TARAKAN – Harga pakan ayam yang mengalami kenaikan memberi dampak terhadap harga ayam dan telur saat ini. Dari harga semula berkisar Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per piring. Sekarang harga telur melesat menjadi Rp 60 ribu per piring, dengan ukuran paling kecil.
Salah seorang pedagang telur di Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Karang Anyar, Tarakan Barat, Muslimin mengakui, biasanya mampu menjual telur 30 piring setiap hari. Namun, di hari tertentu bisa mencapai 50 piring.
“Harganya sekarang Rp 60 ribu sudah beberapa bulan ini, tidak ada penurunan harga. Biasanya memang kalau ada kenaikan, sebulan paling lama dua bulan. Tapi ini harga belum berubah,” ucapnya, Jumat (26/8).
Harga telur ini kemungkinan tidak mengalami penurunan lagi. Bahkan dari pihak agen sudah menyatakan, harga telur kemungkinan masih alami kenaikan. Meski ia akui, sampai saat ini kebutuhan telur tidak mengalami kendala dan selalu disiapkan.
“Kami juga bergantung dari agen. Kalau dibilang harga naik, kami pun naikkan harga jual. Tapi, biasanya seminggu sebelum ada kenaikan misalnya telur dalam perjalanan. Tapi harga sudah naik dari sana. Kami sampaikan ke pelanggan, biar mereka tidak kaget,” ungkapnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Peternakan dan Tanaman Pangan Tarakan Elang Buana mengatakan, harga pakan dan konsentratnya naik. Sehingga harga telur pun melambung Rp 35 ribu per kilogram. Biasanya, per kilogram jumlahnya 15-17 biji ukuran besar. Sedangkan di Tarakan, orang biasa menjual telur dengan hitungan per piring, dengan jumlah 30 biji.
“Kalau masuknya telur ke Tarakan lancar saja. Kita kan produksi hanya bisa memenuhi 40 persen kebutuhan telur di Tarakan. Makanya, untuk memenuhi kebutuhan, kita ambil dari luar,” jelasnya.
Selain itu, menyangkut produksi telur lokal masih belum mengalami kenaikan signifikan di Tarakan. Meski ada tambahan peternak baru dan produk telur lokal, sudah mulai dijual ke pasaran. Namun, jumlahnya belum sampai puncak dan masih dalam proses latihan. Untuk bisa menghasilkan telur dalam jumlah banyak.
Sampai saat ini kebutuhan telur, dipenuhi dari Sulawesi Selatan (Sulsel) seperti Sidrap, dengan menggunakan kapal kayu. Sebenarnya bisa didatangkan dari Jawa, namun menghitung ongkos angkut hingga waktu perjalanan.
Menurut Elang, jika dari Sulsel, relatif lebih murah dan jarak perjalanan lebih dekat. Telur yang tiba di Tarakan pun, ada yang dijual kembali ke daerah lain di Kaltara.
“Dibandingkan Surabaya memang agak jauh. Memang ada dari Blitar, Jawa Timur atau Surabaya juga, tapi tak banyak. Sebagian besar, sisa 60 persen yang tidak bisa dipenuhi local, sehingga mengambil dari Sulawesi,” tutur Elang.
Meski belum bisa memenuhi kebutuhan telur dari peternak local. Elang memastikan telur yang beredar di Tarakan masih berasal dari dalam negeri. Tidak ada telur yang masuk melalui jalur ilegal dari Malaysia.
Sebenarnya ayam dan telur di Indonesia lebih murah dari Malaysia. Tapi, yang jelas secara aturan memasukkan dari luar negeri harus ada izin impor. “Misalnya, barang tertentu melalui pemasukan yang diizinkan. Sedangkan Kaltara tidak termasuk pelabuhan yang diizinkan impor,” tegasnya. (kn-2)


