Monday, 20 April, 2026

Kampung Si Ahong Berpredikat Ramah Perempuan dan Anak di Surabaya

Kesan kumuh yang melekat di wilayah pesisir kini terpatahkan dengan adanya Kampung Si Ahong. Tempat yang terletak di Jalan Tanah Merah Utara V itu mengubah stigma masyarakat bahwa di lokasi padat penduduk itu ada kampung yang bersih hingga berpredikat Kampunge Arek Surabaya Ramah Perempuan dan Anak di wilayah Surabaya Utara.

DIAN WAHYU PRATAMA, Surabaya

LINGKUNGAN bersih dan asri, itulah ungkapan pertama yang menggambarkan Kampung Si Ahong. Di setiap rumah selalu dijumpai tanaman hias, tanaman toga, serta satu tanaman wajib yang menjadi ikon wilayah tersebut, yaitu tanaman binahong.

Tagline kampung: Tanam yang kita makan, makan yang kita tanam serasa menggambarkan bagaimana kampung itu sebenarnya.

Perubahan kondisi lingkungan tersebut dimulai sejak 2015 silam. Semua itu berawal dari keinginan warga mengubah kondisi kampung yang awalnya gersang tersebut.

Di sana, perlahan tapi pasti, penghijauan dan penataan kampung mulai digalakkan oleh warga. “Kami lakukan dengan gotong royong,” ungkap Ketua RT 8 Kampung Ahong Lukman Arif.

Nama Kampung Si Ahong berasal dari nama tanaman yang menjadi ikon wilayah tersebut. Yaitu, binahong, akhirnya disingkat warga menjadi ahong. Tanaman tersebut dipilih karena mudah dicari dan manfaatnya begitu banyak. Di antaranya, sebagai antibiotik untuk tubuh supaya terhindar dari penyakit.

Untuk memacu semangat warga Kampung Si Ahong, warga rajin mengikuti perlombaan lingkungan di tingkat kota. Perkembangan penataan kampung semakin pesat dari 2019 hingga sekarang.

Tak hanya berfokus pada penghijauan, mulai 2021 kampung tersebut melakukan gebrakan melalui program pemberdayaan perempuan dan mendukung tumbuh kembang anak-anak sekitar.

Awalnya, untuk mendukung perkembangan anak, di Taman Ahong dibuat sudut baca yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak. Di tempat tersebut tersedia perpustakaan mini yang berisi buku-buku seperti cerpen, fiksi, hingga nonfiksi. “Fasilitas pendukung kami sediakan,” tambah Lukman.

Di tempat tersebut, biasanya anak-anak Kampung Si Ahong belajar bersama. Kegiatan tersebut dilakukan minimal seminggu dua kali, Minggu dimulai pukul 09.00 WIB dan hari biasa dimulai pukul 16.00 WIB. Saat proses belajar, ada tutor dari karang taruna serta ibu-ibu sekitar.

Selain itu, anak juga dilibatkan dalam setiap kegiatan Kampung Si Ahong. Dengan demikian, anak dapat belajar berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman sebaya, bahkan warga sekitar.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk meminimalkan anak agar tidak selalu bermain gadget. “Di wilayah ini ada 40 anak,” papar Lukman.

Lebih lanjut, ada berbagai macam kegiatan yang dilakukan dalam bidang pemberdayaan perempuan. Misalnya, keberadaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut yang dimotori oleh ibu-ibu rumah tangga. UMKM tersebut lebih berfokus pada produk hasil olahan tanaman binahong.

Tanaman binahong tersebut diolah menjadi beberapa produk. Misalnya, mi, teh binahong, puding, serta keripik binahong. Sementara ini, pembuatan produk tersebut masih berdasar pesanan pembeli. Rata-rata omzet yang dihasilkan setiap bulan berkisar Rp 2,5 juta-Rp 3 juta.

“Dari hasil keuntungan tersebut sebagian dibagi ke anggota, sisanya digunakan untuk modal,” ungkap Ketua PKK RW 9 Dwi Hartati.

Bukan hanya aktif di UMKM, ibu-ibu di Kampung Si Ahong juga punya agenda rutin setiap Sabtu sore, yaitu berdiskusi bersama di taman. Pembahasannya bukan mengenai gosip terkini, melainkan antaribu berbagi resep masakan.

Tak jarang, bahkan ada yang membawa hasil olahan resepnya untuk dicicipi. Selain itu, mereka juga sering kali berdiskusi terkait cara merawat anak dengan baik. (*/c6/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru