Besok KTT G20 resmi digelar. Sejumlah titik vital di Bali yang akan digunakan untuk rangkaian acara dipastikan siap menyambut pergelaran akbar yang dihadiri 17 kepala negara itu. G20 pun diharapkan warga Bali bisa membuat pariwisata mereka kembali berdenyut kencang setelah dihantam pandemi.
DINDA JUWITA, Badung
PANDEMI Covid-19 menghajar Ida Bagus Gede Agus Setiawan dengan keras. Dari semula tiap hari mendapat order sebagai sopir mendadak mati suri. Sebab, pariwisata, sektor yang menghidupi Bali, lumpuh.
”Akhirnya saya sempat jualan nasi untuk menghidupi keluarga saya. Jual nasi lawar, sate lilit, ayam betutu juga, macam-macam,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (13/11).
Jualan nasi itu dilakukannya selama sekitar 1,5 tahun lebih. Ia tak punya banyak pilihan, apa pun pekerjaan halal akan dilakoninya. ”Kalau nggak gitu nggak makan saya,” ucap pria asli Bali tersebut.
Seiring mulai pulihnya pariwisata Pulau Dewata, Gede pun mulai kembali ke pekerjaan lamanya. Beberapa order didapatkannya. Dan, dua bulan yang lalu, pria yang sudah 20 tahun menjadi sopir itu bungah luar biasa ketika mendapat order dari sebuah vendor. Ia dikabari untuk melayani mobilitas para peserta G20, konferensi tingkat tinggi (KTT) yang secara resmi akan dimulai besok (15/11).
Gede menceritakan, dirinya sempat mendapat order mengantar rombongan tim pendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden belum lama ini. Maklum saja, untuk event sekelas G20, sudah selayaknya tim-tim pendukung kepala negara wira-wiri. Tujuannya tentu memastikan seluruh aspek aman dan siap digunakan.
Mendapat order dari tim kepala negara adidaya itu, Gede mengaku berupaya menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Termasuk melayani request-request mereka. ”Waktu saya antar itu, mesin mobil ndak boleh mati, harus nyala terus sampai mereka selesai. Ya ndak apa-apa sih, hanya lumayan boros bensin. Tapi, saya tetap siap ikuti saja,” kisahnya.
Gede berupaya bekerja seprofesional mungkin. Meski diakuinya para penumpangnya itu bukan wisatawan biasa. ”Ngantar dari airport ke Grand Hyatt (tempat menginap selama KTT G20, Red) itu beberapa kali. Nggak sempat ngobrol sama supporting team mereka. Tapi ya beda juga ya karena bukan wisatawan. Karena mereka lebih teliti, unit (mobil) harus rapi, jalannya harus sangat hati-hati dan teliti,” ungkapnya.
Mengunjungi Bali di hari-hari ini memang berbeda dari biasanya. Lalu lintas di Nusa Dua yang menjadi episentrum KTT G20 tak seleluasa biasanya. Namun, bagi warga Bali, hal itu adalah konsekuensi bagi mereka. Justru mereka amat bahagia ketika ajang itu dimulai. ”Harapannya, ekonomi di Bali bisa kembali pulih, apalagi setelah G20 ini. Tambah ramai pariwisatanya,” kata Gede.
Di setiap sudut di Nusa Dua, para pecalang pun terlihat berjaga hampir 24 jam. Mereka silih berganti disiagakan bersama tim gabungan TNI/Polri. ”Kami diberi pengumuman oleh pecalang, sementara selama G20 harus membatasi perjalanan, karena ada ganjil genap juga. Ndak apa, kami senang ada G20 karena Bali jadi ramai lagi,” jelas Agus, salah seorang warga Nusa Dua.
Sekitar 12 km dari Nusa Dua, kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) juga terus dipercantik. Pantauan Jawa Pos pada Jumat (11/11) lalu, misalnya, sejumlah bus terlihat berjejer di seberang Restoran Jendela Bali. Penjagaan juga diperketat, terutama kawasan masuk menuju arena welcoming dinner (jamuan makan malam) G20 besok.
Taman Budaya GWK merupakan salah satu destinasi favorit Pulau Dewata. Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan kepala delegasi akan menghadiri jamuan makan malam di area Lotus Pond sebagai bagian dari rangkaian kegiatan KTT G20.
Direktur Operasional GWK Stefanus Yonathan Astayasa menyatakan, pihaknya telah siap 100 persen menerima kunjungan tersebut. ”Kami mulai melakukan perbaikan venue-venue dan akses. Prioritas kami adalah akses karena akses untuk G20 harus bisa bebas antrean,” katanya.
Stefanus menambahkan, pengerjaan akses yang akan dilalui para kepala negara anggota G20 telah dilakukan sejak Juni lalu. ”Jadi, kami membuat beberapa akses dan itu membutuhkan waktu,” imbuhnya.
Selain GWK, sebenarnya ada beberapa destinasi lain yang diajukan kepada Presiden Jokowi sebelum akhirnya pilihan dijatuhkan pada taman budaya tersebut. Alasannya karena keunikan dan karakter yang kuat dari kawasan wisata itu.
Taman Budaya GWK dirancang Nyoman Nuarta sejak 1980-an. Dibutuhkan waktu yang cukup lama sampai akhirnya ide GWK diterima masyarakat dari awalnya dianggap proyek menghamburkan uang belaka. Pada 22 September 2018, taman budaya seluas 60 hektare tersebut diresmikan Jokowi.
Keistimewaan salah satu destinasi favorit di Bali itu terletak pada patung GWK yang menjulang kokoh setinggi lebih dari 120 meter. Patung berbahan logam tembaga, baja, dan kuningan tersebut menggambarkan Dewa Hindu Wisnu yang berada di atas tunggangannya, burung garuda.
Sebagai tempat berlangsungnya jamuan makan malam, Lotus Pond merupakan tengara (landmark) terbesar di GWK yang dikenal sebagai alun-alun utama. Area outdoor tersebut dapat menampung hingga 7.500 orang.
Pelataran yang luas membentang itu terlihat sangat megah dengan tebing kapur yang berjejer di kanan-kirinya. Pemandangan di titik itu makin menawan dengan kehadiran patung garuda di salah satu ujung deret tebing kapur.
Melangkah memasuki pintu utama Lotus Pond, terdapat Tirta Agung (air suci). Di sana pengunjung juga dapat menemukan dinding batu berukir (relief) yang memuat kisah Garuda Wisnu Kencana hingga akhirnya menjadi tunggangan Dewa Wisnu, dewa yang dalam kepercayaan Hindu diyakini sebagai dewa pelindung jagat raya.
”Rencananya ada sekitar 300 sampai 400 orang yang akan menghadiri jamuan makan malam di Lotus Pond. Sisanya, peserta G20 yang tidak ikut dalam jamuan makan malam bisa menyantap makan malam di Restoran Jendela Bali,” imbuhnya.
Stefanus juga optimistis ajang G20 akan memberikan dampak positif dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke GWK dalam jangka panjang. Apalagi, pengelola memang terus melakukan pembenahan. ”Dari dalam patung GWK, kini wisatawan dimanjakan dengan berbagai pengalaman berbeda. Mulai dari lantai dasar patung hingga di puncak lantai 23. Tujuannya, agar GWK bisa memberikan kesan memorable bagi wisatawan,” ungkapnya.
Seiring pelaksanaan KTT G20, GWK menutup lokasi dari kunjungan wisatawan selama empat hari, yakni terhitung sejak 12 hingga 15 November 2022. Dan, selama empat hari itu pula, sebagian karyawan GWK diliburkan. (*/c9/ttg/jpg)


