TARAKAN – Delapan siswa di SDN Utama I Tarakan dipastikan terpapar Covid-19 sejak Kamis (17/2). Hal itupun berdampak terhadap seluruh sekolah yang langsung ditutup dan kegiatan belajar mengajar (KBM) dilanjutkan melalui dalam jaringan (daring).
Kepala SDN Utama I Tarakan Aripin Said menjelaskan, memberlakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 50 persen dengan sehari sekolah dan sehari Belajar Dari Rumah (BDR). Siswa yang dinyatakan positif ini merupakan siswa sesi 1 Kelas 3d, awalnya masih sekolah di hari Senin lalu (14/2).
Selanjutnya para Rabu (16/2) menyampaikan izin tidak masuk sekolah. Karena hasil tes antigen mandiri dinyatakan positif Covid-19.
“Hasil tes antigen kedua dari fasilitas kesehatan (faskes) juga positif. Karena memang ibu anak ini positif duluan minggu lalu. Pertama anaknya yang umur 2 tahun demam, ternyata positif. Terus siswa kami ini mengeluh sakit tenggorokan dan dirapid ternyata positif,” terangnya, Jumat (18/2).
Setelah dilaporkan ke Satgas Covid-19, disarankan untuk dilakukan tracing dari Puskesmas Karang Rejo. Dari 12 anak yang di tracing pada satu sesi di Kelas 3d tersebut ternyata 8 orang positif Covid-19. Dengan hasil tersebut, dilaporkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan dan akhirnya sekolah diminta BDR sejak 18 Februari-3 Maret untuk semua kelas.
Jika ada tenaga pendidik yang mengalami demam dan batuk diminta untuk segera konsultasi ke Dinkes. Namun, ia memastikan semua tenaga pendidik sudah mendapatkan vaksin lengkap hingga dosis kedua.
“Rata-rata siswa kami ini sudah vaksin. Tapi, saya belum pastikan, anak yang positif ini sudah vaksin atau belum. Tapi, keterangan dari orang tuanya delapan siswa yang positif dari hasil tracing tidak ada gejala. Setelah pagi hasil pemeriksaan positif di Dinkes, sorenya orang tua tes lagi di faskes lain hasilnya negatif,” jelasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan Eny Suryani menambahkan, sudah berkoordinasi dengan Dinkes untuk melakukan tracing. Setelah mendapatkan laporan dari Kepala SDN Utama 1.
“Tes antigen siswa yang terpapar Covid pertama itu 64 persen kadar positifnya, dari hasil tes Puskesmas. Batas toleransi positif dari Dinkes, 50 persen. Hindari lebih banyak lagi, jadi diliburkan sementara,” tegasnya.
Hingga saat ini pihaknya baru menerima laporan ada siswa yang terpapar Covid-19 di SDN Utama 1. Sejak PTM mulai dilakukan kembali awal Februari. Namun, ia menambahkan sudah ada surat edaran dari Wali Kota Tarakan, terkait penetapan PPKM Level 2. Pelaksanaan PTM bisa dilakukan 50 persen tergantung dari kebijakan orang tua siswa.
“Kami sudah mengingatkan pihak sekolah, walaupun tidak diperiksa. Tapi kalau bergejala batuk atau pilek, boleh tidak sekolah,” ujarnya.
Di Universitas Borneo Tarakan (UBT) juga didapati 6 orang staf terpapar Covid-19. Rektor UBT Adri Patton saat dikonfirmasi membenarkan dan langsung meminta untuk dilakukan tracing. Namun hasilnya hanya 6 orang dan belum menyebar ke staf lainnya.
“Kami kembali berkoordinasi, rencana persiapan tatap muka yang harusnya sudah mendekati 100 persen tertunda lagi. Padahal sebelum ini, kami sudah tatap muka bahkan sampai 75 persen. Di kampus mulai ramai mahasiswa sekitar sebulan,” jelasnya.
Setelah ada yang terpapar Covid-19, pihaknya kembali memberlakukan daring dan luring. Namun, ia berharap perkuliahan tatap muka bisa segera dilakukan. Hanya saja, pihaknya melihat adanya peningkatan kasus di Tarakan hingga harus diambil kebijakan kembali.
“Harapan saya semuanya sudah kembali baik dan bersyukur setelah positif itu, sekarang sudah ada yang negatif. Saya mau melihat dulu seminggu ke depan, baru diputuskan. Supaya pelayanan publik dari Universitas dan Fakultas bisa berjalan normal,” harapnya.
Di KTT, dalam beberapa hari terakhir, sekitar lima OPD yang pegawainya terdeteksi terkonfirmasi positif. Namun, diminta untuk melakukan tracing, sebagian orang menolak dengan alasan yang tidak jelas. Dengan penolakan tersebut, menyulitkan para nakes mendeteksi jumlah kasus dan cara penanganan.
Berdasarkan data sebaran Covid-19 per Jumat (18/2), jumlah 53 kasus. Jumlah ini naik dari yang sebelumnya. Sesuai data pada Senin (14/2) lalu, angkanya masih 27 kasus.
Dari jumlah ini, sebagian proses pemulihan dan karantina mandiri. Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Kesehatan KTT Mohamad Sarif melalui Kabid Pencegahan Pengendian Penyakit Hanna Juniar mengharapkan OPD untuk melapoorkan segera, bagi yang terkonfirmasi atau membuka diri untuk diperiksa.
“Karena beberapa OPD di sini, ada yang enggan untuk diperiksa,” keluhnya.
Bila ada yang terkonfirmasi positif, tapi tidak mau diperiksa. Dikhawatirkan akan terjadi penularan yang luas. (kn-2)


