TARAKAN – Kondisi Embung Binalatung yang ada di Kelurahan Kampung Satu kembali mengalami kekeringan. Kondisi ini sudah terjadi sejak sepekan terakhir. Dampaknya produksi terhenti sejak 13 Agustus 2022.
Hal ini dikeluhkan juga oleh warga Kelurahan Sebengkok RT 18, Suriansyah. Dia mengakui, penyaluran air PDAM sudah tidak jalan sejak pekan lalu. Sehingga, dengan terpaksa ia membeli air bersih sebanyak 1.100 liter seharga Rp 100 ribu.
“Itu juga masih menunggu 2 sampai 3 hari, baru diantar ke rumah saya. Semua sudah saya hubungi yang jual air bersih. Semuanya penuh orderan. Makanya lama diantar,” ucapnya, Senin (22/8).
Tak hanya mempersiapkan air di rumahnya. Ia juga membutuhkan air di indekos miliknya. Sehingga dia membutuhkan sebanyak 3.000 liter sehari. Untuk memenuhi kebutuhan air.
Adapun, kompensasi yang diberikan PDAM tidak pernah sampai di dekat rumahnya. Mesti ada, harus mengantre dan bisa mengambil air cuma beberapa liter saja. “Parahnya lagi, di rumah saya air tidak mengalir. Tapi di sebelah rumah saya airnya mengalir, kok bisa. Saya sudah sampaikan ke PDAM, tidak pernah juga mengecek ke rumah saya,” keluhnya.
Sementara itu, Direktur Perumda Air Minum PDAM Tirta Alam Kota Tarakan Iwan Setiawan menyatakan, dampak dari embung kering ini, seluruh pelanggan di Tarakan Timur dihentikan. “Begitu juga di sebagian Tarakan Tengah dan Tarakan Barat. Yang terdampak 7.157 KK pelanggan di Tarakan Timur,” jelasnya.
Sementara untuk wilayah Tarakan Tengah, terdampak sekitar 13.000 KK. Karena IPA di Kampung Satu mati total alias tidak difungsikan atau tidak ada sistem gilir. Penghentian produksi air dilakukan sejak pekan lalu, karena bahan baku air tidak ada.
Ditambahkan, dengan kondisi embung kering, pihaknya memanfaatkan situasi untuk melakukan perbaikan embung. Salah satunya melakukan pengecekan alat di pintu masuk.
“Semua kita cek, apakah ada yang bocor atau kurang langsung tim perbaiki. Jadi sekaligus kesempatan pekerja memperbaiki saat airnya tidak ada,” ungkapnya.
Adapun untuk IPA Kampung Bugis dan Persemaian, semua masih dalam kondisi normal dan tidak ada kendala. Sebab yang bermasalah hanya di area Tarakan Timur dan sebagian Tarakan Tengah. Mengatasi persoalan ini, seharunya kondisi ini sudah bisa teratasi. Jika IPA di Indulung sudah ada listrik.
“Tetapi Indulung sudah 1,5 tahun selesai hanya sisa menunggu listrik masuk. PLN saat ini proses mengerjakan dan menjanjikan bulan September atau Oktober selesai teraliri di Embung Indulung, untuk pasokan listriknya. InsyaAllah,” tegasnya.
Diharapkan tahun depan, ketika hujan tidak mengguyur atau sama dengan kondisi saat ini. tetapi embung tidak lagi kering. Sehingga air bisa disuplai dari Embung Indulung.
Dibandingkan tahun 2019 lalu, embung juga sempat kering. Namun kekeringan tahun ini yang terparah. Kondisi Embung Binalatung ini hanya penampung hujan dan berbeda dengan di Persemaian, Indulung Juata, karena ada sungai.
“Kalau ini hanya bak penampungan, ada hujan ada airnya. Tidak ada hujan airnya habis. Bahkan orang di sekitar embung, bisa menangkapi ikan di embung yang kering ini. Jadi membawa rezeki bagi orang sekitar embung juga,” ujarnya.
DI BULUNGAN BARU 5 KECAMATAN NIKMATI AIR PDAM
Persoalan di Kabupaten Bulungan, jangkauan layanan dari PDAM Danum Benuanta belum sepenuhnya dinikmati masyarakat yang tersebar di 10 Kecamatan. Seperti di Kecamatan Tanjung Palas Timur, yang belum nikmati layanan air bersih PDAM.
Dikatakan Bupati Bulungan Syarwani, masuknya PDAM di kecamatan perlu disertai dengan kajian. Seperti ketersediaan sumber air baku. Di Kecamatan Tanjung Palas Timur yang terdiri dari 8 desa, jangkauannya panjang dan luas. Sementara fasilitas dan ketersediaan sumber air baku ini yang menjadi perhatian serta jaminan sebelum jaringan PDAM masuk.
“Pembangunan intake yang dilakukan Dinas PU, harus disertai kajian. Ketika kita ingin bangun intake mesti dibarengi ketersediaan sumber air bakunya,” jelas Syarwani, Senin (22/8).
Menurut Syarwani, ketika membangun intake tapi tidak disertai kecukupan air baku. Maka hanya membuat fungsinya tidak optimal. Di Kecamatan Tanjung Palas Timur, terdapat pembangunan embung. Tepatnya di Desa Tanjung Agung. Namun, tidak bisa difungsikan optimal.
“Kita lakukan kajian dulu, karena itu membutuhkan pembiayaan APBD yang besar. Sehingga perlu kajian komporhensif, untuk kemudian tidak terkesan bangunan yang sia-sia,” ungkapnya.
Dikonfirmasi terpisah, Direktur PDAM Danum Benuanta Winardi menambahkan, jika jangkauan jaringan PDAM belum menyebar di 10 kecamatan. Terdata saat ini, baru tersentuh lima kecamatan, yakni Tanjung Selor, Tanjung Palas, Tanjung Palas Tengah, Sekatak dan Bunyu.
“Kita belum melakukan pengelolaan air bersih di Kecamatan Tanjung Palas Timur. Kami, baru layani di lima kecamatan,” ujarnya.
Winardi meyakini, Pemerintah Pusat dan daerah tentu terus berusaha. Agar pelayanan air bersih bisa dinikmati seluruh masyarakat. Karena sudah ada regulasi yang mengatur. Sementara, untuk wilayah perkotaan termasuk urusan perpipaan menjadi kewenangan PDAM.
Masuknya jaringan PDAM di kecamatan, kata dia, perlu lebih dahulu disediakan sarana dan prasarana yang memadai. Berkaitan adanya embung di Desa Tanjung Agung, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Winardi mengakui, bersedia menjalankan yang ditugaskan pemerintah daerah. Apalagi, jika kemudian infrastruktur di Tanjung Palas Timur itu sudah memadai.
“Kita siap sesuai keinginan dari pemerintah daerah. Tentunya, sarana dan prasarana yang ada sudah siap dari segala hal,” harapnya.
Dalam artian, urusan operasional aman dan calon pelanggan ada. “Kalau sudah ada serah terima, kita berharap semuanya selesai dari sisi sarana dan prasarana. Sehingga ke depan kita tidak kesulitan,” tuturnya.
Terkait dengan adanya pembangunan embung PDAM yang sudah ada, sebelum difungsikan terlebih dahulu dilakukan survei dengan melibatkan tim ahli. (kn-2)


