Para relawan dari berbagai latar belakang menempuh sulitnya mengumpulkan dana dan menembus lokasi korban tragedi Kanjuruhan untuk meneruskan amanah bantuan. Tak sedikit pula yang mengalami trauma mendalam karena juga berada di stadion saat tragedi terjadi.
FARID S. MAULANA, Kota Malang
TRAGEDI Kanjuruhan mendorong Aditya Aris untuk melupakan kemarahan di masa silam. Atas nama kemanusiaan, dia rela menghabiskan tenaga dan waktu membantu para korban, baik yang terluka maupun yang telah meninggal.
Koordinator Bonek Plat N itu mendatangi satu per satu korban untuk memberi bantuan. “Mereka yang jadi korban juga saudara saya meski selama ini jadi rival, Mas,” tutur Aditya yang sudah menetap di Kota Malang sejak 2009.
Adit (sapaan Aditya Aris) jadi pemegang amanah sumbangan dan bantuan, baik dari kalangan Bonek maupun beberapa yayasan di Surabaya, untuk disalurkan kepada korban. “Awalnya sempat ragu, apakah saya diterima datang sebagai Bonek. Tapi alhamdulillah, ternyata korban menerima saya dengan baik walau tetap pakai identitas Bonek,” ujarnya.
Bahkan, Adit melihat sendiri bagaimana keinginan keluarga korban dan tetangga sekitarnya untuk berdamai dengan Bonek. Menghentikan rivalitas yang selama ini kebablasan. “Saya diminta sampaikan ucapan terima kasih dan salam damai dari Aremania,” ungkapnya.
Adit mengaku tidak pernah ada rasa takut ketika datang ke keluarga korban meski memakai atribut Bonek lengkap. Menurut dia, di situasi seperti sekarang, setelah 135 nyawa terenggut dalam tragedi yang terjadi seusai laga Arema FC versus Persebaya Surabaya itu, kemanusiaan di atas segalanya.
“Saya bukannya ingin pamer atau sok jagoan juga. Saya juga ingin menunjukkan, tragedi Kanjuruhan ini luka kami semua,” katanya.
Adit satu dari sekian banyak relawan yang berjuang berbarengan mereka yang rutin turun ke jalan untuk menuntut pengusutan tuntas atas tragedi Kanjuruhan. Muda, tua, pria, wanita, dari berbagai latar belakang, berada di garda depan distribusi bantuan untuk para korban.
Adit mengaku awalnya sempat kesulitan mengenai data korban, khususnya yang kondisinya luka. Dia fokus ke korban luka karena ingin membantu pengobatan dan kondisi mental. “Karena saya bukan Aremania, sulit dapat data korban. Akhirnya saya potong kompas minta tolong anak Malang yang jadi relawan di Arema FC,” paparnya.
Setelah data itu didapat, kesulitan lain adalah akses menuju lokasi. Alamat korban luka yang jaraknya cukup jauh membuatnya harus merelakan waktu liburnya untuk menyalurkan bantuan. “Karena amanah, sejauh dan sesulit apa pun, saya harus berikan,” tegasnya.
Soal kendala akses menyalurkan bantuan juga dialami relawan manajemen Arema FC Tjiptadi Purnomo. “Wah, dari jalan makadam sampai kami harus ikut mengangkat pohon tumbang, pernah, Mas,” bebernya.
Apalagi, manajemen Arema FC berkomitmen akan memberikan bantuan total kepada seluruh korban. Khususnya ke-135 korban jiwa yang melayang. “Ini kan lokasinya juga berjauh-jauhan. Kami harus jangkau semuanya,” ujar dia.
Tapi, itu semua tidak ada tandingannya dengan duka yang dialami keluarga korban. Karena itulah, Adi (sapaan akrabnya) tidak pernah mengeluh ataupun menyerah meski akses ke lokasi sangat susah.
“Yang jelas, apa yang keluarga korban rasakan, itu yang juga kami rasakan,” tuturnya. Adi menjelaskan, tidak mudah jadi relawan. Apalagi, mereka juga berada di stadion saat tragedi pada 1 Oktober lalu itu terjadi.
Tak heran jika banyak relawan dari manajemen Arema FC yang juga merasakan trauma sangat mendalam. “Kami sempat trauma healing, karena memang mental juga kena,” katanya.
Kendala lain adalah intimidasi pihak tertentu kepada korban. Dampaknya, korban jadi curiga kepada relawan yang tulus membantu. Telly Hardadi, salah seorang pentolan Aremania, sempat mengalaminya.
Telly yang sudah mendistribusikan ke lebih dari 80 korban jiwa dan luka mengungkapkan, keluarga korban sudah didatangi beberapa ”oknum” sebelum menerima santunan dari pihaknya. Oknum itu pula yang kemudian mengintimidasi korban. “Disuruh jangan jawab ini dan itu kalau ditanya. Mereka jadi takut,” bebernya.
Itu yang sempat membuatnya mendapat penolakan ketika mendatangi keluarga korban. Telly dianggap dari kalangan yang sama yang mengancam keluarga korban. Pria yang punya usaha distro tersebut menegaskan akan terus membagikan santunan kepada para korban sampai 40 hari tragedi Kanjuruhan. Atau sampai Kamis (10/11) lusa.
“Tapi, saya tetap pantau karena kondisi korban kritis masih banyak. Kalau memang membutuhkan bantuan, saya akan turun lagi,” paparnya. (*/c9/ttg/jpg)


