Mobil klasik, bagi para penggemarnya, menghadirkan kenikmatan lewat keindahan lekukan bodi mobil, point of view dari balik kemudi, hingga sebagai investasi karena value tinggi. Classic Car Enthusiast Surabaya lebih menitikberatkan kualitas mobil ketimbang jumlah anggota.
RAMADHONI CAHYA C., Surabaya
MEREKA datang dari latar beragam, dengan usia yang merentang antara 30 sampai 50 tahun. Tapi, begitu berkumpul dalam kopi darat, semua melebur. Sebab, sama-sama dibuhul kegemaran serupa: mobil klasik.
Mobil kesayangan masing-masing pun tak lupa menemani para anggota komunitas Classic Car Enthusiast (CCE) Surabaya dalam tiap kesempatan meriung tersebut. “Ya, yang diobrolin biasanya tips perawatan, bengkel rekomendasi, sambil saling melempar guyonan. Guyub dan hangat,” kata Ketua CCE Surabaya Denny Bernardus kepada Jawa Pos.
Berdiri sejak November 2020, CCE Surabaya, kata Denny, bukan klub mobil yang mengejar jumlah anggota banyak. Tapi lebih menitikberatkan kualitas mobil yang dimiliki para member.
Karena itu, tak semua mobil yang berumur tua bisa bergabung. Ada standar ketat yang dijaga. Misalnya, mobil diharuskan telah diakui dunia sebagai collector item.
Selain itu, mobil klasiknya kudu layak pakai. “Terutama jika mobil klasik itu punya nilai sejarah dan cerita yang bagus. Bisa bergabung,” ucap Denny.
Mobil ”tua” di CCE Surabaya terbagi menjadi dua kategori. Pertama, mobil di bawah tahun 1980 seperti Mercedes-Benz Pagoda, Volkswagen Karmann Ghia, atau Porsche 356 dikategorikan sebagai classic car. Kedua, mobil produksi di bawah tahun 2000 yang diprediksi ke depan menjadi klasik atau future classic seperti Honda NSX, Toyota Supra MK4, serta Nissan Skyline R33.
Rata-rata anggota CCE memiliki mobil koleksi lebih dari satu. Artinya, dari keseluruhan 42 anggota komunitas tersebut, ada ratusan tunggangan klasik.
Ratusan mobil itu berasal dari lokasi produksi yang beragam pula. Buatan Jerman, Amerika Serikat, atau Jepang, misalnya, semuanya ada.
Komunitas yang berbasis di Surabaya itu lebih menekankan orisinalitas. Karena itu, para anggotanya kurang menyukai mobil klasik yang telah mengalami modifikasi. Mereka memilih mengimpor suku cadang asli dari pabrikan asal meskipun membutuhkan waktu yang lama.
Kebanyakan anggota juga telah memiliki bengkel rekomendasi masing-masing. Sebab, tak semua bengkel mampu dan memiliki passion di dunia mobil klasik.
Selain itu, tak ada satu bengkel yang bisa menangani semua jenis mobil klasik. Semua memiliki spesialis masing-masing.
Pengalaman buruk akan suatu bengkel pernah dialami para anggota. Misalnya, yang dialami Budi, salah seorang member CCE. Mercedes-Benz Batman-nya semakin rusak saat direstorasi selama dua tahun di salah satu bengkel.
Mobil klasik, kata Denny, menghadirkan kenikmatan tersendiri saat dikendarai. Mulai keindahan lekukan bodi mobil, point of view dari balik kemudi, hingga sebagai investasi karena value mobil yang tinggi.
Sebagian mobil klasik bisa digunakan untuk harian, semi harian, dan ada juga yang ”eman (sayang)” jika dipakai setiap hari. Sebab, jika mobil itu benar-benar langka dan memiliki value sangat tinggi, pemilik memilih men-towing mobilnya. Misalnya, koleksi mobil tertua milik member CCE Surabaya: Fiat 1912.
“Hampir tidak ada kendala selama dipakai. Karena kami pastikan restorasi optimal meskipun tidak ada kata 100 persen sehat,” ujar Denny.
Itu terbukti ketika mereka melakukan touring luar kota. Tidak ada kendala yang dihadapi. Padahal, dua unit towing telah disiapkan.
Ajang lain yang juga pernah dihelat adalah reli. Pereli nasional Rifat Sungkar yang menjadi anggota kehormatan CCE pun turut hadir. Mereka berkeliling menuju sejumlah destinasi sejarah di Surabaya. Mulai Balai Pemuda, Tugu Pahlawan, hingga Hotel Majapahit.
Dari pengalaman selama ini, lanjut Denny, ketika mereka mengemudikan mobil klasik, sering kali para pengguna jalan lain memberikan acungan jempol. Bahkan, suatu ketika salah seorang anggota CCE pernah dihentikan.
Ternyata yang menghentikan hanya ingin berfoto dengan latar mobil yang dimiliki si anggota. Begitu pula ketika diparkir di suatu tempat, mobil klasik anggota CCE hampir selalu dikerumuni dan dijadikan objek foto.
Bagi Edwin Kurniawan, anggota CCE Surabaya yang lain, hunting mobil klasik saat ini jauh lebih susah dibandingkan tahun 1990-an karena semakin banyaknya kolektor. Sering kali antaranggota melakukan transaksi jual beli jika telah bosan dengan mobilnya. “Mobil kami 100 persen full paper. Surat-suratnya lengkap,” terangnya.
Stephanus H., juga anggota CCE Surabaya, mengaku dirinya bergabung dengan CCE karena saat itu belum menemukan wadah komunitas otomotif yang sreg di hatinya. Di CCE, dia menemukan kesamaan pola pikir dan pandangan karena sebagian besar member masih berusia muda. Di kisaran 30 hingga 50 tahun.
“Bagi saya, esensi mobil klasik adalah upaya menyelamatkan mobil itu dari kepunahan dengan restorasi. Serta pengalaman mengemudi yang minim peranti elektronik dan kebanyakan pure mechanical,” katanya. (*/c19/ttg/jpg)


