Heri Lentho meriset dengan teliti, mulai pakaian sampai dentuman bom, agar bisa menghadirkan suasana 10 November di setiap edisi Parade Surabaya Juang. Ikhtiar merawat semangat kepahlawanan juga dilakukan melalui Sekolah Kebangsaan dan memberi definisi baru makna ”arek Suroboyo.”
NURUL KOMARIYAH, Surabaya
SEMUA bermula dari sebuah seminar dan survei. Muncul kekhawatiran, terutama di kalangan veteran, tentang meredupnya nasionalisme anak-anak muda.
Kebetulan, sebelumnya ada survei di sebuah radio di Surabaya yang menanyakan 10 November itu hari apa kepada kalangan muda. “Ternyata kebanyakan menjawab hari Jumat (sesuai dengan penanggalan pada tahun itu, Red). Mereka tidak tahu bahwa 10 November itu Hari Pahlawan,” ujar Heri Lentho yang kebetulan hadir dalam seminar di Balai Pemuda, Surabaya, pada 2008 tersebut.
Ada kesan kuat anak muda disudutkan, sesuatu yang menurut seniman bernama asli Heri Prasetyo itu kurang pas. Jadilah, di sesi tanya jawab dia bertanya, ”Siapa yang salah atas kondisi tersebut?” Menurut dia, para orang tua yang justru harus bertanggung jawab karena gagal mentransmisikan nilai kepahlawanan kepada anak-anak muda.
Salah seorang ketua veteran lantas bertanya apa ada usulan yang bisa diajukan Heri. Saat itulah bapak dua anak itu mengusulkan parade yang berkonsep mentransfer nilai dan semangat nasionalisme para veteran yang tidak luntur meski telah pensiun.
Dan, sejarah pun mencatat, parade juang itu kemudian rutin berlangsung sejak 2008 sampai sekarang. Hanya terhenti saat pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021 yang digantikan dengan pembuatan film dan pertunjukan visual terbatas.
Parade Surabaya Juang, demikian dinamakan, menjadi salah satu medium merawat ingatan tentang nasionalisme dan heroisme. Sesuai dengan identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan.
Ajang tersebut dihelat setiap menjelang Hari Pahlawan. Bentuknya berupa drama kolosal teatrikal. Edisi tahun ini baru saja dipanggungkan pada Minggu (6/11).
Ribuan warga Kota Pahlawan menyaksikan pertunjukan teatrikal yang berkeliling melewati beberapa rute. Dimulai dari Tugu Pahlawan dan berakhir di Balai Kota Surabaya. Fragmen-fragmen peperangan dibuat sedetail dan semirip mungkin dengan aslinya. Demi sebuah pertunjukan dengan tampilan visual yang menggetarkan.
Heri berada di balik ikhtiar terus-menerus menguri-uri semangat kepahlawanan tersebut. Alumnus Seni Tari Universitas Negeri Surabaya itu bukan cuma penggagas, tetapi juga penulis naskah sekaligus sutradara. Mulai edisi pertama sampai sekarang.
Di setiap edisi, Heri selalu berusaha menghadirkan nuansa semirip-miripnya dengan kejadian sesungguhnya. Termasuk saat memperagakan dentuman bom dari utara menuju selatan.
Karena itu, riset adalah kunci. Pria kelahiran Malang, 13 Mei 1967, tersebut rutin berdiskusi dengan para pemerhati sejarah dari lintas komunitas. Di antaranya, Surabaya Historical Club dan Komunitas Roodebrug Soerabaia.
Sampai pakaian pun harus detail. “Pejuang TKR itu seragamnya bagaimana, seragam sekutu beserta pangkatnya itu seperti apa,” terangnya kepada Jawa Pos di Taman Budaya Cak Durasim, Surabaya, pada Jumat (28/10) pekan lalu.
Potret perang 10 November 1945 di Surabaya pun berusaha ditampilkan secara runut agar bisa menjadi pemahaman sekaligus pengetahuan sejarah bagi masyarakat.
Ada 10 ribu orang yang berpartisipasi di edisi tahun ini. Partisipasi anak-anak muda dari kalangan pelajar dan mahasiswa di edisi 2022 ini juga semakin meningkat.
