KunoKini berupaya mempertahankan eksistensinya sebagai musisi yang sangat mencintai Indonesia. Berbicara tentang Indonesia, grup yang digawangi Adhi Bhisma Whraspati dan Astasi Achiel itu seolah tak pernah kehabisan kata-kata.
AGUS DWI PRASETYO, Jakarta
SESUAI dengan namanya, KunoKini yang terbentuk sejak 2003 memang memadukan musik-musik tradisional Indonesia. Yang oleh sebagian masyarakat kerap dianggap kuno dalam genre musik yang mereka usung. Yakni, Indo beat pop. Itulah yang membuat KunoKini terbilang unik.
“Perpaduan budaya Indonesia dengan hal-hal baru itu keren banget. Bisa masuk sanubari hati masyarakat Indonesia,” kata Bhismo saat berbincang dengan Jawa Pos Kamis (11/8).
“Anak-anak muda sekarang bisa menggali kekayaan Indonesia dengan cara-cara yang keren. Itu gila banget,” sambung pria asal Jakarta yang kini menetap di Denpasar Timur, Bali, tersebut.
Keindonesiaan KunoKini bisa dirasakan lewat lagu dan karya orisinal yang mereka bawakan. Dalam lagu Anak Panah, misalnya, KunoKini memberikan sentuhan SokoGuru (drum set khas KunoKini) yang terinspirasi dari ”napas” pukulan rebana. Suara itu dipadukan dengan strum gitar yang offbeat.
Anak Panah merupakan single KunoKini yang berkolaborasi dengan Dani, penyanyi perempuan asal Belfast, Irlandia Utara. Lagu yang didanai British Council tersebut dirilis pada Juni 2020. “Lagu Anak Panah adalah sebuah refleksi dari keresahan terhadap radikalisme yang merajalela di Indonesia,” jelas pria yang punya nama panggung Bhismo ”NoizeKilla” KunoKini itu.
KunoKini memandang radikalisme sangat berbahaya bagi masyarakat Indonesia. Bahkan, paham tersebut bisa menggerus rasa cinta terhadap tanah air. “Kami percaya budaya lokal dan agama dapat menyatu dan berkesinambungan,” kata Astasi ”Bebi KunoKini” Achiel.
Yang membuat KunoKini semakin menarik adalah frekuensi instrumen musiknya. Ya, alat-alat musik tradisional memang memiliki nada yang khas. Umumnya di frekuensi 432 hertz. Frekuensi yang identik itu membuat musik yang dihasilkan KunoKini cenderung akan sulit dimainkan musisi biasa. “Frekuensi 432 hertz itu memang bukan standar internasional,” ungkap Bhismo.
Alat musik modern umumnya menggunakan susunan tangga nada diatonik atau terdiri atas tujuh nada yang berbeda dalam satu oktaf. Sementara, alat musik tradisional cenderung pentatonik. Susunan tangga nadanya hanya memiliki lima nada dalam satu oktaf.
Perbedaan tangga nada itulah yang membuat tuning alat musik tradisional tak bisa sembarangan. Biasanya, para musisi tradisional menggunakan natural tuning atau penyetelan alami yang mengandalkan indra pendengaran. “Ini (yang membuat musik tradisional, Red) juga disebut sound healing,” jelas Bhismo.
KunoKini tengah bersiap melahirkan karya terbaru. Konsep karya tersebut, kata Bhismo, nanti lebih grande ketimbang lagu Anak Panah. Alat musik tradisional yang digunakan tentu juga akan mengikuti. “Kami akan berkolaborasi dengan tiga rapper female dari Singapura. Ini bakal gila karena ada reggae dan keroncong di dalamnya,” ungkap Bhismo bersemangat.
Bagi KunoKini, anak-anak muda Indonesia saat ini sudah berani menggali banyak hal tentang Indonesia. Itu tentu hal positif. Meski begitu, mereka melihat masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang membayangi musik tradisional saat ini. Salah satunya, belum adanya music library yang menyimpan musik-musik lokal Indonesia. “Cita-cita kami pengin punya library yang merekam musik tradisional dari Sabang sampai Merauke,” kata Bebi.
Bagaimanapun, lanjut Bebi, kebudayaan merupakan ”pisau” paling tajam untuk ekspansi ke luar negeri. “Tentu semua pihak harus saling membantu untuk mewujudkan itu,” tutur pria yang tinggal di Denpasar Barat, Bali, tersebut.
Sementara itu, Bhismo berpikir bahwa budaya Indonesia yang kerap dianggap kuno sejatinya adalah sesuatu hal yang kekinian bagi sebagian masyarakat luar negeri. Contohnya, jamu. “Jangan salah, jamu-jamu kita itu dianggap modern oleh mereka (sebagian orang luar negeri),” tegasnya.
Dalam pandangan etnomusikolog Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Aris Setiawan, memang selalu ada kreativitas yang berasal dari para musisi untuk mempertahankan dan melestarikan musik tradisional Indonesia. Meski, tak dimungkiri, ada risiko yang harus diterima. Salah satunya, pangsa pasar dan ruang gerak yang terbatas. “Tetapi, apa pun itu adalah ikhtiar untuk melestarikan kesenian tradisional,” ujarnya kepada Jawa Pos.
Di Indonesia, saat ini memang sudah banyak musik tradisional yang dipadukan dengan alat musik Barat yang bernada diatonik. Misalnya, musik dangdut. “Musik itu (dangdut) enak didengarkan dan kemudian dicintai, digemari publik secara umum,” kata pengajar di ISI Surakarta tersebut.
Menurut Aris, di Indonesia ada sederet grup musik yang menggabungkan berbagai wilayah etnis itu. Contohnya, grup musik Kua Etnika dengan mendiang Djaduk Ferianto sebagai salah seorang anggotanya. “Mereka berusaha mempertahankan idiom-idiom lokal dan dipadukan dengan idiom musik baru dengan tidak mengurangi idiom lokal,” terangnya.
Kebanyakan grup musik semacam itu akan dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, tetap mengembangkan ruang tradisi dengan risiko akan ditinggalkan sebuah generasi. Kedua, mengubah pola musik yang baru dan segar, tetapi dengan risiko kehilangan karakter dan jati diri. Pilihan yang sulit itu yang menurut Aris membuat grup musik etnis sulit menembus belantika musik pop Indonesia.
Meski begitu, Aris menuturkan, ikhtiar para musisi untuk melestarikan kesenian tradisional harus terus didukung. Kendati tak jarang dari mereka yang ”merusak” musik lokal itu sendiri. Misalnya, mengubah alat musik tradisional dengan menghilangkan tangga nada aslinya. “Jadi, ada yang mencoba mendiatonikkan musik tradisional seperti musik Barat,” ungkapnya. (*/c14/fal/jpg)


