Tuesday, 14 April, 2026

Tim Bedah Vaskular dr Soetomo Sukses Operasi Penetrating Aortic Ulcer

Tim bedah jantung RSUD dr Soetomo kembali berhasil menangani kasus besar dengan robekan pembuluh darah aorta 4 sentimeter. Berbeda dengan kasus sebelumnya, pasien kali ini merupakan pasien dengan trauma kecelakaan yang kondisinya sangat parah.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

RULIS Wijayanti, warga Siwalankerto, terlihat begitu bersemangat saat dikunjungi Dr dr Yan Efrata Sembiring SpB SpBTKV Subsp VE (K) dan dr Danang SpBTKV Subsp VE (K) di ruang rawat jalan Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD dr Soetomo Kamis (3/11).

Perempuan 41 tahun itu sudah bisa pulang dan beraktivitas setelah menjalani tiga operasi pasca kecelakaan hebat pada 8 Oktober lalu. Sebelumnya, Rulis sempat pingsan 14 hari karena trauma kecelakaan hebat itu.

Hampir seluruh tulang iga kanan dan kiri patah sehingga membuat dia susah bernapas, pendarahan paru bagian kiri hingga 950 liter, dan terjadi robekan pembuluh darah aorta 4 sentimeter.

“Itu menunjukkan trauma cukup berat ini dan beruntung pasien masih bisa survive. Biasanya sebagian besar trauma seperti ini, pasien bisa meninggal di tempat,” kata Yan saat menjelaskan kondisi pasien sebelum dioperasi.

Dengan kondisi pasien datang kritis tersebut, tim dokter bedah jantung RSUD dr Soetomo langsung mengambil tindakan operasi beberapa tahap. Mulai pemasangan slang dada, perbaikan tulang rusuk, hingga terakhir operasi pembuluh darah aorta yang robek (penetrating aortic ulcer).

“Operasi ini termasuk salah satu operasi paling rumit. Biayanya pun sampai Rp 450 juta. Tidak cukup hanya BPJS. Pemprov dan RSUD dr Soetomo meng-cover semuanya,” ujarnya.

Danang menambahkan, pasien datang pada 9 Oktober. Saat itu pasien susah napas. Saat dicek, ada patah tulang iga yang cukup banyak. Paling parah tulang iga kiri. Kondisi tulang iga yang patah cukup parah itu membuat pasien tidak bisa bernapas. “Akhirnya pasien harus dibantu dengan ventilator,” kata dia.

Selain tulang iga yang patah, lanjut dia, ada plak cukup besar di pembuluh darah sehingga terjadi robek cukup lebar, 4 sentimeter. Jadi, tim dokter bedah jantung memutuskan untuk melakukan perbaikan dulu pada tulang iga yang patah.

Tujuannya, pasien bisa bernapas tanpa ventilator. Operasi pertama perbaikan tulang iga atau rusuk itu dilakukan pada 17 Oktober. “Butuh waktu kurang lebih 2 jam untuk perbaikan tulang rusuk atau iga pada pasien,” ujarnya.

Operasi pun dilanjutkan pada 25 Oktober untuk tindakan operasi tevar (thoracic endovascular aortic repair). Yakni, metode dengan minimal invasif sehingga tidak perlu dilakukan tindakan operasi bedah, tetapi hanya memasang stent graft ke dalam pembuluh darah aorta pasien. Kemudian, dilanjutkan operasi bypass jantung yang dilakukan dari leher ke tangan bagian kiri.

“Operasi pemasangan tevar ini lebih kompleks karena ada riwayat trauma atau kecelakaan. Butuh waktu 6 jam untuk operasi tevar,” kata dia.

Danang mengatakan, tujuan pemasangan tevar adalah menutup robekan dari pembuluh darah aorta agar tidak teraliri darah. Kasus pada pasien Rulis kali ini adalah kasus trauma kecelakaan pertama yang ditangani.

Selain tim bedah vaskular, operasi tersebut ditangani tim bedah toraks dr Dhihintia Jiwangga dr SpBTKV Subsp T (K) dan tim anestesi dr Teuku Aswin Husain SpAn KAKV. “Dari seluruh tahapan operasi, yang paling sulit saat pemasangan tevar,” ujarnya. (*/c7/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru