewa hotel dan makan,” beber Itut.
Toh, Putri Mataram terus eksis dan rutin berprestasi. Dan, seiring meningkatnya gairah sepak bola putri di Indonesia beberapa tahun terakhir, semangat Itut dan para kolega pun makin menyala.
Apalagi, kalau dulu rata-rata seusia SMP atau SMA baru bergabung dengan klub putri, sekarang anak-anak usia SD sudah banyak yang mendaftar di Putri Mataram. Beberapa pesepak bola hasil didikan Putri Mataram juga tetap dilirik timnas. Tercatat, di kelompok umur 15 tahun ada dua nama, Nafizhah Nuraini dan Annisa Febriana. Lalu, ada juga Suciana Yuliani yang sekarang menekuni futsal.
“Harus sabar dan telaten, Mas,” tutur Itut soal kunci Putri Mataram tetap bertahan.
Hal itu diamini Anggar. “Memang kami terhambat di regenerasi pengurus. Tapi, kami yang tua-tua ini juga mau komitmen karena eman-eman,” ujarnya.
Anggar pun berharap Putri Mataram masih bisa terus bertahan dan berkembang. “Saya yakin dari sekian banyak anak, akan ada yang bersinar. Kami juga tidak minta muluk-muluk harus sama persis seperti (sepak bola) laki-laki. Tapi, bisalah kami mendapat hak seperti laki-laki,” ujarnya. (*/c9/ttg/jpg)


