Monday, 22 June, 2026

Punya Rumah Baru, Tapi Tak Ada Isinya

Di Kajar Kuning yang berjarak 12 kilometer dari puncak Semeru, rumah-rumah warga dan seisinya remuk. Sawah dan ladang juga tertutup abu tebal. Erupsi tahun lalu sebenarnya sudah membuat mereka trauma, tapi lapar mengalahkan rasa takut.

EDI SUSILOLumajang

TATAPAN Solihan kosong. Di hadapannya, puluhan tetangga berpeluh keringat mengangkat kasur, meja, kompor, dan dandang.

Rumahnya pada Minggu (4/12) petang ambles saat ditinggal mengungsi pada pagi harinya ke huntap (hunian tetap) di Desa Sumbermujur, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Sejatinya, bapak satu anak itu pada Selasa (6/12) ingin kembali ke tempat tinggalnya untuk menengok kondisi. Sambil bersiap mengepak perabot untuk diboyong ke huntap yang baru saja dia terima kuncinya pada Sabtu (3/12).

“Tapi, apa yang mau diboyong, semuanya sudah habis,” ucap pria 31 tahun itu. Tinggal baju penuh cemong abu yang dia pakai di badan. Rumahnya yang terendam lumpur hanya tersisa atapnya.

Perasaan Solihan campur aduk. Senang karena setelah menunggu hampir setahun akhirnya mendapat huntap. Tapi, dia juga kalut lantaran kampung halamannya di Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, ludes dilalap awan panas guguran (APG) pada Minggu lalu.

“Punya rumah baru, tapi tidak ada isinya,” ujar lelaki yang bekerja sebagai buruh tani itu, sembari menggandeng sang istri, Luluk (24), dan buah hatinya, Bisma (5). Mereka menunggu jemputan untuk mengangkut warga kembali ke huntap.

Sinah tak kalah kalut. Warga Kajar Kuning itu menangis di tepi jalan. Jidat dan tangannya dipenuhi abu. Dia baru saja mencomot panci, kompor, dan magic jar miliknya yang masih bisa diselamatkan dari puing rumah. Yang kemarin siang sudah separo terendam abu.

Minggu sekitar pukul 05.00 WIB, dia bersama dua anaknya mengungsi ke Desa Penanggal. Berjarak 6 km dari kampungnya, dia tinggal di pengungsian semalam.

Paginya, sekembalinya ke Kajar Kuning, perempuan 44 tahun itu mendapati kampung yang mulai bangkit dari letusan Semeru pada 4 Desember tahun lalu tersebut kembali remuk. Jembatan penghubung desa dipenuhi abu setinggi 1 meter. Rumah-rumah penduduk sebagian ambruk dan sisanya yang masih tegak dipenuhi abu.

Meski sudah mendapat huntap beberapa bulan lalu, sehari-hari Sinah lebih memilih tinggal di desanya untuk mengurus separo sawah. Sementara itu, separo lainnya tak bisa ditanami sejak Semeru ”batuk” akhir tahun lalu. “Mau kerja apa, cari makannya ya di sini,” kata ibu tiga anak itu kemarin.

Kini, yang tersisa separo itu pun sudah tidak ada. Setelah menengok rumahnya yang roboh, dia mendapati sawah yang dia garap juga tak bisa ditanami lagi. Abu tebal Semeru ikut menutupi lahan penghidupannya itu.

Rencananya, huntap bakal dihuni 1.951 KK (kepala keluarga). Sejauh ini, ada 1.171 KK yang sudah mendapat tempat di sana. Mereka berasal dari berbagai desa di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo di Lumajang, yang paling parah terdampak erupsi 4 Desember tahun lalu.

Di huntap itu pula Udin tinggal. Selasa (6/12) siang, bersama cucu pertamanya, Jacky, dia duduk santai di pojok arena bermain di kompleks huntap. Dia baru saja menengok rumahnya di Kajar Kuning. “Sudah terendam lumpur. Nggak bisa dihuni lagi. Tinggal di sini (huntap) saja lah,” ungkapnya.

Sejak lima bulan lalu, setelah hampir tujuh bulan menganggur, Udin nekat kembali menggarap sawahnya di Kajar Kuning. Awalnya dia takut kembali, tapi badannya terasa kaku jika tak menggarap ladang tebu dan padi miliknya. Akhirnya dia memberanikan diri berangkat ke sawah. Berangkat pukul 07.00 WIB, pulang ke huntap pukul 12.00 WIB.

Namun, setelah insiden APG Minggu lalu, dia mengaku kapok kembali ke kampungnya. Selain lahan tebu dan padi yang rusak, ada hal lain yang membuatnya ketir-ketir: peta jalur lahar yang berbeda dari sebelumnya.

Kini, dari mulut Semeru, jalur lahar mengarah lurus ke desanya. Otomatis jika ada bencana lagi, risiko tinggal di Kajar Kuning makin tinggi. “Kalaupun ada yang nawari dibangun rumah mewah, akan saya tolak. Nggak berani, kapok,” tuturnya.

Nun di Kajar Kuning, sanak saudara dan para tetangga yang rumahnya masih aman saling membantu warga terdampak. Beberapa ibu berlarian tergopoh karena panik melihat kepulan asap yang membubung dari sungai yang dialiri lahar dingin.

Kesibukan warga mengemasi perkakas, menggeret ternak, dan memboyong apa saja yang masih bisa diselamatkan sejak kemarin menjadi bukti ucapan Udin. Penduduk Kajar Kuning benar-benar kapok untuk kembali ke kampung mereka yang berstatus zona merah dan berjarak 12 km dari puncak itu. Kecuali jika perut lapar sudah tidak bisa disumpal dengan rasa takut. (*/c18/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru