TANJUNG SELOR – Aktivitas pembakaran lahan untuk keperluan pertanian sudah menjadi tradisi, yang dilakukan turun temurun. Hal itu dilakukan, untuk keperluan pembukaan lahan baru, setelahnya dilakukan aktivitas cocok tanam.
“Saya sudah menyampaikan kepada masyarakat, yang biasanya sering melaksanakan aktivitas perladangan. Sebelum melakukan pembakaran, ada baiknya koordinasi dengan kepolisian, koramil atau pemerintah kecamatan setempat,” pinta Bupati Bulungan Syarwani, Senin (15/8).
Bupati pun mengimbau kepada masyarakat maupun lembaga adat, supaya tidak lakukan pembakaran lahan secara bersamaan. Perlu adanya pengaturan waktu. Misalkan dalam sehari dilakukan pembakaran dengan luasan lahan yang dibatasi.
Kemudian baru dilanjutkan dengan kawasan yang lain, secara bergantian. Ini dilakukan guna memudahkan pengecekan. Sehingga, kawasan yang rencana dibakar tidak merambat luas.
“Jadi harus berjadwal, sehingga memudahkan dari sisi aspek pengawasan,” jelasnya.
Apabila jadwal tidak diatur, mengakibatkan bisa terdeteksi melalui satelit. Sehingga menimbulkan adanya titik spot kebakaran di Bulungan. “Setelah ditelusuri ternyata ada aktivitas pembukaan lahan baru untuk berladang,” tuturnya.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua DPRD Bulungan Kilat menyatakan, aktivitas pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat sudah menjadi tradisi. Ketika adanya pembukaan lahan baru. Masyarakat yang lakukan pembakaran, sudah memiliki insting. Dipastikan penyebab kebakaran tidak seakan-akan adanya pembakaran lahan baru.
“Ritme waktunya perlu diatur. Saya percaya masyarakat memiliki pengalaman dalam urusan pembakaran lahan itu,” singkatnya. (kn-2)


