Wednesday, 22 April, 2026

Progres Trans Jatim, Bus Penyambung Tiga Wilayah Bertetangga

Ongkos yang ramah di kantong, tepat waktu, dan pelayanan ramah membuat Trans Jatim menjadi andalan kalangan pekerja dan pelajar. Saat akhir pekan, jumlah penumpang bahkan bisa lebih tinggi.

EDI SUSILOSidoarjo

BELASAN bus Trans Jatim terparkir dua saf di Terminal Porong. Matahari belum sepenuhnya muncul, tetapi dua bus di antaranya telah meninggalkan terminal di kawasan Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut.

Tepat pukul 05.25 WIB, Jumat (14/10) lalu, bus ketiga merambat menuju halte setinggi pinggang orang dewasa. Empat penumpang dengan barang bawaan bergegas masuk ke dalam bus yang kacanya berembun karena terpapar AC itu.

Begitu pula lelaki yang datang berboncengan dengan sepeda motor bersama istri dan dua anaknya.

“Bapak berangkat dulu ya,” katanya sambil melambaikan tangan kepada dua bocah yang masih terlihat mengantuk itu.

Di-launching pada 19 Agustus lalu, Trans Jatim dengan cepat menjadi andalan mereka yang setiap hari wira-wiri di tiga kota bertetangga. Yakni, Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik. Terutama kalangan pekerja dan pelajar yang sangat membutuhkan transportasi tepat waktu dengan biaya terjangkau, meski mereka harus siap berdiri dan berdesakan.

Jawa Pos mengikuti perjalanan bus yang berangkat dari Terminal Porong pada Jumat pagi itu dengan tujuan akhir Terminal Bunder, Gresik. Bus menyusuri jalan arteri Sidoarjo. Lagu Buka Hatimu dari Armada yang mengalun dari speaker bus, menemani perjalanan penumpang yang memulai hari.

Setiap kali bus berhenti, seorang pramugara menyambut penumpang dengan ramah. Menunduk, menyilangkan tangan kanan ke dada. “Selamat pagi, selamat datang,” sapanya.

Dari halte ke halte, kursi-kursi kosong mulai terisi. Pekerja, mahasiswa, sampai para siswa berseragam SD dan SMP masuk ke bus. Di halte Lemah Putro, Sidoarjo, empat orang sudah berdiri, bergelantungan, tak kebagian tempat. “Untung pagi ini masih dapat tempat duduk,” terang Thereza Thai Putri, 13.

Sejak bus Trans Jatim di-launching, pelajar kelas IX SMPN 1 Waru, Sidoarjo, itu telah menjadi penumpang setia. Naik dari halte Lemah Putro, turun di halte Bungurasih, lalu naik ojek daring menuju ke sekolah.

Thereza memilih bus karena ketepatan waktu yang membuatnya tak harus cepat-cepat bangun dari tempat tidur. “Kalau naik kereta, jam 5 pagi harus sudah di stasiun agar tak ketinggalan. Dengan bus, saya bisa berangkat setengah jam lebih siang dan tidak kepagian sesampai di sekolah,” ungkap upik yang bercita-cita menjadi dokter itu.

Menurut Thereza, hanya satu kekurangan Trans Jatim. “Bus terlalu penuh,” ucapnya. Total armada Trans Jatim baru 22 bus, yakni 20 bus jalan dan 2 bus cadangan. Dengan ukuran bus yang kecil dan tingginya antusiasme, penumpukan penumpang pun menjadi pemandangan rutin.

Benar saja, sebelum naik ke jalur tol dari Sidoarjo Kota menuju Terminal Purabaya, penumpang semakin berdesakan. Sebanyak 12 orang berdiri, beradu pinggang. Mencari ruang kosong di bus mungil dengan kapasitas 20 kursi itu. Penumpang semakin padat ketika memasuki Terminal Purabaya menuju Gresik.

Meski berdesakan, banyak orang tetap memilih naik Trans Jatim karena ongkosnya yang murah. Bus yang didanai oleh APBD Pemprov Jatim itu hanya mematok tarif Rp 5.000. Sementara itu, pelajar dikenai tarif separonya.

“Lebih murah pakai ini,” ujar Wuwuh Rahayu, warga Kebomas, Gresik. Perempuan yang bekerja di majalah bahasa Jawa, Jaya Baya, itu saban hari pulang pergi Gresik–Sidoarjo dengan Trans Jatim. Dia pun bisa menghemat pengeluaran hingga 50 persen.

Ongkos memang jadi pertimbangan banyak penumpang yang memilih Trans Jatim. Adil, warga Kedungturi, Sidoarjo, yang bekerja di kapal logistik di Lamongan, mengaku bisa berhemat banyak ketimbang naik sepeda motor. “Kalau naik motor dari Sidoarjo ke Lamongan, pulang pergi bisa habis Rp 50 ribu,” tuturnya.

Kasi Prasarana Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim Ainur Rofiq mengakui soal penuhnya penumpang bus Trans Jatim. Terutama tiap pagi dan menjelang sore, saat jam berangkat dan pulang kerja.

Jumlah penumpang kian banyak saat akhir pekan. Warga memanfaatkannya untuk pelesir. Load factor bus bisa di atas 100 persen. “Untuk hari kerja, load factor Trans Jatim sudah 85 persen. Cukup tinggi,” paparnya.

Soal penambahan bus, pihaknya sedang melakukan evaluasi selama tiga bulan ini. Jika angka penumpang konsisten, yakni 3.500–4.000 orang per hari, tambahan armada akan diusulkan dan dimasukkan ke PABD 2023. Komisi D DPRD Jatim, kata Rofiq, juga mendukung penuh penganggaran penambahan armada bus.

Antusiasme penumpang yang memilih Trans Jatim itu tidak terlepas dari pelayanan prima. Bus selalu dicek sebelum berangkat. Setiap hari disiapkan dua bus cadangan, jika sewaktu-waktu ada kendala pada armada yang sedang beroperasi mengangkut penumpang.

Selain itu, waktu tunggu bus terus dijaga, yakni 15–20 menit. Penumpang juga bisa mengecek posisi bus lewat aplikasi TransJatim Ajaib.

Seluruh layanan nontunai untuk pembayaran per Oktober ini juga bisa dimanfaatkan penumpang. Saat ini 25 persen penumpang Trans Jatim memilih pembayaran nontunai. “Meski begitu, kami tetap mempertahankan pembayaran tunai bagi mereka yang tidak punya handphone,” jelasnya.

Rofiq menuturkan, skema itu dipertahankan lantaran penumpang Trans Jatim datang dari beragam kalangan. Mulai pekerja kerah putih sampai pedagang sayur.

Ke depan, Trans Jatim akan terus dikembangkan. Dishub sedang menjajaki rencana penerapan tiket terusan. Tiket Trans Jatim bisa digunakan oleh mereka yang ingin melanjutkan dengan Suroboyo Bus dan Trans Semanggi. “Nanti kami komunikasikan dengan dishub kabupaten/kota,” terangnya.

Begitu pula tiket terusan dengan komuter. PT Kereta Commuter Indonesia sudah berkirim surat dengan Dishub Jatim. Skemanya akan dibahas dalam rapat minggu depan. Tiket terusan dengan komuter itu dipilih karena lokasi sejumlah halte Trans Jatim saat ini dekat dengan stasiun. (*/c18/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru