Wednesday, 20 May, 2026

Harajuku dan Spirit Decora Kei yang Tak Pernah Mati

Terpaut 13 tahun, kesaksian musikal Gwen Stefani dan Kyary Pamyu Pamyu adalah salah satu bukti bahwa spirit perlawanan dalam semesta fashion ala Harajuku terus menyala. Tapi, bagaimanapun harus tetap berkompromi dengan arus besar turisme.

TATANG MAHARDIKATokyo

”PERLAWANAN” itu bermula dari perempatan di depan stasiun tua di bagian tengah Tokyo, Jepang. Yang salah satu ruasnya mengarah ke Takeshita-dori, jalan yang kiri-kanannya diapit ratusan toko, bar, kafe, dan kedai.

Di situlah, di jalanan sempit persis di seberang Stasiun Harajuku itu, dalam bahasa penyanyi Amerika Serikat Gwen Stefani lewat Harajuku Girls, ”a subculture, in a kaleidoscope of fashion”, berada. Yang manis, yang kasual, sampai yang ekstrem dalam semesta busana bersirobok.

Dan, semangat kebebasan yang berpadu dengan imajinasi cara berpenampilan yang menantang kelaziman itu ternyata berjalan jauh melampaui Harajuku.

Harajuku Girls-nya Gwen Stefani adalah bukti bagaimana anak-anak muda di pelosok dunia jatuh cinta kepada mereka.

“Harajuku Girls, I like your wicked style//I like the way that you are//I am your biggest fans, oh,” tutur eks vokalis No Doubt itu dalam penggalan lagunya yang termaktub di album Love. Angel. Music. Baby. tersebut.

Tapi, Harajuku Girls dirilis pada 2004, masa ketika pengaruh Harajuku yang dimulai pada 1990-an masih kuat menancap di berbagai penjuru bumi. Yang misalnya di sini jejaknya bisa ditemukan pada outfit panggung duo Ratu yang dikomandoi Maia Estianty dan band J-Rocks.

Meninggalkan dekade pertama 2000-an, pengaruh gaya Harajuku yang biasa disebut sebagai Decora Kei itu perlahan meredup. Decora Kei secara garis besar adalah gaya estetis dan fashion Jepang yang menitikberatkan pada aksesori yang akarnya bisa dilacak pada kiprah Tomoe Shinohara, penyanyi, aktris, sekaligus desainer idola anak-anak muda Jepang pada 1990-an.

Lalu, punahkah spirit menantang kelaziman dari gang kecil di depan Stasiun Harajuku itu kini?

*

Takeshita-dori belum sepenuhnya bangun dari tidur sekitar pukul 10.00 Sabtu (22/10) lalu itu. Sebagian besar toko masih tutup. Yang lalu-lalang pun masih segelintir.

Harajuku, meski memang nama distrik, sejatinya lebih mengacu pada pengertian geografis yang kolektif. Wilayahnya terentang sampai Sendagaya di utara sampai Shibuya di selatan.

Secara fisik tak ada yang istimewa dari Takeshita. Sempit dan panjangnya cuma sekitar 400 meter. Tapi, secara spirit, inilah jantung wilayah kebudayaan Harajuku. Decora Kei dengan segala pernak-perniknya berdetak di sini. Bukan di seberang jalan, juga berupa sebuah gang tak lebar, yang sebenarnya justru bernama Jalan Harajuku.

“Anda yang datangnya kepagian. Takeshita pasti selalu ramai Sabtu begini,” kata Shinji Matsuda, seorang pemilik toko suvenir, kepada Jawa Pos.

Di jalanan sepanjang sekitar 400 meter itu, fashion bersanding erat dengan fun dan food. Kedai crepes, misalnya, bertaburan saling mengklaim sebagai pionir di tempat tersebut. Yang satu menulis slogan sebagai ”yang pertama sejak 1977”. Yang lain membalasnya dengan memasang tagline ”berdiri sejak 1976”.

Makan siang menjelang, yang dikatakan Matsuda mulai terlihat. Arus orang dari Stasiun Harajuku mengalir. Tua, muda, anak-anak, anak segala bangsa.