Bahkan, ada sekitar 250 mahasiswa dari luar Surabaya yang ikut serta. Tahun ini juga ditandai kemunculan cosplay tokoh-tokoh anime yang membawa pesan mengenai hidup yang berkelanjutan dengan menolak perang. “Mereka menjadi warna baru dalam Parade Surabaya Juang 2022,” ujarnya.
Heri menyatakan, tercetusnya Parade Surabaya Juang dipicu keinginan untuk menebar nilai kebaikan. Menurut dia, keberhasilan sebuah bangsa juga ditandai dengan kesuksesan membangun manusia yang berkarakter dan berkepribadian budaya Indonesia.
“Apalagi, sekarang ini terjadi banyak pergeseran nilai yang tampak nyata. Misalnya, tidak bisa menerima kekalahan, tidak ada lagi tradisi legawa saat kalah. Konsepnya berubah menjadi tindakan merebut, merusak, bahkan membunuh,” jelasnya.
Semangat kegotongroyongan khas Surabaya sangat tampak sejak edisi perdana. Warga, pelajar, dan mahasiswa, misalnya, menjadi relawan tanpa meminta imbalan.
“Di tiga tahun pertama, Parade Surabaya Juang berhasil terlaksana berkat donatur, budaya bantingan atau urunan, dan sinoman,” kenang Heri.
Setelah tiga tahun, Parade Surabaya Juang didanai Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. “Karena bagi saya pribadi, agak miris kalau kita menyebar proposal pendanaan dengan menjual nama pahlawan. Di situ kami tertantang nggak boleh ngomong tentang uang,” paparnya.
Saat kali pertama dihelat pada 2008, secara mengejutkan parade kedatangan beberapa seniman besar. Mulai Slamet Rahardjo, Alex Komang, Ratna Riantiarno, Ine Febriyanti, hingga Olivia Zalianty. Mereka berpartisipasi tanpa dibayar.
Dan, selama 15 tahun diadakan, meski partisipan dalam jumlah besar, parade tersebut tercatat zero accident. “Keamanan betul-betul ditegakkan. Posisi pemain dan penonton serta tipe mercon yang dipakai dipikirkan dengan serius,” ungkapnya.
Mentransmisikan semangat kepahlawanan lewat cara yang segar dan kreatif melalui kesenian dianggap Heri sangat efektif. Perjalanan Parade Surabaya Juang yang dimulai pada 2008 pun dibarengi pula beragam upaya lain untuk terus merawat semangat kepahlawanan. Sebut saja audiensi dengan wali kota Surabaya kala itu, Bambang Dwi Hartono. Muaranya, lahir ketentuan bagi pelajar, guru, dan PNS untuk mengenakan pakaian pejuang saat 10 November. Dan, itu berlangsung sampai saat ini.
Heri juga menggagas Sekolah Kebangsaan yang menyasar anak-anak muda, terutama kalangan pelajar. Mereka tidak lagi hanya belajar sejarah satu arah, tetapi juga dilibatkan secara langsung. Misalnya, diajak ke SMA St Louis dan diberi tahu bahwa dulu sekolah itu merupakan tempat bersejarah.
Di sanalah pengibaran bendera Merah Putih pertama di Surabaya dilakukan setelah proklamasi kemerdekaan, tepatnya pada 19 Agustus 1945.
“Lalu, diajak ke Don Bosco untuk teatrikal rekonstruksi perebutan senjata dan perobekan bendera. Jadi, langsung menginternalisasi, merasuk ke jiwa anak seumur hidup,” katanya.
Heri sekaligus mencoba merumuskan definisi baru arek Suroboyo. Bagi dia, terminologi itu tidak sekadar merujuk kepada badan yang terlahir di Surabaya. Tetapi juga jiwa yang membela kebenaran dan menjaga berkibarnya Merah Putih.
Dalam sejarahnya, lanjutnya, pengibaran bendera pertama di SMA St Louis dilakukan Nainggolan, seorang suku Batak. Lalu, M. Yasin atau yang dikenal dengan sebutan polisi istimewa adalah orang Sulawesi.
Sahabat Bung Tomo bernama K’tut Tantri malah orang luar negeri yang kali pertama menyiarkan kejadian perang 10 November 1945. “Mereka kan sangat Merah Putih. Buat saya, mereka itu arek Suroboyo,” tegasnya. (*/c14/ttg/jgp)


