Memulai lewat jasa instalasi hidroponik, Ari Yanto kini bisa membantu sesama petani mendapatkan harga lebih baik untuk produk pertanian mereka. Sukses membudidayakan melon, Fahid Nurarrosyid sekarang fokus membagi ilmu melalui teknologi internet of things.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
SEJAK di bangku SMP, Ari Yanto sudah memikirkan betul bidang usaha apa yang memiliki prospek bagus di tengah persaingan kerja yang semakin ketat. Hasil riset kecil-kecilannya tertuju pada pertanian.
“Pertanian itu bisnis yang tidak ada matinya, selalu berkelanjutan. Selama kita masih makan produk pangan dan hasil bumi, pertanian akan senantiasa dibutuhkan,” ujar Gareng, sapaan akrabnya, ketika dihubungi Jawa Pos pada Minggu (25/12).
Pemuda asal Pangandaran, Jawa Barat, itu pun membulatkan tekadnya dengan masuk SMK Pertanian. Hingga berlanjut ke Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor. Tapi, toh tetap saja banyak kawan Gareng hingga guru sekolahnya yang mempertanyakan keputusannya itu.
“Mereka selalu bilang ngapain sekolah pertanian. Tinggal belajar sama petani, ikut nyangkul, ikut jadi buruh. Nyangkul kok sekolah,” tuturnya.
Namun, pemuda 23 tahun itu sangat yakin dengan pilihannya. Dia menunjukkan keseriusannya belajar pertanian. Di bangku kuliah, Gareng mulai mengambil langkah yang kelak membawanya menjadi petani sekaligus wirausahawan muda.
“Saya dari keluarga yang kurang secara ekonomi. Sempat kerja jadi driver ojek online, tapi fisik tidak kuat. Terus saya mikir, apa usaha di bidang smart farming aja, ya,” lanjut Gareng.
Pilihannya jatuh pada hidroponik. Lantas, Gareng mengutarakan niatnya itu kepada salah satu dosen. “Pada 2018, saya open jasa pembuatan instalasi hidroponik. Kata dosen saya, itu bagus,” katanya.
Di awal memulai usaha, dia langsung mendapat 17 pesanan. Berbekal modal uang Rp 64 ribu, Gareng mendapat keuntungan hingga jutaan rupiah. Usahanya berkembang pesat.
Dia bahkan diminta mewakili Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pusat dalam peringatan Hari Pangan Sedunia pada 2–5 November 2019 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dari berbagai project itu pula Gareng melebarkan jaringannya.
Begitu lulus kuliah, dia langsung menuju Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sejak kali pertama menginjakkan kaki di sana pada 2013, Gareng melihat potensi pertanian yang bagus. Di Lembang, dia sempat bekerja di sebuah online groceries sebelum mulai bertani. Berkat pekerjaan itu pula, dia mengenal banyak petani setempat hingga orang-orang yang menduduki posisi penting.
“Saya berhenti bekerja untuk melanjutkan usaha sebelumnya. Kali ini dengan bidang bisnis yang lebih lebar, yakni supply and demand produk pertanian,” ungkap pemuda yang ditunjuk Kementerian Pertanian jadi Duta Petani Milenial itu.
Tentu orang tuanya menyayangkan keputusan itu. Ibu bapaknya lebih senang Gareng menjadi PNS atau karyawan daripada berwirausaha dengan risiko jatuh yang besar. Apalagi bertani. “Sekarang sudah tidak pernah berkomentar lagi. Paling hanya mengingatkan untuk senantiasa bersabar ketika terjadi musibah,” ujarnya.
Memang betul, usahanya sempat terjungkal dan rugi besar. Saat itulah dia bangkit dan memutuskan untuk turun menggarap lahan. Dengan sisa tabungan yang ada, dia menyewa lahan seluas 4.000 m² untuk ditanami brokoli.
“Yang nanam sendiri brokoli dan tomat, lainnya saya memprogramkan ke petani. Ada sekitar 20 petani binaan saya untuk kebutuhan produk seperti kembang kol, brokoli, tomat,” jelas founder hi.garden itu.
Gareng membentuk simbiosis mutualisme dengan para petani lain. Untuk membantu mendorong hasil pertanian mereka masuk pasar dengan harga lebih tinggi dan keuntungan yang lebih banyak.
“Saya banyak belajar dari lapangan. Dari para petani itu langsung dan ilmu yang saya tuntut di sekolah serta bangku kuliah,” imbuhnya.
Maklum, Gareng bukan berasal dari keluarga dengan background bertani. Lain halnya dengan Fahid Nurarrosyid. Petani melon asal Gunungkidul, Jogjakarta, itu sudah memiliki darah keturunan petani. Sejak kecil dia sudah biasa membantu kedua orang tuanya bertani.
“Tapi, justru orang tua awalnya agak sulit menerima keputusan saya resign dan memilih bertani. Mungkin mereka belum bisa memahami tujuan saya bekerja selain mencari uang,” ungkapnya.
Pada akhirnya, kedua orang tua Fahid memercayakan lahan seluas 500 meter persegi untuk dia garap. Sebelumnya, selepas lulus SMK, Fahid sempat merantau ke ibu kota. Lambat laun, dia merasa cemas dan gelisah berada jauh dari orang tua. Pemuda 24 tahun itu pun mencari-cari usaha yang sekiranya bisa dia kerjakan tanpa meninggalkan bapak dan ibu.
Awalnya, dia memilih beternak. Kemudian, di sisa lahan dia melakukan budi daya sayuran karena mudah dan waktunya bisa dibagi dengan beternak.
“Eh kok malah profitnya cepat yang pertanian. Dari situ saya mulai fokus ke pertanian,” ungkapnya kepada Jawa Pos Senin (26/12) lalu.
Fahid mulai menganalisis komoditas yang cocok ditanam dengan profit jangka panjang yang bagus. Hasilnya, buah. Sebab, masih sangat minim petani buah di daerahnya. Dia menjatuhkan pilihan pada buah melon.
Melon, jelas pendiri MasTani Farm itu, budi dayanya cenderung sulit. Buntutnya, tidak banyak petani yang mau menanam. Di sekitar Gunungkidul petani melon sangat sedikit.
Sentuhan tangan dinginnya kerap berbuah manis. Empat tahun bertani melon, jarang sekali dia mengalami gagal panen. Fahid banyak belajar dari berbagai sumber.
Saat ini dia juga tengah fokus memberikan pelatihan menanam buah melon dengan teknologi internet of things (IOT) kepada para santri di Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad, Wonosari. “Selama kita mau belajar dan berpikiran terbuka, tidak ada yang namanya kendala,” tutur pemuda yang mendapat penghargaan petani berprestasi itu.
Tidak banyak anak muda yang menganggap petani sebagai pekerjaan bergengsi. Baik Gareng maupun Fahid berharap kelak generasi muda tidak lagi memandang remeh petani.
Selama sektor pertanian masih dipandang rendah, terutama oleh generasi muda, itu bisa jadi bumerang bagi ketahanan pangan di Indonesia mendatang. “Ke depannya saya ingin lebih bermanfaat bagi sekitar. Berbagi ilmu bertani yang tidak sekadar bertani, tapi disertai analisis agar hasilnya lebih baik,” kata Fahid. (*/c6/ttg/jpg)