Di ujung sini sejumlah turis sepuh kulit putih tampak memelototi peta. Di depan beberapa toko, terlihat para penjaja dagangan berkulit hitam yang tampaknya dari Afrika. Juga, para upik dan buyung yang digandeng otousan dan okosan mereka. Bahkan pula satu-dua ibu-ibu berjilbab terlihat di sejumlah sudut.

“Kalau ke Jepang nggak ke Takeshita memang rasanya belum lengkap,” kata Ganang Purwaka, seorang pelancong dari Bandung yang kebetulan satu hotel dengan Jawa Pos.

Di antara kerumunan itulah, para lolita bergaun bling-bling tampak. Dengan rambut (atau mayoritas wig) yang juga menyala serta aksesori yang tak kalah ramai. Juga mereka yang memilih tampil gothic dengan baju/jaket kulit hitam yang menonjol.

Sebagian mengenakan cosplay. Sebagian lainnya ber-rock retro-ria. Hanya anak-anak punk yang tidak (atau belum) terlihat sampai Jawa Pos meninggalkan kawasan Harajuku saat hari menjelang sore Sabtu lalu itu.

Jam terus berjalan, jumlahnya semakin bertambah. Rata-rata anak-anak usia SMP atau SMA meski yang lebih dewasa dari itu juga ada. Dan tak cuma warga lokal.

“Dari mana pun asalmu, di sini adalah tempat kamu bebas mengekspresikan diri jadi apa saja,” kata Joan White, perempuan paro akhir 30-an tahun, asal London, Inggris, yang membungkus tubuh rampingnya dengan busana serbakulit dan make-up tebal.

Sebenarnya, tulis desainer Azra Syakirah di it’syourjapan.com, tidak ada yang namanya gaya khusus Harajuku. “Kalaupun ada, pada dasarnya itu adalah gaya yang menihilkan aturan-aturan,” tulis perempuan kelahiran Singapura yang kini tinggal dan bekerja di Jepang tersebut.

Kalaupun sekarang gaya Harajuku berubah, sehingga mungkin tidak terlihat mencolok, bagi Azra itu adalah sebuah kewajaran. “Yang terjadi di Harajuku adalah re-evolusi dan seperti banyak hal lain di dunia, perubahan itu tidak harus seperti bentuk asli,” tulisnya lagi.

Takeshita dan Harajuku secara keseluruhan pada akhirnya memang harus berkompromi dengan arus besar turisme. Para turis yang lebih tampak dominan pada Sabtu siang lalu itu, tentu tak semuanya ”pemberontak” yang menyukai gaya berpakaian yang menabrak kelaziman.

Tak semua yang menjadikan Harajuku syarat wajib untuk dikunjungi saat ke Jepang senang menjadi bagian subkultur. Banyak yang lebih nyaman berada di tengah-tengah arus utama.

Karena itu, brand-brand besar hadir di Harajuku. Bahkan, salah satunya sampai menimbulkan antrean panjang sebelum pintu dibuka pada Sabtu lalu itu. Para label dan desainer, tulis Azra lagi, yang dulu tumbuh dengan semangat, katakanlah, indie, akhirnya pun berusaha untuk menjadi arus utama.

*

Tapi, spirit Decora Kei tak pernah mati. Takeshita dan Harajuku tetap zona nyaman bagi banyak orang, terutama anak-anak muda, yang merasa ekspresinya terbatasi di lingkungannya.

Spanduk yang terpasang di tengah-tengah jalan juga menggambarkan semangat itu. Di situ tertulis genderless fashion show yang dihelat sepekan sebelumnya.

Genderless. Jadi, bagaimanapun Anda mempersepsikan diri Anda, Anda diterima di sini, di Harajuku. “Get high! It all started on that intersection,” teriak Kyary Pamyu-Pamyu, model sekaligus penyanyi Jepang, lewat Harajuku Iyahoi yang dirilis 13 tahun setelah Harajuku Girls-nya Gwen Stefani.

Ya, semua bermula dari perempatan itu. Semangat melawan yang tak pernah lekang dimakan zaman. (*/c7/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru